“Dua serigala terjaga dalam kalut kekhawatiran akan tingkah gembala BELOG yang kian menggiring domba domba Menuju keterasingan”
-- Secarik puisi metafor pembuka
Tumpah ruah pembukaan pameran “Revolusi Setangkai Jerami” | foto: I Komang Sucita, TAT Art Space 2025
KALA petang itu di TAT art space yang terletak di jantung kota Denpasar, saya disuguhkan suatu revolusi kecil namun mampu menginterupsi pemahaman orang orang akan isu sosial dan ekologi politik yang melanda negri.
Revolusi kecil ini dimanifestasikan dalam satu pameran bertajuk “Revolusi Setangkai Jerami” digagas dan digarap oleh dua seniman revolusiuner yang selalu cakap menyuarakan keresahan. Mereka ialah Andi RHARHARHA dan Dwi S. Wibowo.
Andi RHARHARHA seorang seniman multidisiplin yang bekerja dengan medium seni rupa dan performance art. Ia banyak terlibat dalam gerakan aktivisme di Jakarta dan Bali. dalam pameran ini, RHARHARHA memamerkan tiga karya yang berjudul “Monument: The Last Farmers in Bali”, “Bali Fiksi”, dan “Not My Hero.” Sedangkan Dwi S. Wibowo yang selama ini dikenal sebagai penulis dan kurator, kini justru hadir sebagai seniman melalui tiga karya dari seri Food, Land and Memories yang masing-masing berjudul “Vote for Your Future”, “Battle on The Rice Field”, dan “Ladang Hitam.
Perfomance Art oleh Andi RHAHARHA | Foto: I Komang Sucita, TAT Art Space 2025
Pameran ini berangkat dari kegelisahan mendalam mereka sebagai seniman yang menyaksikan dengan cermat dinamika sosial dan politik di Indonesia, khususnya di Bali. Meski Indonesia dikenal sebagai negeri agraris, realitas hari ini menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap kelangsungan hidup petani dan pelestarian lingkungan. Alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi kawasan hunian, pariwisata, dan kawasan industri berlangsung masif, menghasilkan disparitas ekonomi yang tajam dan membuat profesi petani semakin terpinggirkan serta kurang menarik bagi generasi muda.
Program ketahanan pangan pemerintah, seperti Food Estate, meskipun mengusung niat mulia, sering kali bertentangan dengan prinsip-prinsip ekologis dan budaya yang berakar kuat di masyarakat. Transformasi hutan menjadi lahan pertanian intensif, terutama di wilayah Papua dan Kalimantan, mengikis keanekaragaman hayati yang kaya dan memicu konflik horizontal dengan masyarakat adat yang selama ini menjaga kelestarian alam. Pengerahan militer dalam pengelolaan dan pengamanan lahan tersebut memperlihatkan penyimpangan fungsi Angkatan Bersenjata, yang seharusnya fokus pada pertahanan negara, bukan pada intervensi sosial yang berpotensi memanas dan menimbulkan kekerasan.
Keprihatinan ini mereka tuangkan secara visual dalam pameran "Revolusi Setangkai Jerami," yang menjadi cermin kritis atas krisis ekologis dan sosial yang muncul akibat kebijakan pembangunan yang tidak berkelanjutan dan timpang. Melalui medium seni, kami mengajak publik untuk merenungkan kembali relasi manusia dengan alam serta mengritisi kebijakan negara yang sering kali mengabaikan nasib rakyat kecil dan keberlangsungan lingkungan demi pertumbuhan ekonomi semu dan kepentingan politik sesaat.
Display karya “Monument: The Last Farmer in Bali” diruang pameran. | Foto: I Komang Sucita, TAT Art Space 2025
Karya "Monument: The Last Farmer in Bali" ini menjadi sebuah refleksi visual yang mendalam atas realitas yang bergejolak di balik pesona pariwisata Bali yang gemerlap. Melalui potret para petani terakhir yang masih bertahan, Andi RHARHARHA tidak hanya menangkap wajah, tapi juga kisah perjuangan dan ketidakberdayaan yang membayangi mereka. Sawah yang dulu menjadi nadi kehidupan kini berfungsi sebagai latar belakang estetik bagi villa dan penginapan wisata, menandai pergeseran fungsi alam yang drastis dan menggugah kesadaran tentang harga mahal modernisasi tanpa keadilan sosial.
