Puisi-puisi Acep Zamzam Noor | Gua Tempurung
GUA TEMPURUNG Tanganku mengelus getar udara ketika suryaPerlahan-lahan meredup di balik arakan awanMenjelang senja. Kembali aku membayangkanBagaimana sabda-sabdamu menjadi tete...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
GUA TEMPURUNG Tanganku mengelus getar udara ketika suryaPerlahan-lahan meredup di balik arakan awanMenjelang senja. Kembali aku membayangkanBagaimana sabda-sabdamu menjadi tete...
SEBAGAI negara rawan bencana, Indonesia memiliki tingkat kesiapsiagaan yang masih dianggap lemah serta kepedulian terhadap kebencanaan sangatlah rendah. Hal ini yang menyebabkan s...
Bali sering dipasarkan ke dunia sebagai “surga” pulau kecil yang entah bagaimana mampu memuaskan jutaan wisatawan setiap tahunnya. Namun di balik gemerlap itu, suara masyarakat lo...
“Dua serigala terjaga dalam kalut kekhawatiranakan tingkah gembala BELOGyang kian menggiring domba dombaMenuju keterasingan” -- Secarik puisi metafor pembuka Tumpah ruah pem...
KEBAHAGIAAN suatu negara tercermin dari kebahagiaan yang dirasakan individu dan masyarakatnya. Indonesia memang tidak termasuk kategori negara yang bahagia menurut World Happiness...
JEDA semester selalu menjadi napas baru di tengah padatnya rutinitas belajar. Ia memberi ruang bagi siswa untuk melepaskan ketegangan, membangun relasi, dan menemukan sisi lain da...
Seperti dikatakan Budi Warsito dalam bukunya Trocoh (2021) yang diterbitkan baNANA, trocoh (dalam istilah Jawa) artinya atap bocor. Dihubungkan dengan Budi; trocoh adalah tentang...
ADA malam-malam tertentu dalam sepak bola Indonesia yang terasa seperti cermin—ia memantulkan lebih banyak dari sekadar skor pertandingan. Laga Persib Bandung melawan Borneo FC pa...
SALAH satu karya yang menyita perhatian saya pada pameran seni rupa bertajuk “Liana Riverie: Vivid Colours” adalah “Rush to Paradise” karya pematung I Ketut Putrayasa. Karya nyele...
DALAM dua dekade terakhir, game berubah dari sekadar hiburan menjadi salah satu ekosistem budaya terbesar di dunia. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa terlibat di dalamnya, ba...