BERWISATA menikmati keindahan alam merupakan hal yang biasa bagi wisatawan. Berwisata sambil menikmati kuliner di destinasi wisata juga sesuatu yang lumrah. Namun apa jadinya, jika orang berwisata seraya berderma kepada orang lain di satu destinasi?
Voluntourism menawarkan sesuatu yang berbeda. Merupakan bentuk perjalanan di mana seseorang melakukan kegiatan sukarela atau kerja sosial sambil berwisata. Biasanya, orang yang terlibat dalam voluntourism akan melakukan pekerjaan sukarela di lokasi tertentu, seperti membantu proyek-proyek komunitas atau lingkungan, sambil menikmati pengalaman wisata di daerah tersebut.
Berasal dari gabungan kata volunteer (relawan) dan tourism (pariwisata), voluntourism dilakukan oleh orang-orang yang tidak sekadar mengejar motif berwisata, namun lebih pada upaya berderma. Baik dalam bentuk kegiatan yang bernilai ekonomis maupun sosial budaya.
Negara-negara di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara acapkali menjadi tujuan wisata relawan ini. Organisasi Voluntary Service Overseas melakukan voluntourism di Ghana dan Tanzania. Mereka terlibat dalam mengajar di sekolah-sekolah atau mendukung program pendidikan anak-anak.
Program-program wisata relawan ada yang fokus pada pelestarian lingkungan, seperti perlindungan hutan atau konservasi satwa liar di negara-negara seperti Costa Rica atau Peru. Relawan membantu dalam penelitian, pemantauan, dan pelestarian habitat alami serta spesies yang terancam punah.
Bukan hanya di negara-negara berkembang, voluntourism juga dilakukan wisatawan di negara-negara maju. Wisatawan relawan berderma di Amerika Serikat membantu tunawisma, seperti memberikan makanan, tempat tinggal sementara, atau dukungan sosial.
Wisatawan relawan memang banyak melakukan kegiatan yang berorientasi pada konservasi lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan dukungan sosial. Biasanya kegiatan dilakukan sesuai dengan karakteristik dan permasalahan yang dihadapi suatu destinasi. Wisatawan di Jepang misalnya, mendukung komunitas dalam pemulihan pasca-bencana dan memperkuat kegiatan budaya serta sosial.
Keuntungan
Voluntourism menawarkan sejumlah keuntungan unik bagi wisatawan dibandingkan dengan jenis perjalanan wisata lainnya. Banyak wisatawan merasa, bahwa terlibat dalam kegiatan sukarela memberikan rasa kepuasan dan makna yang lebih dalam dibandingkan dengan hanya menikmati liburan.
Selain berderma di destinasi wisata, orang akan mendapat keterampilan berkomunikasi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Wisatawan mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang budaya lokal secara lebih mendalam dan autentik, seringkali melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
Melalui wisata relawan ini, wisatawan dapat memberi kontribusi nyata bagi orang lain dalam bentuk gerakan pendidikan, kesadaran lingkungan, dan kesehatan. Keuntungan bagi masyarakat di destinasi adalah peningkatan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Voluntourism akan menguntungkan wisatawan dalam membentuk perspektif global dan jaringan sosial. Pada saat melakukan kerja sosial di destinasi, wisatawan akan memperoleh perspektif baru tentang masyarakat dari berbagai negara sambil menumbuhkan jejaring sosial dengan sesama relawan.
Dalam perspektif pariwisata, voluntourism memainkan peran penting dalam memahami bagaimana kegiatan sukarela terintegrasi dengan pengalaman wisata. Voluntourism menggabungkan unsur pariwisata dan sukarela. Relawan tidak hanya terlibat dalam kegiatan sosial atau kemanusiaan tetapi juga menikmati waktu luang untuk berwisata.
Kritik dan Tantangan
Meski memberi manfaat nyata bagi masyarakat, voluntourism tak terlepas dari kritik dan tantangan. Kritik datang terkait dengan kapasitas wisatawan yang melakukan kerja sosial. Semangat berderma di destinasi wisata tidak dibarengi dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai terkait program yang dijalankan.
Kritik sekaligus tantangan berkaitan pula dengan keberlanjutan kegiatan sosial wisatawan. Proyek konservasi lingkungan misalnya, dapat mengalami masalah dengan keberlanjutan atau dampak yang tidak diinginkan pada ekosistem lokal jika tidak dikelola dengan baik.
Aksi sosial wisatawan tidak secara instan akan mendatangkan hasil. Hal ini akan menjadi tantangan tersendiri. Masalah tunawisma di negara maju seringkali sangat kompleks dan memerlukan solusi jangka panjang yang tidak selalu dapat dicapai hanya dengan bantuan sukarela.
Isu lingkungan yang menjadi target wisata relawan juga penuh tantangan. Persoalan lingkungan bukan hal yang sederhana. Masalah lingkungan seringkali memerlukan kebijakan yang lebih luas dan keterlibatan pemerintah setempat untuk mencapai dampak yang diharapkan.
Oleh karena itulah, proyek-proyek voluntourism harus dipastikan keberlanjutannya. Kerja sama dengan komunitas lokal serta pemerintah setempat perlu dilakukan. Sehingga ketika ditinggalkan wisatawan proyek itu tetap dilanjutkan oleh masayarakat. Selain itu, kerja sama dengan pemangku kepentingan di destinasi menjadi penting untuk menghindari ketergantungan masyarakat pada bantuan wisatawan.
Berwisata seraya berderma tentu merupakan sesuatu yang mulia. Hanya saja, faktor etika menjadi penting. Jangan sampai aktivitas sosial wisatawan dikalahkan oleh kegiatan berwisata yang berlebihan. [T]
SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Ketu...
DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bal...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Sin...
PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ket...
“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya.
Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru saja pulang kerja mendapat pesan Instagram dari t...
PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagai...
TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penuli...
LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak ha...
BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade) Busana Adat pada Pesta Kesenian Bal...
Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman
TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai In...