“Eksekusi lahan ini, pura akan hilang. Bagaimana cara melangsungkan upacara, lahan untuk pura hilang. Mau diambil. Pura di samping juga lahannya mau dieksekusi, bagaimana cara melanjutkan upacara.” -- (Jro Mangku Pura Puseh, Banjar Pakudui Kangin, Desa Kedisan, Tegalalang, Gianyar, Tribun Bali, 1 Agustus 2019)
___
Tanpa saya duga, handphone
saya bergetar. Pesan whatsaap masuk
mengabarkan bahwa puluhan krama desa di Bali memudut (menyungsung) adengan
Pratima (simbolisasi dewa) ke Pegadilan Negeri Gianyar, tempat sidang
sengketa lahan pura tersebut berlangsung. Yang mengirimkan pesan ini adalah
seorang mahasiswa Hindu yang juga berasal dari satu kabupaten. Ia melanjutkan
pesannya, “Gejala napi niki pak? Apa yang sebenarnya terjadi?” Saat itu, saya
tetiba termangu. Saya tidak bisa memikirkan apa-apa melihat fenomena ini. Namun
saya berusaha mencari tahu informasi lebih detail.
Sengketa tersebut terjadi di Tegalalang, Gianyar.
Akarnya adalah sengketa lahan pelaba
Pura Puseh antara Banjar Pakudui Kangin dengan Pakudui Kawan yang dimenangkan
oleh Banjar Pakudui Kawan. Ujungnya adalah lahan berdirinya Pura Puseh terancam
dieksekusi. Dengan demikian, tidak akan lagi Pura Puseh di lahan terebut.
Para pengempon
yang berasal dari Banjar Pakudui Kangin kemudian membawa pratima ke PN Gianyar. Tujuannya adalah agar Ida Sesuhunan menyaksikan perjuangan krama pengempon untuk mempertahankan tanah dan Pura Puseh tersebut. “Bila
nanti pura tersebut dieksekusi, lalu apa arti dari keberadaan Ida Sesuhunan ini,” ungkap Jro Mangku
Pura Puseh, Banjar Pakudui Kangin, Desa Kedisan, Tegalalang, Gianyar.
Fenomena lain yang menyesakkan, juga berhubungan
dengan terancam hilangnya pura, adalah yang menimpa pengempon Pura Hyang Ibu Pasek Gaduh, Banjar Babakan, Canggu, Kuta
Utara. Sejumlah 45 KK (Kepala Keluarga) pengempon
gundah karena kalah dan terancam kehilangan hak waris atas tanah dan pura
tersebut. Akar dari permasalahan ini adalah konflik internal pengempon.
Salah satu proses pelaksanaan ritual di pura penyusung jagad di Bali (foto: I Ngurah Suryawan)
Komoditas
Dua dari sekian banyak kasus “hilangnya” pura-pura
masyarakat Bali menggambarkan permasalahan besar yang dihadapi manusia Bali. Persoalan
tersebut berhubungan dengan konflik tanah sekaligus konflik personal internal
masyarakat sendiri. Hal ini menggambarkan betapa rapuhnya kekerabatan dan
solidaritas sosial dalam arti luas ketika orientasi kehidupan berubah. Hal
lainnya adalah yang berhubungan dengan kegagapan orang Bali merespon perubahan
saat dunia berlari kencang.
Meski mengakui bahwa Pulau Bali terjaga kesuciannya
berkat tersebarnya pura , kita sulit membantah bahwa penyokong pura tersebut
semakin gundah. Para pengempon menghadapi
kompleksitas kehidupan bermasyarakat yang terus berubah. Salah satu soalnya
adalah bergesernya orientasi hidup dan kebudayaan di Bali dari ngayah ke mayah. Sederhananya, dari solidaritas sosial tanpa pamrih menuju
orientasi pragmatis ekonomis.
Silang-sengkarut Bali kontemporer mementaskan tubrukan
berbagai macam kepentingan dengan nalar yang berbeda dan saling berkelidan. Kebudayaan,
dalam arti seluas-luasnya, senyata-nyatanya telah menjadi komoditas. Santikarma
(2003) dengan tajam mengungkapkan bahwa kebudayaan yang dahulu merupakan sebuah
pemberian atau druwe kini berubah
menjadi sebuah komoditas yang bisa dibalik-namakan, disertifikat, dan
dicantumkan nama pemiliknya. Ini bertujuan untuk mempertegas akan hak. Tetapi
kapitalisme pariwisata menggairahkan nafsu untuk menjualnya. Kebudayaan Bali
menjadi semacam obyek yang tidak bisa diganggu, digugat, dibongkar atau
diperiksa sebagai sebuah bangunan sosial.
Pura dan kawasan suci lainnya menjadi incaran dari investor pariwisata dan properti untuk meluaskan sayapnya (foto: I Ngurah Suryawan)
Pada sisi yang lain, ruang hidup, tentu bukan hanya
tanah, semakin menyempit. Arus migrasi seolah tak terbedung. Kegagapan yang
terjadi adalah merespon merespon globalisasi Bali dengan membangun “benteng”. Penguatan
modal-modal social budaya un dilakukan. Desa adat diperkuat dan gerakan-gerakan
pelestarian budaya terus didengungkan.
Kapitalisasi tanah berlangsung terus-menerus. Rakyat
kecil seolah menghadapi situasi terdesak untuk menjual tanahnya demi (bayangan)
nasib yang lebih baik. Seolah tidak ada pilihan untuk tidak menjungjung
pariwisata. Pilihan untuk berdaulat dan mandiri menjadi begitu mahal. Saking
mahalnya hingga dianggap aneh pada kondisi demam pariwisata ini.
