JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), ratusan pasang mata fokus membaca, memahami, menyimak, lalu menjawab setiap soal yang muncul di layar. Tak ada suara bising selain sesekali gesekan kursi dan ketukan jemari.
Selama tiga hari, 8–10 Juni 2026, sebanyak 449 siswa Fase E (X) dan Fase F (XI) Awal mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif. Kegiatan ini menjadi kelanjutan dari pelaksanaan UKBI sebelumnya yang telah diikuti oleh 163 siswa Fase F Lanjutan (XII).
Bagi sebagian orang, kemampuan berbahasa mungkin dianggap sebagai keterampilan dasar yang otomatis dimiliki setiap warga negara. Namun di lingkungan pendidikan kesehatan, kemampuan itu memiliki makna yang lebih jauh. Seorang tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memahami ilmu medis, tetapi juga harus mampu menyampaikan informasi dengan jelas, tepat, dan mudah dipahami.
Kesadaran itulah yang mendorong SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar terus melibatkan siswanya dalam UKBI. Melalui tes yang diselenggarakan dengan dukungan Balai Bahasa Provinsi Bali tersebut, sekolah ingin memastikan para siswa memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik sebagai bekal memasuki dunia profesi.
UKBI Adaptif di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar│Dok. Kesbam
Kepala SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar, I Komang Rika Adi Putra, M.Pd., menegaskan bahwa penguasaan bahasa merupakan bagian penting dari kompetensi yang harus dimiliki calon tenaga kesehatan.
“Sebagai sekolah kesehatan, kami tidak hanya menyiapkan siswa agar unggul dalam bidang kesehatan, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan santun. Kemampuan berbahasa yang baik akan menjadi bekal penting saat mereka berinteraksi dengan pasien maupun masyarakat,” ujarnya.
Di balik suasana serius selama pelaksanaan tes, para siswa justru melihat UKBI sebagai pengalaman menarik. Bukan sekadar ujian, melainkan kesempatan mengenali kemampuan diri sekaligus mengukur sejauh mana mereka mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
Perwakilan siswa kelas X, Ni Luh Putu Aprissa Jayanti Nareswari, mengaku memperoleh pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.
“Setelah mengikuti UKBI, saya jadi lebih memahami kemampuan bahasa Indonesia yang saya miliki. Kegiatannya menantang sekaligus menambah motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan oleh perwakilan siswa kelas XI, Putu Bela Inggrid Cahyanti. Menurutnya, kemampuan berbahasa memiliki peran penting dalam dunia kesehatan yang akan mereka hadapi di masa depan.
“Kami belajar bahwa tenaga kesehatan juga harus mampu menyampaikan informasi dengan jelas dan tepat. Karena itu, kemampuan berbahasa Indonesia sangat penting untuk kami kuasai,” ungkapnya.
UKBI Adaptif di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar│Dok. Kesbam
Pelaksanaan UKBI di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar menunjukkan bahwa literasi tidak hanya menjadi urusan mata pelajaran bahasa. Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks, kemampuan berkomunikasi menjadi kompetensi yang tak kalah penting dari keterampilan teknis.
Melalui kegiatan ini, sekolah berupaya membentuk lulusan yang tidak hanya terampil dalam bidang kesehatan, tetapi juga mampu menyampaikan pengetahuan dan pelayanan secara efektif kepada masyarakat. Sebab pada akhirnya, kompetensi seorang tenaga kesehatan tidak hanya diukur dari ketepatan tindakan yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang yang dilayani.
Di ruang-ruang kelas itu, para siswa memang sedang mengerjakan soal. Namun lebih dari itu, mereka tengah mempersiapkan diri menjadi generasi tenaga kesehatan yang kompeten, literat, dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...