Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Bila seorang saja yang melihat saya tidur ke arah selatan, saya akan segera ditegur: semestinya kepala berada di arah utara (hulu) dan kaki di selatan (hilir); dari rumah saya, utara adalah arah gunung Batur, dan ketika Jero Penyarikan Duuran Batur, atau Jero Eriadi, atau IK Eriadi, dengan murah hati menawarkan saya untuk mengulas bukunya—yang saya tahu membahas Batur, saya mengiyakan tanpa berpikir panjang: inilah jalan mengenal hulu atau arah kepala saya.
“Ekologisme Batur” ini membuat saya masuk ke dalam bentangan zaman; di mana penulisnya menghadirkan diri dengan cara pikir hari ini untuk membaca masa lalu. Cara pandang inilah yang menjadi pemandu atau jembatan untuk masuk dalam kisah atau pengantar untuk memetik pesan dari zaman yang telah baur.
Membaca esai-esainya membuat kita paham, Jero Eriadi, yang statusnya kini menjadi Jero Penyarikan Duuran Batur, adalah seorang nakal yang bermain-main dengan makna. Sebelumnya, saya memiliki bayangan yang lugu; membayangkan seorang yang tumbuh di lingkungan dengan upacara dan ritual yang berlimpah akan memandang mitos secara ortodoks.
Mitos adalah kebenaran akhir. Tapi, berhubung Eriadi dalam esai yang berjudul “Mayadenawa dan Narasi Air dari Hulu ke Hilir” menyebut, “Apa pun sikap dan sifat Mayadenawa yang dikonstruksi di “permukaan” oleh teks-teks tradisi yang menarasikannya perlu ditunda memaknainya.” dan “…tiada kebenaran yang absolut” membuat saya berpikir ulang dan berkata dalam hati, “sebaiknya anggapan awal itu saya tangguhkan dulu.”
Saya membayangkan bahwa Jero Eriadi sebagai seseorang yang cemas akan dirinya; saya mengandaikan Jero Eriadi menganggap rumah adalah Batur dan Batur adalah dirinya. Ia berusaha mengenali batur sebagaimana seorang anak yang ingin mengenali kumisnya yang mulai tumbuh, jenggot mulai memanjang, dan segala tanda kedewasaan asing ada dalam dirinya dan mulai cerewet dengan berbagai pertanyaan, “dari mana asal segala ini?”
Caranya memajang hasil temuan atas pertanyaan itu mengingatkan saya pada struktur pantun yang disyaratkan memiliki isi dan sampiran, dalam esai Eriadi, struktur pantun itu berevolusi: data dan tafsiran. Struktur ini tidak banyak diterapkan dalam esai-esainya; dominan pada bagian awal—kemudian Jero Eriadi mulai menemukan formulasi yang lebih praktis, yaitu membaurkan temuannya sekaligus data-data.
Akhirnya, “Ekologisme Batur” mengingatkan saya bahwa mitos begitu kental di Batur, bahkan daerah lain di Bali—mungkin seluruh belahan dunia pun demikian. Mitos membentuk pola keseharian dan keseharian membentuk mitos.
Eriadi percaya dengan eksistensi leluhur, dewa-dewa, mitos-mitos, namun ia menjabarkan teks-teks yang membicarakan hal itu untuk mencapai langkah selanjutnya. Ia tidak berhenti, melangkah lebih jauh, tidak mau menjadi seorang naif: dan ia jatuh pada kenaifan kedua. “Kenaifan” yang sesungguhnya tidak naif lagi: memercayai mitos untuk memahaminya secara logis .[T]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...