Minggu, tanggal 25 Agustus 2019, perjalanan spiritual itu
dimulai lagi. Setelah ngererep satu
malam di Pura Puseh di Banjar Adat Sema, Desa Payangan, Gianyar, Bali, tepat
pukul 10 pagi sesuhunan Ida Batara metangi.
Para pemedek yang akan ngiring sudah
memenuhi areal pura. Lautan manusia berbaju putih dengan udeng putih, tumpah
ruah. Gamelan Kakelentingan dengan bunyi yang khas dan sakral yang mengiringi
Beliau, terdengar begitu religius dan menebarkan aura suci. Ribuan pengiring mengikuti perjalanan suci itu.
Tak pelak lagi, ruas jalan Payangan – Kintamani menjadi
lumpuh. Macet total. Sepanjang jalan adalah warna putih. Iring-iringan Ida
Batara memargi. Entah berapa ribu
orang. Pengiring adalah gabungan dari beberapa desa adat. Kami adalah wakil
dari Marga Dauh Puri, warga Desa Adat Kelaci dan Desa Adat Ole. Bergabung,
berbaur dengan pemedek yang entah dari mana asalnya. Menyatu dalam sebuah acara
religius. Perjalanan kali ini menuju Pura Gunung Lebah di Ubud. Sebuah pura yang terletak di
campuhan, pertemuan dua sungai. Jarak diperkirakan sepanjang 9 kilometer,
begitulah data yang disodorkan google map yang super cerdas.
Di sepanjang jalan yang kami lalui, masyarakat menghaturkan canang gebogan sekaligus menyiapkan beberapa dus air minum dalam kemasan untuk
para pengiring yang kehausan. Semua bisa diambil dengan gratis. Bukan cuma itu. Canang gebogan yang sudah dihaturkan ke hadapan Ida Batara, kemudian
dibagi-bagikan untuk para pengiring.
Ngiring Ida Betara, perjalanan spiritual dari pura ke pura
Di depan setiap rumah, selalu ada canang gebogan di atas meja sebagai persembahan, kemudian para
pengiring dipersilakan mengambil dengan perasaan ikhlas. Anggur merah, apel
impor, jeruk Mandarin, pisang lokal, teh kotak, telor asin bahkan yakult, semua
lungsuran itu bisa diambil. Perjalanan
begitu jauh dan membutuhkan waktu berjam-jam.
Kami menjadi haus dan mulai lapar. Buah-buahan lungsuran itu bisa sebagai pengganjal
perut dan sangat membantu memasok
energi. Terutama pisang. Pisang mengandung potasium untuk menjaga tubuh kami agar
tetap sehat melalui perjalanan jauh itu, apalagi di bawah terik matahari.
Untunglah pisang selalu menjadi buah wajib pada canang gebogan.
“Ngiring, niki lungsuran dados diambil,” kata-kata indah dari
pinggir jalan. Kami pun mengerubutinya. Tangan-tangan dari tubuh-tubuh yang
mulai kelelahan mengambil lungsuran
yang diberikan dengan perasaan ikhlas. Dan ibu pemilik canang tadi tersenyum
puas karena lungsuran-nya laris.
Sambil tetap berjalan, kami menikmati lungsuran dengan perasaan haru. Ternyata persaudaraan umat Hindu
masih begitu kental. Inilah yang harus terus kita jaga, nilai-nilai ini.
Para pengiring begitu semangat. Pria dan wanita, bahkan
anak-anak banyak yang ikut. Semua bergembira. Tidak ada yang mengeluh. Kami
berjalan tak putus-putus. Kebersamaan dalam perjalanan spiritual itu telah
memberikan vibrasi dan kekuatan kepada kami untuk melangkahkan kaki ribuan
kali. Apalagi sepanjang jalan ada sumbangan air minum dan lungsuran yang bisa diambil sesuka hati. Sumbangan yang tak
putus-putus. Budaya gotong royong yang mengikat adat ketimuran kita.
Memasuki desa Ubud, kami menjadi tontonan para bule. Mereka
begitu takjub dan tak henti-hentinya membidikkan kamera smartphone. Sepertinya iri melihat budaya spiritual yang kita
miliki. Budaya spiritual dan gotong royong yang mengikat kami bertahun-tahun. Patutlah
kita banggakan.
Ini adalah serangkaian perjalanan
spiritual tapakan Ida Batara yang berasal dari Pura Pucak Natar Sari, sebuah
pura yang terletak di Desa Apuan, Baturiti, Tabanan, Bali. Di pura yang diempon
oleh lima desa adat itu terdapat sembilan tapakan sebagai manifestasi Tuhan
dalam bentuk Dewata Nawa Sanga, yang disimbolkan dengan tokoh pewayangan.
Menjelang piodalan yang akan dilaksanakan di pura itu, tapakan Dewata Nawa
Sanga akan melancaran, melakukan
perjalanan suci dari pura ke pura di wilayah Marga, Baturiti, Mengwi, Ubud
bahkan Canggu. Serangkaian perjalanan suci selama beberapa minggu. Ngererep (menginap) di pura yang satu,
kemudian besoknya ke pura yang lain.
Pukul 1.20 siang kami akhirnya tiba di Pura Gunung Lebah,
Ubud, kabupaten Gianyar, Bali. Sekitar 2 jam 48 menit perjalanan, dengan jarak
9.47 kilometer. Secara detail langkah kaki saya dicatat sebanyak 15.611 langkah
oleh smartphone saya, dan menghabiskan
sekitar 753 kalori.
Pura Gunung Lebah adalah sebuah pura yang indah dengan
ornamen pasir laut, yang terletak di lembah sungai campuhan, yang merupakan
pertemuan dua arus sungai yaitu sungai Oos dan sungai Cerik. Menurut
sejarahnya, pura Gunung Lebah ini didirikan oleh Rsi Markandeya. Konon di
lembah campuhan yang memiliki getaran magis yang kuat ini, ditemukan berbagai
tanaman obat-obatan. Obat bahasa balinya adalah ubad. Kata ubad itulah
yang kemudian menjadi cikal bakal nama
Ubud. Begitulah yang sempat saya baca di google, di sela-sela kelelahan setelah
perjalanan jauh sambil nunas wedang (ngopi).
Di belakang pura, naik sedikit, ada sebuah bukit yang indah dengan lembah dan tanaman liar ilalang. Tempat ini menjadi destinasi favorit bagi para wisatawan. Bule dan pengunjung domestik lalu-lalang di Bukit Cinta ini, untuk melakukan swafoto.
Iya, tugas kami ngiring sesuhunan sudah selesai. Beliau akan ngererep di Pura Gunung Lembah malam itu, kemudian besok akan melanjutkan perjalanan ke pura yang lain. Dan mungkin warga dari desa adat yang lain diberi tugas ngiring oleh pihak panitia.
Setelah nunas pica, kami pun bergegas ke truk masing-masing. Semua merasa kelelahan dan pegal di kaki. Lumayan semua orang memangkas kalori dan keringat hari ini. Metabolisme yang baik untuk tubuh.
Lalu lintas Ubud agak lumpuh beberapa jam. Saat kami meninggalkan desa wisata itu menuju rumah masing-masing, polisi dan pecalang masih sibuk mengatur lalu lintas. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...