Politik.
Politik. Politik—dengan maraknya politik yang memanas pada pilpres tahun ini,
menimbulkan efek gerah bagi kalangan mahasiswa. Sehingga mereka merasa
terpanggil untuk angkat bicara—dan suara-suara mereka baru terealisasi pada:
Senin, 18 Maret 2019, dalam agenda acara yang diselenggarakan oleh PC IMM
Buleleng.
Dengan bentuk Diskursus Kecil Ala ILC, acara ini
mengundang berbagai organisasi-organisasi ekstra kampus dan intra kampus;
dengan masing-masing perwakilan pembicara atau sederhananya pematik, seperti PC
IMM Buleleng (Dammurrosysyi M), KAMMI Komisariat Singaraja (Abdul Razaq),
Al-Hikmah Undiksa (Didin Samsul M), HMI Singaraja (Achmad Halim), PC PMII
Singaraja (Mochammad Mahfud), PC KMHDI Buleleng (Putu Esa Purwita), PW PII Bali
(Fadzul Afyan), dan Compok Basi (Ahmad Anif Alhaki).
Acara ini bukan dalam rangka yang
gawat-gawat. Tapi ini hanyalah diskusus-diskusus ringan yang kebetulan ingin
mengundang segenap OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) yang ada di lingkungan
Undiksha/Singaraja. OKP tersebut bukan hanya mencakup suatu organisasi yang
digeluti oleh mahasiswa. Tetapi ada juga OKP yang digeluti oleh siswa,
contohnya: PW PII (Pelajar Islam Indonesia) Bali.
Selain itu,
adapun tema yang diangkat pada acara ini: Merawat Akal Sehat di Tahun Politik.
Tema ini dipilih berdasarkan subjektif anggota-anggota PC IMM Buleleng, yang
beranggapan bahwa politik yang terjadi saat ini sangatlah kotor.
Maka dari itu,
pemilihan tema yang seperti ini diharapkan dapat menetralisir kekotoran-kekotoran
politik tersebut, yang sering dimamahkan kepada masyarakat. Khususnya dalam
forum ini yang disasar adalah siswa dan mahasiswa, apanya yang disasar dari mereka?: akal sehatnya. Agar segenap siswa
dan mahasiswa tidak terkontaminasi dengan sajian politik kotor yang ada pada
pilpres Indonesia tahun ini
Untuk
kelancaran diskususnya, acara ini dikawal oleh moderator Samsul Arifin yang
berstatus anggota dari PC IMM Buleleng. Meski moderator ini tidak seserak Karny
Ilyas suranya, tapi ia dapat mengawal keberlangsungan acara dengan sangat baik,
aman, damai, bijaksana.
***
- Merawat
Akal Sehat di Tahun Politik
Memasuki inti dari acara, Samsul Arifin yang berstatus
sebagai moderator meminta pembicara dari masing-masing OKP untuk berpendapat
mengenai persoalan politik yang sedang terjadi saat ini. Kemudian menunjuklah
ia Ketua PC IMM Buleleng (Damurrosysyi M ) untuk berbicara sekaligus memjadi pembuka diskursus
pada tadi malam.
Damurrosysyi M berpendapat bahwa politik saat ini memang sangat
rusak. Dan tidak lain kerusakan tersebut disebabkan dari dua faktor: pertama, penebaran hoax yang
bermunculan. Hal-hal semacam hoax ini sangat merusak pola pikir para pemuda dan
secara tidak langsung memaksa mereka untuk terjerusmus dalam pola pikir yang
salah. Yang sengaja dibuat-buat oleh oknum-oknum dari masing-masing paslon
capres-cawapres untuk kepengentingan-kepentingan mereka dalam pilpres tahun
ini.
Kedua, penebaran ketakutan dan ancaman tertentu demi mendapatkan suara dan
simpati rakyat. Ini juga perbuatan yang salah dalam berpolitik. Sebab arah
kalimat-kalimat yang digunakan kemudian mengarah pada kebencian-kebencian yang
dimamahkan dan dipertontonkan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga,
apabila penerima dan pengonsumsi ancaman-ancaman tersebut tidak kuat dalam
bidang literasi atau meneliti benar tidaknya yang disampaikan para oknum-oknum
itu, maka yang terjadi adalah munculnya jiwa-jiwa kebencian dan fanatisme yang
berlebihan.
Setelah
itu Mochammad Mahfud juga berpendapat, bahwa : Mereka-mereka yang menyebabkan
kekacauan politik dan pengonsumsi isu-isu hoax sebenarnya mereka akalnya
sama-sama
sehat. Tapi nalarnya mereka
yang terlalu sempit, karena fanatisnya terhadap paslon. Sehingga membuat banyak kegaduhan-kegaduhan yang
bermunculan. Sampai-sampai kondisi politik saat ini tidak jauh beda dengan politik masa Orde Baru ; salah satu contohnya adalah terangkatnya isu-isu komunis
ke ruang publik.
Sehingga yang dicapai bukan
lagi persoalan kesejateraan, tetapi lebih keranah pembunuhan
moral.
