‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Sekali lagi, saya harus menghela nafas panjang. Mengapa? Berita-berita penolakan para ABK semakin mencuat. Ada beberapa di masing-masing daerah. Sebelum ke penolakan, ada baiknya mundur ke belakanag bagaimana proses kesehatan yang dijalani para ABK sebelum diperbolehkan karantina mandiri ataupun sekarang harus karantina di sebuah tempat.
Seperti yang saya alami dan jalani, setibanya di bandara, saya langsung isi form riwayat perjalanan dan identitas diri. Lalu mengantre dengan tetap melakukan social distancing.
Satu per satu dipanggil untuk cek suhu tubuh dan tensi. Setelah itu para ABK dipersilakan untuk mengantre di sebelah timur untuk melakukan covid-19 test atau rapid test. Rapid test sudah dilaksanakan dan kami yang dinyatakan negatif bisa melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.
Pada saat itu karantina di rumah masih diperbolehkan. Namun dengan satu catatan, tetap disiplin, selalu memakai masker jika keluar ruangan misalnya untuk berjemur. Ya, serangkaian proses sudah kami jalani.
Sampai di rumah, saya dan mungkin semua teman ABK sudah melaporkan kedatangan kepada pihak desa adat dan dinas. Saya sendiri, dihimbau untuk mengikuti SOP yang diterapkan oleh pemerintah. Dan setelah karantina 14 hari berakhir untuk rapid test kembali.
Saya direkomendasikan test rapid di Rumah Sakit Sanjiwani, Gianyar. Sebegitu banyaknya test dan harus krantina yang memang kami sudah siap melaksanakan itu semua, masih saja para ABK mendapat perlakuan negatif serta cibiran-cibiran. Padahal kalau dilihat di berita-berita sebelum ditutupnya pelabuhan Gilimanuk, orang-orang dari luar Bali bersliweran masuk ke Bali tanpa harus melakukan test rapid. Beruntung itu semua sudah distop.
Jadi memang seharusnya seperti itu. Tindak tegas bagi orang luar yang tidak mau mengikuti aturan dari pemerintah khususnya pemerintah Provinsi Bali. Penolakan-penolakan yang terjadi seakan menggambarkan semakin meredupnya rasa kemanusiaan orang Bali terhadap sesamanya. Dan sesamanya ini adalah orang Bali juga. Masyarakat Bali yang merantau pergi jauh ke luar negeri demi mengais rejeki untuk keluarga dan masa depan yang lebih baik.
Seperti tulisan saya sebelumnya, jika memang negara mampu memberikan lapangan pekerjaan dan penghasilan yang cukup untuk warganya, lalu untuk apa para ABK harus pergi meninggalkan tanah kelahirannya?
Lebih baik kerja di rumah, bukan? Bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga setiap saat. Quality time bisa kami rasakan. Dan juga tentunya bisa ikut berbaur dengan masyarakat saat ngayah ataupun yang lainnya. Tapi memang tidak ada pilihan. Pilihan terakhir adalah pergi mengais rejeki di luar negeri.
Demi keluarga dan demi masa depan yang lebih baik. Hentikan kami diagung-agung sebagai pahlawan devisa negara sedangkan perlakuan yang kami dapat tidak sesuai dengan apa yang seharusnya didapat. Jika ditarik lebih jauh, kami mencari uang dan mendapatkan hasil berupa dolar. Lalu kami dengan semangatnya menukarkan dolar tersebut ke dalam bentuk rupiah, untuk apa?
Ya, tentu untuk dibelanjakan. Dimana? Tentu kepada padagang. Pedagang itu siapa? Pastinya masyarakat Bali. Secara otomatis kami juga ikut andil dalam perputaran ekonomi masyarakat Bali. Jadi marilah kita sama-sama saling mengerti.
Saya dan para ABK yang lain sangat mengerti akan kecemasan masyarakat Bali. Kamipun cemas. Tapi ini adalah virus yang penyebarannya sudah mengglobal. Mari kita perangi bersama bukan malah saling menjatuhkan, saling menyalahkan, menolak kedatangan para ABK dan memberikan mereka komentar-komentar negatif. Padalah mereka adalah saudara kita sendiri. Saudara sebangsa setanah air.
Mereka adalah nyama Bali. Sudah saatnya menghentikan stigma negatif terhadap para ABK dan kita harusnya bersama melanjutkan peperangan melawan Covid-19. Dengan cara apa? Ikuti himbauan pemerintah. Diam di rumah, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin dan sosial distancing. Jaga pikiran agar selalu positif. Dengan berpikir positif daya tahan tubuhpun semakin maningkat. Dan terhindar dari serangan virus corona.
Salam dari rumah.[T]
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...