Dua tahun sesudah Perang Dunia I berakhir,
seorang wartawan perang Amerika Serikat mendarat beserta rombongannya di
Boeleleng dengan sedikit kecewa. Fasalnya, ia hanya menemui sebuah bandar yang
sepi, berjarak kira-kira 3 mil dari pusat keresidenan di Singaraja.
Imajinasinya tentang sebuah sambutan
dengan tari-tarian dari gadis-gadis pribumi yang bertelanjang dada membawa
bebunga, segera buyar. Padahal sebelumnya, dari pejabat-pejabat Belanda di
Makassar, ia telah dikabari akan keramahan eksotik yang bakal menyambut mereka
begitu tiba di salah satu Pulau Surga di Insulinde Belanda itu.
“Kemana orang-orang” tanyanya pada seorang
pemandu lokal keturunan China ketika mereka sudah berada di sebuah Concordia
Club.
“Menjeepee,”
terang si pemandu.
“Apakah itu semacam penyakit, seperti
kolera? Hingga penduduk menghilang dari pemukiman?”
“Tidak ada kholera, menjeepee sejak fajar” kata si pemandu lagi.
Si wartawan akhirnya mahfum, ia datang
pada hari yang tidak tepat untuk mewujudkan angan-angannya akan sebuah kemeriahan
eksotis itu. Ia menulis, “Mereka
menyebutnya Menjepee, yang secara harfiah berarti 'diam'. Orang Bali adalah
orang-orang Hindu terakhir yang tersisa di Kepulauan... Selama Menjepee, yang
berlangsung dua puluh empat jam, tidak ada pribumi yang diizinkan ke luar
tembok kampungnya kecuali alasan yang paling mendesak. Bahkan untuk itu dia
harus mendapatkan izin dari pendetanya. Jika seseorang melanggar, dia diberi
sangsi dengan cara dikucilkan di kampungnya...”
Tidak ada lagi yang dikatakan E.Alexander
Power tentang menjeepee, kecuali
upayanya untuk bisa ke Denpasar demi melihat keindahan dan kecantikan
gadis-gadis insulinde sebagaimana telah ia dengar dari orang-orang Belanda di Borneo dan
Celebes. Ia memutuskan untuk pergi hari itu juga karena waktunya terbatas di
Bali. Pemandu Chinanya, menyarankannya untuk bertemu Residen di Singaraja yang
mungkin bisa memberi jalan keluar.
Ia mengisahkan bahwa pemandu China-nya mengatakan memang ada empat buah mobil di
Boeleleng yang bisa membawanya ke Denpasar. Tetapi semua sopirnya orang Bali
yang sedang Menjeepee. Tanpa
pertolongan Residen, tak mungkin baginya mendapat tumpangan. Beruntung, Residen
memberikan jalan keluar dengan mendekati seorang pendeta yang kemudian
mengizinkan seorang warga untuk mengemudi kendaraan ke Denpasar membawa si
wartawan itu.
Rupanya, menjeepee, seperti Hari Nyepi sekarang ini, bukanlah topik yang diminati oleh para pelancong
Barat masa awal di Bali. Dari catatan Power ini kita juga tahu, menjeepee yang sakral, tidak menghalangi
residen dan pemimpin agama lokal untuk
bernegosiasi. Mungkin itu semacam keramahan tropikal bagi si tuan putih yang
menguasai bangsa kita kala itu.
Kisah itu dipetik dari buku Where The Strange Trails Go Down bagian 7, dengan subjudul Down To
Island Eden yang khusus berisi catatan pengalaman Alexander Power singgah
di pulau Bali. Dipublikasikan pertama kali pada Oktober 1921, buku ini
merangkum semua pengalaman perjalanan Alexander Power ke Kepulauan Melayu.
Berangkat dari Teluk Manila pada akhir Februari 1920, ia bersama rombongannya
bertualang ke Sulu, Borneo, Celebes, Bali, Java, Sumatra, Semenanjung Melayu, Siam, Cambodia, Annam, dan Cochin-China dengan sebuah kapal Negros (kapal penjaga pantai
Philipina) berkapasitas 150 ton, tinggi
150 kaki, dan jumlah awak enam puluh orang.