Lanjut Achmad Halim berpendapat : Bahwasannya memang kerusakan politik saat ini banyak dicemari media sosial, media social yang mana? Media sosial yang menggunakan data-data dan berita-berita yang palsu guna untuk merusak akal sehat. Khususnya kerusakan akal sehat terhadap politik. Apalagi jika media-medianya menyebarkan hoax isu-isu agama. Pasti masyarakat akan cenderung aktif terhadap isu itu.
Karena dasar kulturnya memang begitu ; memang begitu kalau sebenarnya masyarakat Indonesia ini memang sensitiffan dan fanatikkan. Sehingga, dengan adanya gejala-gejala semacam itu akan semakin untuk mencapai yang dinamakan akal sehat—dan terciptanya akal sehat juga bukan dasar telanjang pemikiran setiap pribadi, tetapi juga membutuhkan persepektif -persepektif dari beberapa orang.
Berbeda
dengan apa yang disapakan oleh Ahmad Anif Alhaki. Ia lebih menyatakan pendapat terhadap perkumpulannya
yaitu, Compok Basi. Katanya, Compok Basi itu hanyalah perkumpulan kecil
yang tidak sengaja nyasar ke tempat perkumpulan-perkumpulan yang besar seperti
sekarang. Dan ini juga menjadi kebanggaan yang luar biasa bagi saya dan kawan
Compok Basi lainnya.
Ia juga berasumsi tentang penggalan tema yang terangkat, yaitu : Merawat akal sehat. Dari kata merawat tentu sudah pasti ada sesuatu yang kita punya dan ada sesuatu yang musti kita jaga. Apa? Akal. Saya yakin semua yang bisa hadir di depan saya ini punya akal semua.
Pertanyaan saya, apakah semua akal kawan-kawan yang ada di depan saya ini sudah sehat atau tidak? Dan untuk mendefinisikan akal sehat pun tidak sekadar mentah-mentah saja. Tetapi akal sehat juga harus teruji secara bentuk yang rill. Jika dalam suatu pengujian sudah lolos, maka bisalah beranggapan bahwa akal tersebut benar-benar sehat. Bukan sebatas cuma-cuma atau ala kadarnya menganggap sesuatu yang tidak sehat dipaksakan untuk sehat. Bukan seperti itu!
Ini
juga dapat diperdekatkan terhadap makna cebong dan kampret yang sering diumbar
di berbagai media. Dan
terkadang, setiap apa yang disampai oleh dua cebong dan kampret ini biasanya menyangkut-pautkan
dengan kitab suci yaitu Al Qur’an—dikit-dikit suruh cek Al Qur’an, dikit-dikit
suruh cek Hadist. Duh.Duh.Duh. Tapi
wajar sih, karena ini memang tahun
politik. Jadi semua bisa dipolitisasi, dan kebetulan agama dan kitab suci Al
Qur’an adalah suatu senjata yang paling ampuh untuk mencari dan mengikat suara
masyarakat. Dalam konteks yang beragama muslim.
Pernyataan
yang disampaikan oleh Fadzul Afyan hampir
serupa dengan pernyataan sebelumnya dalam memahami: Merawat akal sehat. Ia juga
mengemukakan bahwa setiap manusia mempunyai akal yang
sekaligus menjadi pembeda dengan mahluk yang lain. Dan dalam forum ini rasanya yang hadir manusia semua. Berarti sudah pasti punya akal meski tidak tahu
sehat tidaknya.
Ia
juga menyatakan sikap dirinya dan organisasi yang sangat sensitif terhadap
politik. Akibat dari kejadian masa silam yang masih menjadi trauma yang
membekas sampai saat ini. Bekas ini dimulai sejak PII pada masa Orde Baru
diancam untuk bekukankan. Dan akhirnya Soeharto membekukan sungguhan. Sejak saat
itulah PII takut dan was-was terhadap politik.
Sambung
Putu
Esa Purwita, tahun
politik sebenar yang jusrtu
merusak akal sehat. Dengan
banyaknya informasi informasi
yangg dikonsumsi secara mentah dan itu adalah
hoax. Maka yang
terjadi, timbullah bibit-bibit kebencian dan bentuk-bentuk tidak baik lainnya.
Pesan
saya hanyalah, pilihlah sesuai hati nurani
tanpa merusak demokrasi orang lain atau warga negara yang lain. Mari dukung
pemilu tahun 2019 tanpa ada rasisme dan tindakan tindakan radikal lainnya.
Yang
terakhir pernyataan yang disampai oleh Abdul Rozaq.
Ngelucu
sejenak.
Judul tren merawat akal sehat di tahun politik. Jika arti merawat berarti sudah ada yang tumbuh dan musti dijaga. Maka guna akal sehat sebenarnya adalah untuk memahami suatu keadaan secara autentik. Tanpa dikendalikan doktrin-doktrin apa pun. Dan juga keakalsehatannya juga perlu diuji secara valid. Agar kemudian tidak menciptakan paham sekadar ikut-ikutan.
