Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
Sekali lagi, saya harus menghela nafas panjang. Mengapa? Berita-berita penolakan para ABK semakin mencuat. Ada beberapa di masing-masing daerah. Sebelum ke penolakan, ada baiknya mundur ke belakanag bagaimana proses kesehatan yang dijalani para ABK sebelum diperbolehkan karantina mandiri ataupun sekarang harus karantina di sebuah tempat.
Seperti yang saya alami dan jalani, setibanya di bandara, saya langsung isi form riwayat perjalanan dan identitas diri. Lalu mengantre dengan tetap melakukan social distancing.
Satu per satu dipanggil untuk cek suhu tubuh dan tensi. Setelah itu para ABK dipersilakan untuk mengantre di sebelah timur untuk melakukan covid-19 test atau rapid test. Rapid test sudah dilaksanakan dan kami yang dinyatakan negatif bisa melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.
Pada saat itu karantina di rumah masih diperbolehkan. Namun dengan satu catatan, tetap disiplin, selalu memakai masker jika keluar ruangan misalnya untuk berjemur. Ya, serangkaian proses sudah kami jalani.
Sampai di rumah, saya dan mungkin semua teman ABK sudah melaporkan kedatangan kepada pihak desa adat dan dinas. Saya sendiri, dihimbau untuk mengikuti SOP yang diterapkan oleh pemerintah. Dan setelah karantina 14 hari berakhir untuk rapid test kembali.
Saya direkomendasikan test rapid di Rumah Sakit Sanjiwani, Gianyar. Sebegitu banyaknya test dan harus krantina yang memang kami sudah siap melaksanakan itu semua, masih saja para ABK mendapat perlakuan negatif serta cibiran-cibiran. Padahal kalau dilihat di berita-berita sebelum ditutupnya pelabuhan Gilimanuk, orang-orang dari luar Bali bersliweran masuk ke Bali tanpa harus melakukan test rapid. Beruntung itu semua sudah distop.
Jadi memang seharusnya seperti itu. Tindak tegas bagi orang luar yang tidak mau mengikuti aturan dari pemerintah khususnya pemerintah Provinsi Bali. Penolakan-penolakan yang terjadi seakan menggambarkan semakin meredupnya rasa kemanusiaan orang Bali terhadap sesamanya. Dan sesamanya ini adalah orang Bali juga. Masyarakat Bali yang merantau pergi jauh ke luar negeri demi mengais rejeki untuk keluarga dan masa depan yang lebih baik.
Seperti tulisan saya sebelumnya, jika memang negara mampu memberikan lapangan pekerjaan dan penghasilan yang cukup untuk warganya, lalu untuk apa para ABK harus pergi meninggalkan tanah kelahirannya?
Lebih baik kerja di rumah, bukan? Bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga setiap saat. Quality time bisa kami rasakan. Dan juga tentunya bisa ikut berbaur dengan masyarakat saat ngayah ataupun yang lainnya. Tapi memang tidak ada pilihan. Pilihan terakhir adalah pergi mengais rejeki di luar negeri.
Demi keluarga dan demi masa depan yang lebih baik. Hentikan kami diagung-agung sebagai pahlawan devisa negara sedangkan perlakuan yang kami dapat tidak sesuai dengan apa yang seharusnya didapat. Jika ditarik lebih jauh, kami mencari uang dan mendapatkan hasil berupa dolar. Lalu kami dengan semangatnya menukarkan dolar tersebut ke dalam bentuk rupiah, untuk apa?
Ya, tentu untuk dibelanjakan. Dimana? Tentu kepada padagang. Pedagang itu siapa? Pastinya masyarakat Bali. Secara otomatis kami juga ikut andil dalam perputaran ekonomi masyarakat Bali. Jadi marilah kita sama-sama saling mengerti.
Saya dan para ABK yang lain sangat mengerti akan kecemasan masyarakat Bali. Kamipun cemas. Tapi ini adalah virus yang penyebarannya sudah mengglobal. Mari kita perangi bersama bukan malah saling menjatuhkan, saling menyalahkan, menolak kedatangan para ABK dan memberikan mereka komentar-komentar negatif. Padalah mereka adalah saudara kita sendiri. Saudara sebangsa setanah air.
Mereka adalah nyama Bali. Sudah saatnya menghentikan stigma negatif terhadap para ABK dan kita harusnya bersama melanjutkan peperangan melawan Covid-19. Dengan cara apa? Ikuti himbauan pemerintah. Diam di rumah, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin dan sosial distancing. Jaga pikiran agar selalu positif. Dengan berpikir positif daya tahan tubuhpun semakin maningkat. Dan terhindar dari serangan virus corona.
Salam dari rumah.[T]
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....