PENTAS seni, biasanya diawali dengan latihan untuk menyatukan ide, konsep atau pun hal-hal lain yang mendukung sebuah pementasan. Latihan itu penting agar mengerti apa peran serta tugas yang dilakukan di atas pentas. Latihan berkali-kali dapat meminimalisir kesalahan dalam sebuah pementasan.
Lantas, bagaimana kalau pertunjukan seni itu tanpa diawali latihan? Nah, itu yang menjadi dalam pertunjukan kolaborasi 9 seniman Bali Utara dalam ajang Singaraja Literary Festival 2024 di Sasana Budaya Buleleng, Sabtu, 24 Agustus 2024 malam. Pentas musik dengan durasi waktu sekitar 20 menit itu, memang menyajikan sebuah proses musik.
Suasana penonton di Sasana Budaya saat pementasan Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri
Malam itu Sasana Budaya seperti donat yang dikerumuni banyak semut, begitu ramai. Orang-orang itu, dengan debar masing-masing, menunggu penampilan kolaborasi sembilan seniman, modern dan tradisional, Bali Utara, yang terdiri dari Made Danu Damas Satria, Gede Teguh Rendra, Agus Herman Swihartana Giri (Konot), Made Yogi Sastrawan, I Komang Aristiana Gunawan, Kadek Widiasa, Kadek Wahyudi Prasancika, I Made Tegeh Okta Maheri, dan Susan Tyo Riski. Barangkali hampir semua orang bertanya, karya apa yang hendak dipertontonkan?
Susan Tyo Riski dalam garapan Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri
Lampu sorot meredup saat seniman musik dan vokal berdiri di atas panggung. Sebuah tembang membuka pertunjukan. Seorang perempuan berkebaya hitam, dengan suara panjang dan jernih, menembang dan diiringi suling, gitar, drum yang diketuk sesekali, piano, dan beberapa alat musik modern lainnya. Tembang tersebut disambung dengan lagu “Nyanyian Kecil untuk Sawah” karya Relung Kaca yang dinyanyikan grup band Empat Detik Sebelum Tidur.
Sorak-sorai penonton menambah ramai suasana. Dua orang penari merespon musik dan lagu yang dimainkan di atas panggung. Penari itu, keduanya laki-laki, meliuk-liuk di lantai, di depan panggung. Tampak gerakan-gerakan dalam pertanian, seperti mencangkul dan gerakan-gerakan eksplorasi tubuh lainnya.
“Kami memang menampilkan konsep petunjukan musik jam session. Jadi sebuah proses membuat musik. Semua musisi memainkan elemennya masing-masing tanpa harus berlebihan,” kata koordinator 9 seniman, Aristiana atau yang yang akrab disapa Jack usai pentas.
Jack dan Konotdalam garapan Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri
Saat itu, 9 seniman yang tampil bukan merupakan satu grup musik yang sudah jadi, melainkan diambil secara acak. Artinya, pemain itu bukan berasal dari satu grup, tetapi dicomot-comot untuk mendukung sebuah pertunjukan musik. “Masing-masing dari kami memiliki definisi yang sama di depan panggung,” ucap Jack.
Pementasan itu, menurut Jack, seperti menjadi tantangan buatnya. Ketika ditawari oleh panitia, ia langsung mengiyakan. “Saya ingin sesuatu yang beda. Konsep jam seasons saya mau, karena perlu menunjukan sesuatu yang beda. Menunjukan sebuah proses ketimbang membawakan sesuatu yang sudah fiks atau selesai,” ceritanya polos.
Jack menegaskan, walau menampilkan sebuah proses, tetapi ada satu line atau garis yang mesti diikuti bersama. Lagu-lagu yang ia ditulis atau dibawakan mesti mencerminkan atau sesuai dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini, yaitu “Dharma Pemaculan”---terkait dengan tuntunan para petani dalam mengelola pertanian di Bali.
Meski tanpa didahului dengan latihan, 9 seniman Bali Utara ini mampu memberikan sajian seni musik yang menghibur, bahkan tampil sangat atraktif, sebab dipadukan dengan tarian kontemporer ala I Made Tegeh Okta Maheri, atau akrab dipanggil Dek Geh.
Dek Geh dan Wahyudi saat menari dalam garapan Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri
Alat musik yang dimainkan bukan hanya musik modern, seperti keyboard, drum, gitar, dan lainnya, tetapi juga memadukan dengan alat gamelan tradisional berupa suling dan gangsa. Aksi mereka mampu membakar apresiasi para pengunjung.
Sajian seni kontemporer itu menampilkan konsep jam session. “Kami dari musisi hanya memberikan spice untuk suasana melalui musik keyboard, suling, dan elemen vokal berupa kidung yang direspon penari. Terkadang, kami yang merespon gerak penari,” ujar Jack.
Malam itu, 9 seniman membawakan sebanyak tiga lagu yang masing-masing menawarkan spirit dalam kehidupan. Sebut saja lagu “Sawah”. Lagu ini tepat dan pas sekali dengan tema “Dharma Pemaculan”. “Kami berharap, makna dalam lagu ini bisa sampai kepada penonton,” kata Jack.
Jack lalu menjelaskan, lagu Sawah ini lahir karena sebuah rasa kekhawatiran dirinya terhadap lestarinya sawah. Kenyataan yang dirasakan saat ini, sawah-sawah semakin hilang, bukannya lestari. “Belakangan, orang mengeluh tentang beras yang mahal, bahkan identik dengan kata kelaparan,” ungkapnya.
Lalu, satu lagu yang mengisahkan tentang dua kutub yang tidak pernah terpisahkan. Cinta dan benci tak pernah terpisah yang selalu ada dalam kehidupan. Itu merupakan konsep masyarakat Hindu di Bali yang mengenal warisan budaya berupa “rwa bineda”. Dua hal berbeda yang selalu ada dalam kehidupan manusia.
Kolaborasi 9 Seniman Bali Utara di Singaraja Literary Festival 2024 | Foto: SLF/Amri
Lagu ini tak dirilis secara spesial, tetapi hanya diunggah dalam channel YouTube. Dalam festival ini, lagu itu dimainkan secara live. Kebanyakan lagu sudah ada, tetapi disajikan kembali dengan pemain yang berbeda dan masing-masing memiliki satu kesamaan.
Berikutnya adalah “Frekuensi Cinta”. Lagu ini mengisahkan kekhawatiran terhadap maraknya media sosial. Bahkan, media sosial itu masuk ke banyak lini masyarakat. Sayangnya, kapasitas masyarakat belum terlalu fasih untuk menerima perbedaan, sehingga sering membuat dilema baru.
Melihat komentar-komentar masyarakat yang beragam, seperti belum bisa menerima pikiran semua orang---karena apa yang dia pikirkan terkadang nyeleneh dan tak masuk akal. “Hal itu seperti Kurukshetra dialektika, bergemuruh dengan frekuensi cinta,” papar Jack.
Ketika kita menganggap dialektika itu sebuah peperangan menuju cinta, itu akan biasa saja. Tetapi, dari situ mungkin juga bisa menjadi perang benaran. “Itu pesan lagu merdeka yang ada dalam pidato Bung Karno yang memperkenalkan Pancasila di muka dunia,” tutup Jack bersemangat.[T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...