Selain dirinya dan nahkoda kapal bernama
Kapten AB Galvez, ikut dalam rombongan itu Nyonya Winsome seorang dokter,
kameramen John L. Hawkinson, tiga orang teman gubernur jenderal di Manila dan
istrinya sendiri, nyonya Edward Alexander Power. Penuh gairah, ia menyebut perjalanan
wisatanya itu sebagai perjalanan ke negeri-negeri asing. Di mana pulau-pulau sihir dan peri laut terapung di
bawah kemuliaan matahari tropis.
Selama di Bali,
perhatian Alexander Power lebih tertuju pada kemolekan alam yang
menggetarkannya, kecantikan sawah-sawahnya, dan yang lebih utama profil
biologis gadis-gadisnya. Dengan gaya bombastis, ia melukiskan wanita-wanita
Bali laksana mawar nan semerbak di bawah matahari yang membuat kulit mereka
sawo matang, lentur, dan postur lebih tinggi daripada wanita-wanita Melayu yang
pernah ia lihat di Malaysia. Kemolekan tubuh wanita-wanita Bali, katanya, sudah
tersohor hingga ke Malaysia, di antara pelaut-pelaut dan orang-orang Barat yang
pernah mencapai Kepulauan.
Tidak begitu rinci
penjelasannya mengenai kemolekan wanita Bali yang tersohor itu. Apakah karena
erotikanya, atau karena hal lain. Namun dari catatan sejarah kita bisa
mengerti, mungkin itu pengaruh popularitas budak-budak perempuan dari Bali yang
mahal harganya di Batavia tempo dulu. Banyak dari mereka menjadi istri tak
resmi orang-orang Eropa. Sejumlah dagh
register telah mencatat perihal kasus-kasus yang menghebohkan berkaitan
dengan hubungan asmara antara budak-budak itu dengan tuan Eropa-nya.
Barangkali,
cerita-cerita semacam itulah yang didengar si wartawan perang ini ketika di
Malaysia. Ia memuji, betapa karakter
perempuan Bali dianugerahi ketenangan, sepi dan tampak terhormat. Tubuh mereka dibungkus
kain dari pinggang ke
pergelangan kaki. Menampakan setiap garis dan kontur pinggul dan tungkai bawah
yang aduhai. Tapi dari pinggang ke atas sepenuhnya telanjang.
Sekalipun demikian, ia juga melihat
kehidupan mereka yang penuh resiko karena adanya kebiasaan membakar diri
bersama mayat suami yang dibakar. Terutama bagi gadis-gadis muda yang
bersuamikan lelaki tua. Wanita-wanita itu, kata Alexander Power terikat pada
sumpah untuk ikut membakar diri. Larangan keras pemerintah Belanda, tidak
sepenuhnya menghentikan praktek tersebut. Bahkan belum berselang lama dengan
kedatangannya di Bali, ada dua perempuan yang meminta izin kepada raja Kloeng
Kloeng membakar diri dalam prosesi pembakaran mayat suami mereka.
Wartawan Amerika
ini mengaku tidak terlalu menikmati tari-tarian asli yang digelar oleh
controleur di Kloeng Kloeng untuk menyambutnya. Namun ia mengagumi seni kostum
mereka, gerakannya yang sulit, dan terlebih pula cara-cara komunitas desa
mendukung pendanaan untuk menyediakan kostum bagi tarian itu.
Bali termasuk
wilayah padat dalam amatannya. Setiap mil persegi, terdapat 325 penduduk. Daya
tahan tubuh orang Bali menurutnya lebih baik dari orang-orang di pulau-pulau
laut selatan, lantaran iklim yang sehat. Jadi populasi meningkat dengan cepat. Kekurangan yang paling kentara adalah
infrastruktur pelabuhan. Ia mengatakan, kapal-kapal Eropa jarang singgah di
pulau ini lantaran kualitas pelabuhan-pelabuhan yang ada tidak memadai.
Semasanya pemerintah Belanda belum mempunyai hotel, jadi ia menginap di sebuah
pesanggrahan milik pemerintah yang buruk kondisinya.
Cukup mengejutkan,
karena di bagian akhir catatannya ia berpendapat, lebih baik orang Bali tidak
mempunyai pelabuhan besar, supaya pesonanya tetap tersembunyi. Sebab daya pikat
pulau ini yang menurutnya lebih baik daripada bujukan seorang bankir di
Amerika, pastilah akan mendatangkan mimpi buruk buat mereka sendiri jika
pelaut-pelaut kulit putih menjambanginya. [T]