Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
BERWISATA menikmati keindahan alam merupakan hal yang biasa bagi wisatawan. Berwisata sambil menikmati kuliner di destinasi wisata juga sesuatu yang lumrah. Namun apa jadinya, jika orang berwisata seraya berderma kepada orang lain di satu destinasi?
Voluntourism menawarkan sesuatu yang berbeda. Merupakan bentuk perjalanan di mana seseorang melakukan kegiatan sukarela atau kerja sosial sambil berwisata. Biasanya, orang yang terlibat dalam voluntourism akan melakukan pekerjaan sukarela di lokasi tertentu, seperti membantu proyek-proyek komunitas atau lingkungan, sambil menikmati pengalaman wisata di daerah tersebut.
Berasal dari gabungan kata volunteer (relawan) dan tourism (pariwisata), voluntourism dilakukan oleh orang-orang yang tidak sekadar mengejar motif berwisata, namun lebih pada upaya berderma. Baik dalam bentuk kegiatan yang bernilai ekonomis maupun sosial budaya.
Negara-negara di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara acapkali menjadi tujuan wisata relawan ini. Organisasi Voluntary Service Overseas melakukan voluntourism di Ghana dan Tanzania. Mereka terlibat dalam mengajar di sekolah-sekolah atau mendukung program pendidikan anak-anak.
Program-program wisata relawan ada yang fokus pada pelestarian lingkungan, seperti perlindungan hutan atau konservasi satwa liar di negara-negara seperti Costa Rica atau Peru. Relawan membantu dalam penelitian, pemantauan, dan pelestarian habitat alami serta spesies yang terancam punah.
Bukan hanya di negara-negara berkembang, voluntourism juga dilakukan wisatawan di negara-negara maju. Wisatawan relawan berderma di Amerika Serikat membantu tunawisma, seperti memberikan makanan, tempat tinggal sementara, atau dukungan sosial.
Wisatawan relawan memang banyak melakukan kegiatan yang berorientasi pada konservasi lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan dukungan sosial. Biasanya kegiatan dilakukan sesuai dengan karakteristik dan permasalahan yang dihadapi suatu destinasi. Wisatawan di Jepang misalnya, mendukung komunitas dalam pemulihan pasca-bencana dan memperkuat kegiatan budaya serta sosial.
Keuntungan
Voluntourism menawarkan sejumlah keuntungan unik bagi wisatawan dibandingkan dengan jenis perjalanan wisata lainnya. Banyak wisatawan merasa, bahwa terlibat dalam kegiatan sukarela memberikan rasa kepuasan dan makna yang lebih dalam dibandingkan dengan hanya menikmati liburan.
Selain berderma di destinasi wisata, orang akan mendapat keterampilan berkomunikasi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Wisatawan mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang budaya lokal secara lebih mendalam dan autentik, seringkali melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Melalui wisata relawan ini, wisatawan dapat memberi kontribusi nyata bagi orang lain dalam bentuk gerakan pendidikan, kesadaran lingkungan, dan kesehatan. Keuntungan bagi masyarakat di destinasi adalah peningkatan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Voluntourism akan menguntungkan wisatawan dalam membentuk perspektif global dan jaringan sosial. Pada saat melakukan kerja sosial di destinasi, wisatawan akan memperoleh perspektif baru tentang masyarakat dari berbagai negara sambil menumbuhkan jejaring sosial dengan sesama relawan.
Dalam perspektif pariwisata, voluntourism memainkan peran penting dalam memahami bagaimana kegiatan sukarela terintegrasi dengan pengalaman wisata. Voluntourism menggabungkan unsur pariwisata dan sukarela. Relawan tidak hanya terlibat dalam kegiatan sosial atau kemanusiaan tetapi juga menikmati waktu luang untuk berwisata.
Kritik dan Tantangan
Meski memberi manfaat nyata bagi masyarakat, voluntourism tak terlepas dari kritik dan tantangan. Kritik datang terkait dengan kapasitas wisatawan yang melakukan kerja sosial. Semangat berderma di destinasi wisata tidak dibarengi dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai terkait program yang dijalankan.
Kritik sekaligus tantangan berkaitan pula dengan keberlanjutan kegiatan sosial wisatawan. Proyek konservasi lingkungan misalnya, dapat mengalami masalah dengan keberlanjutan atau dampak yang tidak diinginkan pada ekosistem lokal jika tidak dikelola dengan baik.
Aksi sosial wisatawan tidak secara instan akan mendatangkan hasil. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri. Masalah tunawisma di negara maju seringkali sangat kompleks dan memerlukan solusi jangka panjang yang tidak selalu dapat dicapai hanya dengan bantuan sukarela.
Isu lingkungan yang menjadi target wisata relawan juga penuh tantangan. Persoalan lingkungan bukan hal yang sederhana. Masalah lingkungan seringkali memerlukan kebijakan yang lebih luas dan keterlibatan pemerintah setempat untuk mencapai dampak yang diharapkan.
Oleh karena itulah, proyek-proyek voluntourism harus dipastikan keberlanjutannya. Kerja sama dengan komunitas lokal serta pemerintah setempat perlu dilakukan. Sehingga ketika ditinggalkan wisatawan proyek itu tetap dilanjutkan oleh masayarakat. Selain itu, kerja sama dengan pemangku kepentingan di destinasi menjadi penting untuk menghindari ketergantungan masyarakat pada bantuan wisatawan.
Berwisata seraya berderma tentu merupakan sesuatu yang mulia. Hanya saja, faktor etika menjadi penting. Jangan sampai aktivitas sosial wisatawan dikalahkan oleh kegiatan berwisata yang berlebihan. [T]
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...