Adapun juga tentang keadaan saat ini, yang begitu banyak racun-racun yang diperantarai media untuk merusak saraf-saraf akal sehat manusia. Meski, sebenarnya tidak semua media memahkan racun. Tapi justru pada apa yang musti disampaikannya. Entah itu yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif.
***
Setelah
semua dari masing-masing pembicara usai menyampai pendapat-pendapatnya.
Kemudian moderator mengalihwahanakan pada pembahasan mengenai keadaan demokrasi
yang sedang terjadi pada menjelang pilpres saat ini. Karena yang kita ketahui bersama bahwa
demokrasi sebenarnya ialah apa yang disampaikan oleh Abraham Lincoln, yaitu: Dari
rakyat. Oleh rakyat,
dan Untuk rakyat. Dan demokrasi
yang masih tercium baunya sampai sekarang ini adalah demokrasi
yang muncul
sejak runtuhnya masa
Orde
Baru.
Ahmad
Anif
alhaki memaknai sebuah
demokrasi
melalui
tiga konsep, yaitu:
Cinta (berdasarkan
perasaan), Kerendahan Hati (menghargai pendapat orang lain),
dan harapan (harus ada hasil yang dirapkan) agar tidak
menimbulkan sikap apatis.
Sedangkan
Nama
Urwah Al Barki seorang anggota
KAMMI lebih mengarahkan penjelasannya pada kesalahan demokrasi. Ia beranggapan
bahwa kesalahan demokrasi adalah ulah masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang
sebenarnya salah dalam memandang demokrasi. Sehingga yang terjadi ialah
kecenderungan berpikir buruk terhadap peran demokrasi dan keadaan demokrasi
yang terjadi seperti saat ini.
Lanjut
Jaswanto yang sebagai anggota HMI menyatakan pandangannya
tentang politik dan demokrasi. Katanya, dari hadulu kita telah melewati tiga tahap
demokrasi yang pernah dialami bangsa dan masyarakat Indonesia, yaitu demokrasi
parlementer, demokrasi terpimpin, dan kemudian yang yang terakhir adalah
demokrasi pancasila. Dan keadaan demokrasi saat ini telah menyayat sila keempat
yang berbunyi: Kerakyatan yang dimpin
oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan. Tapi kondisinya
sekarang bagaimana? Pemilu kita bagaimana? Apakah sudah menerapkan
permusyawaratan perwakilan itu? Tentu jawabannya tidak!
Kemudian
anggota Rodatul Sarifah anggota IMM juga berpendapat tentang demokrasi dan
juga dikaitkan pada peran-peran mahasiswa yang katanya agen perubahan. Tapi apakah mahasiswa sekarang bisa dibilang
agen perubahan? Atau justru yang mudah bergaul dengan hoax-hoax yang busuk.
Sehingga pada akhirnya hanya menimbulkan kontroversi dan terhindar
dari kemakmuran rakyat. Karena mereka
semua telah rabun literasinya, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang dimainkan
oleh pihak-pihak
tertentu hanya untuk menginginkan kursi kekuasaan. Bukan
kesejateraan. Masyarakat
juga sangat tidak sadar bahwa pecahnya bangsa Indonesia ini disebabkan oleh
kaum-kaum
berdasi yang
haus kekuasaan. Bahkan dengan
cara menumbalkan masyarakat.
Setelah
itu yang Ahmad Nur Amin anggota PMII yang sekaligus menjadi penutup tulisan
ini. Ia beranggapan bahwa sebenarnya kedaan demokrasi di Indonesia itu tidak pernah salah. Karena demokrasi yang berjalan sekarang sudah berjalan
sebagaimana mestinya. Meski dari pandangan beberapa pihak mengatakan tidak
sesuai, karena diperantarai banyaknya aturan-aturan dan batasan-batasan yang
harus dipatuhi sebagai warga negara.
Sebenarnya
kan bukan begitu. Demokrasi memang konsep kebebasan tapi bukan berarti tanpa
aturan. Maka dari itu, sebenarnya demokrasi memang membutuhkan aturan sebagai
ukuran batas. Agar tidak semena-mena menghakimi orang lain, agar tidak semena-mena
berbuat kriminalitas, agar tidak semena-mene berperilaku yang merugikan orang
lain. Maka, demokrasi itu perlu diberi batas. Dengan cara bagaimana? Dengan cara memberikan aturan yang sesuai
dan sebagai mana mestinya.
Politik adalah sesuatu yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Jadi jangan pernah takut untuk menyatakan diri sebagai orang yang berpolitik. Adapun cuitan-cuitan yang disampaikan dari para pembicara-pembicara: Betapa bangganya Soeharto jika memerintah pada tahun ini, betapa senangnya Soeharto jika memerintah pada masa ini, betapa tertawanya Soeharto jika berbuat zolim pada periode ini. Karena mahasiswa yang sangat ia ditakuti, karena mahasiswa yang selalu membawa berita buruk bagi pemerintahannya, seperti sediakala ketika meledakkan peristiwa 1998 ternyata sekarang sudah tidak lagi ditemukan! Bahkan telah hilang! [T]