Kehadiran buruh tani dari Jawa yang bekerja di ladang yang seharusnya menjadi milik dan tanggung jawab tetangga sendiri menambah lapisan ironi sekaligus kritik sosial terhadap krisis regenerasi dan kehilangan identitas agraris di Bali. Karya ini memaksa kita mempertanyakan masa depan pertanian lokal dan mempertimbangkan kembali nilai dari tanah dan tradisi yang hendak hilang ditelan oleh perkembangan ekonomi pariwisata yang tidak terkendali. "Monument: The Last Farmer in Bali" bukan sekadar potret, melainkan monumen bisu yang mengingatkan kita tentang urgensi menjaga warisan agraris sebagai pondasi keberlanjutan dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Karya "Food, Land and Memories #2: Battle on The Rice Field" yang menyuguhkan pengalaman interaktif, dimana partisipan mencoblos layaknya suasana Pemilu | Foto: I Komang Sucita, TAT Art Space 2025
Karya interaktif selanjutnya dari Dwi S. Wibowo, "Food, Land and Memories #2: Battle on The Rice Field", menyuguhkan pengalaman partisipatif yang mengguncang, di mana pengunjung acara secara langsung terlibat dalam simulasi pertempuran simbolis di atas lahan sawah. Dengan elemen wheat paste dan instalasi variabel yang meniru medan perang agraris, pengunjung diundang untuk "bertarung" memilih antara mempertahankan sawah tradisional atau menyerahkan lahan kepada kekuatan industri sebuah metafora gesekan antara petani lokal dan kebijakan negara seperti Food Estate.
Interaksi ini menciptakan dinamika hidup di TAT Art Space, di mana suara, gerakan, dan pilihan pengunjung membentuk narasi kolektif yang kaotik, mencerminkan konflik horizontal di Papua dan Kalimantan akibat pembukaan lahan paksa. Melalui partisipasi langsung, Wibowo tidak hanya mengkritik pengerahan militer yang menyimpang fungsi, tapi juga membangkitkan empati pengunjung terhadap perjuangan petani yang terpinggirkan, menjadikan ruang pameran sebagai arena demokrasi agraris yang sesungguhnya.
Pengalaman ini memperkuat pesan pameran: ketahanan pangan bukan monopoli elite, melainkan hasil perlawanan bersama yang lahir dari keterlibatan rakyat di setiap inci tanah.
Antusias pengunjung menonton aksi perfomance art oleh Andi RHAHARHA | Foto: Dokumen pameran, TAT Art Space 2025
Tak berhenti pada jeritan visual karya-karya Andi RHARHARHA dan Dwi S. Wibowo semata, pameran "Revolusi Setangkai Jerami" menggali lebih dalam, menyeret kita ke akar kegelisahan: inspirasi dari Masanobu Fukuoka, petani eksentrik Jepang yang nekat menantang dogma modern, memperjuangkan pertanian alami sebagai obat mujarab bagi kehidupan retak. Fukuoka berbisik rumus sederhana: ikatan harmonis manusia-tanah lahirkan pangan berkualitas, tangan yang hormat jaga lingkungan lestari justru seperti potret petani terakhir RHARHARHA yang kini terpinggirkan, atau simulasi pemilu Wibowo yang membungkam suara rakyat.
Di Bali dan Indonesia subur tapi terbelah, pameran ini memaksa merapal ulang puisi tanah: ruang hidup berdenyut nilai sosial, politik, budaya bukan ladang duit atau warisan usang. Dari mulut ke mulut leluhur, tanah dititipkan identitas, denyut pengetahuan tak ternilai. Tapi cengkeraman kolonial meracuni puisi itu: tanah jadi monster kapital, diiris lahan massif warisan yang kini menggerogoti kemerdekaan rapuh, seperti sawah Kedampang yang kini jadi latar villa, cerita ironi buruh Jawa di lahan Bali.
Merdeka di kertas, tanah tetap tahanan negara diukur inci demi inci oleh dekrit dan moncong senjata. Di Bali, petani luruh haknya ditelan ekonomi ganas, tinggalkan luka ganda: hilang nafkah, pupus identitas. Di perut nusantara, masyarakat adat penjaga hutan turun-temurun dihadang deru bulldozer Food Estate dan bayang militer, diusir dari rahim bumi seperti pertempuran simbolis di sawah Wibowo.
Bayang pertanyaan mencekik: bila sawah habis ditelan beton, pohon terakhir ambruk di altar pembangunan, adakah bangsa ini berdiri tegak, utuh? Sejarah menampar: janji negara hidup layak di tanah sendiri berujung kegagalan getir. Rakyat tulang punggung negeri justru terperosok, kedaulatan tanah direnggut tangan pelindung.
Namun, jerami Fukuoka berbisik harapan: revolusi kecil bisa lahir dari tangan kita. Seperti dua serigala yang terjaga, seni ini bukan akhir kritik, melainkan benih aksi kembali ke tanah sebagai akar kedaulatan, sebelum terlambat.
Atas nama kawula muda yang selalu resah saya menutup tulisan ini dengan penuh harap, pameran seperti “ Revolusi Setangkai Jerami" menjadi awal gelombang baru seruan seni yang membakar kesadaran, menggugat ketidakadilan, dan menyalakan api perubahan. Mari bersama menjaga tanah dan hidup, agar revolusi kecil ini tumbuh menjadi revolusi besar, sebelum jerami terakhir punah dan suara kita menghilang dalam sunyi. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...