Pandangan bahwa kebudayaan dan segala macam
propertinya menjadi hak milik membawa pengaruh besar. Seluruh elemennya dengan
demikian wajib untuk dipatenkan menjadi hak milik (baca: disertifikatkan). Pada
tataran yang lebih abstrak, pendakuan sebagai pemilik kebudayaan menjadi
semacama keharusan. Pada konteks inilah, keaslian sebagai pemilik kebudayaan
menjadi persoalan yang serius sekaligus pelik. Selalu ada konflik yang menjadi
sumbunya.
Lalu, bukan hanya pengempon
kehilangan puranya, tetapi sebaliknya,
pura yang kehilangan pengempon-nya. Pura-pura mulai terdesak, disamping karena perebutan
tanah, konflik personal, juga perlahan karena perubahan orientasi kebudayaan.
Kita bisa lihat pura-pura subak yang semakin terdesak dengan bangunan perumahan
yang menerabas sawah.
Pura petirtan (pemandian) yang terletak di lokasi yang persawahan di kawasan Tampaksiring, Gianyar (foto: I Ngurah Suryawan)
Krama Bali yang
terikat dengan pura-pura keluarga dan desa berpikir seribu kali untuk
meninggalkan pura. Tetapi itu bukan mustahil akan terjadi jika perubahan
mengusik hingga orientasi kehidupan. Yang saya maksudkan adalah konflik dan
pengekangan kebebasan sebagai individu. Sebagai sebuah institusi, desa dan pengempon pura tentu mempunyai aturan
yang harus disepakati bersama. Aturan tersebutlah yang seringkali menyisakan
api dalam sekam bagi personal krama-nya.
Menurut saya, titik pangkal persoalannya adalah
berubahnya orientasi manusia Bali, sementara pondasinya tidak dipersiapkan
untuk berubah. Kemeriahan ritual menjadi pentas teater kebudayaan yang
menyisakan persoalan serius. Sudah bukan rahasia umum jika praktik ritual
lambat laun akan menjadi “beban sosial dan agama” jika tidak beradaptasi dengan
perubahan. Celakanya, gebyar ritual seolah “diada-adakan” untuk kepentingan
teater politik dan kekuasaan, tempat dimana manusia-manusia Bali menampilkan
kekuasaannya.
Dalam situasi seperti itu, pantas kita bertanya,
apakah ada manusia Bali yang berani menggugat dan mengkritisi situasi demikian?
Atau perlahan-lahan mati dalam kubangan yang sama tanpa sempat untuk bersuara
kritis?
(Dimana) Kedaulatan Rakyat?
Jika mencermati konflik-konflik pelaba
pura dan ketersingkiran pura dan pengempon-nya,
kita dibawa untuk memikirkan bagaimana sejatinya rakyat Bali memikirkan dirinya
yang berdaulat dalam mensikapi perubahan yan terjadi.
Salah satu yang menjadi karakteristik kebudayaan rakyat Bali adalah rwa bhineda, poleng (selem putih). Dalam
bahasa yang jamak adalah ambiguitas itu sendiri. Dengan cara seperti itulah
rakyat Bali memahami diri dan perubahannya.
Namun sayangnya, tidak demikian dengan perspektif Negara dan kekuasaan. Cermin
ambiguitas dan kelampauan yang dipakai oleh orang-orang kebanyakan untuk
mengerti masa lalu dihapus oleh sejarah yang disponsori rezim Orde Baru.
Kerumitan dan ranah abu-abu dibabat untuk dialihkan kejurusan “sejarah jalan
lurus” linear progress. Kalaupun
rakyat diberi tempat dalam pentas narasi-narasi sejarah negara terbatas sebagai
peminta-minta resep, petunjuk dan perlindungan dari negara, atau sebaliknya
sebagai potensi massa yang berbahaya karena dianggap bodoh, suka rusuh,ngamuk,
dan penjarah, dan oleh karena itu harus dikontrol oleh aparatus negara (Santikarma, 2008).
Rakyat sejatinya dalam bahasa Laksono (2008 via Budi
Susanto, 2005) adalah “orang-orang yang berdaya”, mempunyai kekuatan untuk melakukan
perubahan sosial terhadap diri dan lingkungannya. Oleh karenanya rakyat hampir
selalu diantara dua sisi yaitu melakukan resistensi (perlawanan) sekaligus
obyek penundukan dan eksploitasi. Dalam hal inilah rakyat berbeda dengan
“massa” yang sangat mudah untuk dipolitisasi untuk kepentingan kekuasaan. Dalam
konteks historis, negara dan kekuasaannya sangat alergi dengan kata “rakyat”
karena sejarah panjangnya dalam melakukan gerakan kritis kepada kekuasaan.
Dengan kasus-kasus yang disebutkan di atas, apakah rakyat Bali adalah orang-orang yang (tidak) berdaya menghadapi diri dan perubahan yang mengejarnya? [T]
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi Tahun 2024 di lingkung...
DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens agar tetap antusias. Tiba-tiba terdenga...
JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), ratusan pasang mata fokus membaca, memahami,...
ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi Bali. Meja lipat tegak di depannya, dilengkapi berbagai...
Om Swastyastu,
Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, menghaturkan Selamat...
PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang berjalan teratur mempersembahkan ka...
MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuna agar mem...
SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”, yang kerap mengudara di penghujung hari, ada tubu...
MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa betah tinggal di Ind...
TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.
"Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara...