Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Bila seorang saja yang melihat saya tidur ke arah selatan, saya akan segera ditegur: semestinya kepala berada di arah utara (hulu) dan kaki di selatan (hilir); dari rumah saya, utara adalah arah gunung Batur, dan ketika Jero Penyarikan Duuran Batur, atau Jero Eriadi, atau IK Eriadi, dengan murah hati menawarkan saya untuk mengulas bukunya—yang saya tahu membahas Batur, saya mengiyakan tanpa berpikir panjang: inilah jalan mengenal hulu atau arah kepala saya.
“Ekologisme Batur” ini membuat saya masuk ke dalam bentangan zaman; di mana penulisnya menghadirkan diri dengan cara pikir hari ini untuk membaca masa lalu. Cara pandang inilah yang menjadi pemandu atau jembatan untuk masuk dalam kisah atau pengantar untuk memetik pesan dari zaman yang telah baur.
Membaca esai-esainya membuat kita paham, Jero Eriadi, yang statusnya kini menjadi Jero Penyarikan Duuran Batur, adalah seorang nakal yang bermain-main dengan makna. Sebelumnya, saya memiliki bayangan yang lugu; membayangkan seorang yang tumbuh di lingkungan dengan upacara dan ritual yang berlimpah akan memandang mitos secara ortodoks.
Mitos adalah kebenaran akhir. Tapi, berhubung Eriadi dalam esai yang berjudul “Mayadenawa dan Narasi Air dari Hulu ke Hilir” menyebut, “Apa pun sikap dan sifat Mayadenawa yang dikonstruksi di “permukaan” oleh teks-teks tradisi yang menarasikannya perlu ditunda memaknainya.” dan “…tiada kebenaran yang absolut” membuat saya berpikir ulang dan berkata dalam hati, “sebaiknya anggapan awal itu saya tangguhkan dulu.”
Saya membayangkan bahwa Jero Eriadi sebagai seseorang yang cemas akan dirinya; saya mengandaikan Jero Eriadi menganggap rumah adalah Batur dan Batur adalah dirinya. Ia berusaha mengenali batur sebagaimana seorang anak yang ingin mengenali kumisnya yang mulai tumbuh, jenggot mulai memanjang, dan segala tanda kedewasaan asing ada dalam dirinya dan mulai cerewet dengan berbagai pertanyaan, “dari mana asal segala ini?”
Caranya memajang hasil temuan atas pertanyaan itu mengingatkan saya pada struktur pantun yang disyaratkan memiliki isi dan sampiran, dalam esai Eriadi, struktur pantun itu berevolusi: data dan tafsiran. Struktur ini tidak banyak diterapkan dalam esai-esainya; dominan pada bagian awal—kemudian Jero Eriadi mulai menemukan formulasi yang lebih praktis, yaitu membaurkan temuannya sekaligus data-data.
Akhirnya, “Ekologisme Batur” mengingatkan saya bahwa mitos begitu kental di Batur, bahkan daerah lain di Bali—mungkin seluruh belahan dunia pun demikian. Mitos membentuk pola keseharian dan keseharian membentuk mitos.
Eriadi percaya dengan eksistensi leluhur, dewa-dewa, mitos-mitos, namun ia menjabarkan teks-teks yang membicarakan hal itu untuk mencapai langkah selanjutnya. Ia tidak berhenti, melangkah lebih jauh, tidak mau menjadi seorang naif: dan ia jatuh pada kenaifan kedua. “Kenaifan” yang sesungguhnya tidak naif lagi: memercayai mitos untuk memahaminya secara logis .[T]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...