Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
INI pertunjukan seni modern, tetapi konsep dan beberapa unsur dalam pertunjukan tersebut seperti menggunakan sistem kesenian tradisional tempo dulu. Mereka tak menggunakan naskah, namun itu dibicarakan sebelum pentas. Mereka membagi diri, baik itu tentang peran, tugas dan lainnya sesuai dengan pengalaman dan kenangan yang pernah dirasakannya.
Itulah pementasan teater bertajuk “Tribute to Cok Sawitri” dalam Singaraja Literary Festival 2024 di halaman Gedong Kirtya Buleleng, Sabtu (24/8/2024). Pentas seni itu tak hanya menampilkan pertunjukan teater---kalau boleh dibilang begitu---secara utuh, tetapi juga dipadu dengan diskusi panel yang membicarakan perjalanan penyair dan sastrawan alm. Cok Sawitri, dari proses kreatif hingga kepulangannya ke alam nirwana.


Gus Sena dan Thaly Kasih dalam Tribute to Cok Sawitri di SLF 2024 | Foto: SLF/Amri
Garapan seni ini menampilkan Ayu Laksmi, Tini Wahyuni, Ida Ayu Wayan Arya Satyani (Dayu Ani), serta dua penari dan artis film layar lebar, Gus Sena dan Thaly Kasih. Mesti tanpa latihan secara serius, masing-masing pemain mampu mengekpresikan tema yang diberikan oleh panitia. Hal itu tentu tak masalah, karena masing-masing pemain memiliki segudang pengalaman di atas panggung.
Gus Sena dan Thaly Kasih menari lincah tanpa beban. Mereka menari dan sesekali manembang sehingga menciptakan suasana lebih khusuk. Thaly yang memang penyanyi dan pemain teater lebih banyak menari dan matembang daripada Gus Sena. Jenis tembang bukan pupuh ataupun kidung, melainkan sesanghyangan yang mampu menciptakan suasana menjadi magis dan penuh makna.
Kedua penari muda itu menari dengan perasaan senang, seperti dua sejoli yang bahagia. Terkadang bergerak bersama-sama, lalu menari secara bebas kemudian saling mengisi dengan pola lantai yang sangat rapi. Musik iringannya spontanitas, namun kreatif yang mengidupkan setiap gerak itu. Lalu, diujung tembang itu, Thaly menari ke panggung lalu direspon Ayu Laksmi.
Ayu Laksmi yang memang seorang penyanyi ternama, kemudian menampilkan lagu-lagu sambil memainkan penting (alat musik tradisional Karangasem, Bali). Lagu-lagu itu tidak dibawakan seperti ceclantungan, memanfaatkan melodi yang sudah ada lalu dipadu dengan kata-kata yang lahir secara spontanitas.

Ida Ayu Wayan Arya Satyani (Dayu Ani) dalam Tribute to Cok Sawitri di SLF 2024 | Foto: SLF/Amri
Dayu Ani yang membuat konsep pertunjukan itu sedikit menari, namun mampu menghidupkan suasana pentas. Meski memiliki banyak kenangan dengan Cok Sawitri, namun Dayu Ani tampaknya lebih banyak memberi kesempatan pada Thaly dan Gus Sena, sehingga garapan tersebut didominasi oleh kedua penari muda ini.
Tini Wahyuni juga memainkan alat penting, namun petikannya seperti memainkan gending-gending gamelan angklung (jenis gamelan tradisional) yang lumrah dipakai untuk mengiringi upacara ngaben. Pada sesi berikutnya, Tini bercerita kisah tentang pertemanannya dengan Cok Sawitri. Termasuk penggalan-penggalan kalimat yang kemudian menjadi sebuah buku.
Setelah itu, masing-masing pemain mengungkapkan kenanngannya bersama Cok Sawitri. Pentas teater Tribute to Cok Sawitri kemudian memberikan kesempatan kepada penonton untuk menyampaikan kenangan dan pengalaman bersama Cok Sawitri. Baik itu kenangangan yang menarik ataupun yang menyedihkan. Dayu Ani bahkan tak kuat menahan air mata saat berkisah.
Penonton turut berbagai kenangan pada kesempatan itu. Berbagi kenangan itu diawali dari Kadek Sonia Piscayanti, penggagas Singaraja Literary Festival. Lalu Sani (pelukis), Redika (pelukis dan pencinta sastra), Oka Rusmini (panyair dan sastrawan), dan Ayu Weda yang menceritakan pertemannya dengan Cok Sawatri yang begitu akrab.


