Bali sering dipasarkan ke dunia sebagai “surga” pulau kecil yang entah bagaimana mampu memuaskan jutaan wisatawan setiap tahunnya. Namun di balik gemerlap itu, suara masyarakat lokal kian teredam. Di balik industri pariwisata, tersimpan ketegangan mendasar: siapa sebenarnya yang berhak menentukan arah dan masa depan pulau ini?
Di titik krusial inilah seniman Ubud, I Wayan “Nano” Sudarna Putra, hadir melalui medium yang paling ia kuasai: seni instalasi. Bukan di galeri atau museum, melainkan di tengah sawah ruang yang menjadi akar agraris Bali dan kini berada di garis tembak alih fungsi lahan.
“Not For Sale” karya I Wayan “Nano” Sudarna Putra
Tepat pada 6 Desember 2025, dalam program Bisik Basa Basi bertema Risau di Abian Carik, Desa Kapal, Nano menampilkan kembali karya ikoniknya, “Not For Sale”. Instalasi ini dibangun dari bambu dan alang-alang material yang dipilih bukan sekadar karena terjangkau, tetapi sarat makna: simbol perlindungan, pemurnian, dan penjaga keseimbangan dalam kosmologi Hindu Bali.
Dengan bahasa sederhana namun tajam, karya ini menegaskan: “Sebelum sawah menjadi komoditas, ia adalah ruang suci.”
Seni yang Menggugat Laju Perubahan Bali
“Not For Sale” bukan proyek tunggal. Sejak 2010, Nano telah menciptakan instalasi serupa di Jungjungan, Ubud wilayah yang kini telah berubah menjadi koridor wisata padat. Karya ini sempat viral, menarik perhatian publik selama beberapa tahun.
I Wayan “Nano” Sudarna Putra
Lewat instalasinya, Nano ingin menggugah kesadaran bahwa yang terancam bukan hanya tanah fisik, tetapi fondasi esensial Bali:
Identitas kultural Pengetahuan agraris Sistem sosial subak Ruang spiritual masyarakat Bali
Karya ini menolak normalisasi pembangunan tanpa kendali; menolak gagasan bahwa pariwisata adalah dewa yang harus dipatuhi tanpa syarat. Bagi Nano, pariwisata hanyalah bonus, bukan tujuan utama eksistensi Bali. Tanpa budaya dan alam yang lestari, pariwisata kehilangan alasan fundamentalnya untuk ada.
Kendali Pariwisata yang Beralih ke Algoritma Global
Jika dulu perubahan Bali dikendalikan pemerintah dan investor tradisional, kini muncul kekuatan yang lebih halus dan meresap: platform digital global.
Airbnb, Booking, Agoda, TripAdvisor, Klook, Traveloka, dan ratusan aplikasi lain beroperasi melalui algoritma yang menentukan secara faktual:
Harga akomodasi dan jasa Arus dan sebaran wisatawan Destinasi yang tiba-tiba populer Pengalaman yang dianggap “menjual” Bahkan citra Bali di mata dunia
Mekanisme ini efisien, tetapi konsekuensinya jelas: siapa yang menguasai platform, ia yang memegang kendali. Pelaku usaha lokal harus tunduk pada ritme dari luar: komisi aplikasi, perang diskon global, sistem ulasan yang bias, tren pasar yang fluktuatif, dan biaya hidup yang terus meningkat.
Karya instalasi “Not For Sale” dan senimannya, I Wayan “Nano” Sudarna Putra
Ironisnya, platform ini tidak mengenal ngayah, tidak memahami struktur banjar, tidak peduli pada sistem subak, dan tidak mengetahui Galungan. Bali modern pun menjadi ironi: mereknya mendunia, tetapi kendalinya tidak lagi sepenuhnya di tangan orang Bali.
Meneguhkan Batas: Kedaulatan di Tanah dan Digital
“Not For Sale” menjadi ruang renungan publik, sebuah penanda batas. Instalasi ini mengingatkan bahwa Bali sedang kehilangan ruang fisik sekaligus ruang digital. Seni ini menyuarakan realitas:
Petani kalah oleh logika jual-beli tanah Sistem subak terhimpit ekspansi Bali tampak cantik di Instagram, tetapi rapuh di dunia nyata Tanah yang dijual bukan sekadar aset, melainkan masa depan budaya
Proses pengerjaan karya “Not For Sale”
Seni menjadi sirene peringatan: panggilan untuk berhenti sejenak sebelum Bali bertransformasi menjadi panggung di mana tubuhnya lokal, tetapi skenarionya ditulis dari luar pulau.
Kedaulatan Digital: Tugas Baru Bali
Bali tidak bisa berhenti hanya pada tanah dan budaya. Di era platform, diperlukan Kedaulatan Digital melalui platform pariwisata lokal yang:
Berstandar internasional Dikelola profesional dan transparan Terintegrasi dengan budaya, agrikultur, dan UMKM lokal Mengembalikan pendapatan dan kendali ke Bali
Ini bukan anti-globalisasi, tetapi pro-kemandirian. Seperti bambu Nano yang tegak di tengah sawah, platform lokal adalah cara lain untuk berkata: “Bali berhak mengatur dirinya sendiri.”
I Wayan “Nano” Sudarna Putra
Penutup: Tanah Ini Bukan Komoditas, Tapi Identitas
“Not For Sale” lebih dari judul karya; ia adalah pernyataan politik, spiritual, dan ekologis. Tanah Bali telah menanggung terlalu banyak beban: spekulasi properti, tekanan pariwisata masif, hingga dominasi algoritma global.
Nano mengingatkan: jika Bali terus dikendalikan dari luar, masyarakat lokal akan tetap menjadi kru panggung penting, namun tak pernah menentukan cerita.
Saatnya Bali kembali memegang kendali: di tanah, di budaya, dan di ruang digital. [T]
Lovina, 6 Desember 2025
Penulis: I Gede Made Surya Darma Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...