Tini Wahyuni dan Ayu Laksmi dalam Tribute to Cok Sawitri di SLF 2024 | Foto: SLF/Amri
“Konsep garapan ini adalah refleksi sebenarnya. Kami bertiga masing-masing mengenang dan memaknai kedekatan kami dengan Cok Sawitri. Termasuk, apa yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Ini refleksi awal, yang masing-masing mempunyai kisah,” papar Dayu Ani usai pementasan.
Kebetulan pula, Sonia memilih Jirah untuk Tribute to Cok Sawitri. Mulai dari Jirah, masing-masing pemain kemudian membawakan kenangannya bersama Cok Sawitri. Pengalaman dari masing-masing pemain kemudian diramu dalam kisah Jirah karya Cok Sawitri. “Ini sesungguhnya tentang generasi keberlanjutan tentang pemikiran-pemikiran Cok Sawitri supaya bertumbuh,” jelasnya.
Lalu, tentang elemen-elemen dari puisi dalam garapan ini diambil dari novelnya Cok Sawitri. Sebut saja kalimat apa yang harus dihindarkan dari hidup itu. “Hal itu, salah satu kalimat yang menyentuh pertama kali saya untuk memandu hidup ini. Apa yang harus dilakukan, yakni harus dihadapi,” ungkapnya.
Lalu, terkait dengan teks-teks yang ada dalam garapan itu, semuanya merupakan peninggalan Cok Sawitri saat menggarap sebuah karya bersama Bhumi Bajra. Sebut saja lagi “kija” yang ditembangkan Thaly. Itu sesungguhnya tentang hidup, akan dibawa kemana air itu mengalir. Termauk pula gending-gending sesanghyangan. “Itu semua jejak-jejak Cok Sawitri yang membekas di kami di Bhumi Bajra,” tegasnya.
Garapan ini bisa jadi sebuah gambaran perjalanan Cok Sawitri melalui karya-karya sastranya yang dipadu dengan gabungan kenangan spesial antara masing-masing pemain dengan Cok Sawitri. “Kenangan itulah dirangkai, sehingga menampilkan spirit Cok Sawitri yang sesungguhnya. Intinya adalah pengetahuannya, bukan personil lagi,” sebut Dayu Ani.

Wulan Dewi Saraswati Tini Wahyuni dan Ayu Laksmi dalam Tribute to Cok Sawitri di SLF 2024 | Foto: SLF/Amri
Sore itu, sahabat-sahabat alm. Cok Sawitri berkumpul untuk berbagi kenangan, membacakan karya-karya sastra, serta membahas pengaruh dan warisan Cok Sawitri terhadap kebudayaan Bali dan Indonesia secara keseluruhan. “Acara ini tidak hanya sekadar penghormatan, tetapi juga pemaknaan atas kekayaan budaya dan intelektual yang telah beliau wariskan,” kata Wulan Dewi Saraswati yang memandu diskusi itu.
Dengan mengangkat tema kebudayaan dan spiritualitas yang sering ditemukan dalam karya Cok Sawitri, "Tribute to Cok Sawitri" menjadi momen refleksi bagi teman-temannya semua untuk mengenang seorang seniman besar yang dedikasinya terhadap kesenian dan budaya Bali akan selalu dikenang, termasuk ide-ide dalam buku warisan Cok Sawitri yang berpengaruh terhadap kebudayaan Bali dan Indonesia secara keseluruhan.
“Tribute to Cok Sawitri” adalah sebuah acara penghormatan untuk mengenang kontribusi besar dari seorang seniman, penulis, dan budayawan Bali, Cok Sawitri. “Acara ini dirancang untuk mengapresiasi perjalanan dan karya-karya Cok Sawitri yang telah memberikan dampak signifikan terhadap dunia sastra dan kebudayaan Bali,” tegas Wulan.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...