Hening itu dalam hati masing-masing.
Hening itu dalam pikiran masing-masing. Hening itu
pada diri masing-masing. Hening itu pada lingkungan masing-masing. Mana mungkin
mencari hening keluar, jika dalam hati dan pikiran hening tidak bermukim. Mana
mungkin hati dan pikiran hening, jika di luaran sana situasi sedang keruh.
Intinya, hening itu berasal dari dalam dan luar diri masing-masing.
Ngomong selalu gampang. Giliran diuji keadaan, keruh
itu-itu juga yang menenggelamkan. Boleh saja bikin puisi sekardus, tapi yang
namanya perasaan siapa tahu kan? Biasanya yang namanya perasaan tetap
begitu-begitu saja. Sedikit saja lengah, maka dia akan jatuh terpuruk pada
kesedihan yang tidak bisa dijelaskan. Kesedihan bisa diterjemahkan begini “yang
ditemui bukanlah yang dicari, yang datang bukan yang dinanti”.
Saat kesedihan itu datang, boleh saja bikin tulisan
se-bus besar, tapi siapa yang menjamin kalau kesedihan yang keruh itu bisa
hilang kemudian? Saya tidak ingin mengatakan kalau perasaan-perasaan semacam
itu tidak baik. Bahkan kesedihan bisa menyediakan dirinya sebagai benih banyak
hal. Bukan hanya tulisan, tapi juga cara hidup. Contohnya Sutasoma, tokoh
sentral pada kakawin Sutasoma atau Purusadhasanta, sedih karena melihat
penderitaan orang lain, lalu berhasil mengatasinya dan menjadi Buddha.
Keheningan yang kita bicarakan kali ini, sudah
menjadi topik hangat pada jaman dahulu. Seringkali keheningan itu dihubungkan
dengan Bulan dan bayangannya. Bulan berada di atas, dan bayangannya ada pada
air telaga. Di telaga itu hiduplah seekor burung Cangak. Cangak itu, diam-diam
merindukan Bulan. Boleh kan saya rubah sedikit peribahasanya? Cangak merindukan
Rembulan. Si Cangak itu, ingin bertanya kepada Bulan. Begini “Apa yang bisa
hamba temukan di telaga ini selain bayang-bayang Puan?”.
Bayangan bulan di dalam telaga konon adalah ciri
keheningan. Hanya setelah heninglah segala yang sebelumnya tidak terpikirkan
bisa dipikirkan. Segala yang tidak diketahui bisa diketahui. Bahkan segala yang
samar-samar bisa menjadi jelas. Begitu rumusnya menurut Mpu Kano. Siapa Mpu
Kano? Beliau adalah penanggungjawab kakawin Arjunawiwaha. Beliau lebih dikenal
dengan nama Mpu Kanwa.
Selain Mpu Kanwa, ada lagi penyair yang tergila-gila
pada rembulan. Namanya Rumi. Dia dengan senang hati menjadi budak bagi
Rembulan. Ia berkata “Akulah budak sang bulan. Ini satu-satunya yang ku ingin.
Jadi Jangan banyak bicara padaku tentang yang lain daripada bulan, lilin, rasa
manis gula”. Begitulah, Bulan dan bayangannya di dalam telaga adalah hening.
Hening yang kita cari beramai-ramai.
Ada banyak karya shastra yang lahir dari permenungan
terhadap pencarian hening ini. Bahkan ada salah satu jenis karya shastra
kakawin yang khusus membicarakan cara mengadakan hening. Apalagi jika membaca
teks-teks yang agak tua, seperti teks tutur dan tattwa, itu pembicaraan super
duper buanyak. Kebanyakan teks itu berbahasa Jawa Kuna, jadi untuk mengerti,
seseorang musti memahami bahasanya.
Salah satu contohnya mari kita baca ungkapan berikut
ini; amrati mani karnni yatika ni mesya taya sah. Amrati berarti memberati.
Mani berarti permata. Karnni adalah telinga. Yatika berarti itu. Ni adalah
partikel penghubung. Mesya berarti berisi. Taya berarti tidak. Sah berarti
lepas. Jika digabung menjadi “memberati permata telinga itu berisi tidak
lepas”. Apa maksudnya?
Hasil terjemahan sepenggal-sepenggal di atas, akan
saya sesuaikan sedikit. Kata taya yang berarti tidak, bisa berafiliasi dengan
kata “ketiadaan” atau “kekosongan”. Kata “memberati permata telinga” saya
artikan bahwa kemampuan yang dimiliki telinga itulah yang diberatkan atau
dikonsentrasikan. Kemampuan telinga tentu saja adalah mendengar. Jadi ungkapan
tadi setelah saya sesuaikan, menjadi “telinga mendengar isi ketiadaan yang
seolah lepas”. Bagaimana telinga mendengar isi ketiadaan? Jawabannya bisa
didapat dengan menutup telinga!
Ungkapan tadi yang kita bicarakan, adalah kata-kata
Kresna kepada Nilacandra dalam sebuah karya shastra kakawin berjudul Nilacandra
atau Siwa-Buddhakalpa. Ungkapan itu dikatakan oleh Kresna saat membahas tentang
tahapan yoga. Penjelasan selanjutnya adalah tentang bagaimana cara-cara
beryoga. Penjelasan lanjutan itu tidak saya terangkan pada tulisan ini. Bukan
karena pelit, tapi penjelasannya sangat teknis dan panjang. Tangan Cangak saya
yang mungil ini pun mulai kelelahan. Maaf.
Maksud saya menunjukkan ungkapan itu, hanya karena saya ingin menunjukkan bahwa keheningan itu memang dicari-cari. Bahwa keheningan itu bisa didapat dengan menutup telinga, adalah salah satu jalannya. Tentu saja, keheningan bisa didapat dengan cara yang lain. Tapi jalan termudah dan terdekat adalah dengan menutup telinga. Bisa juga ditambah dengan menutup mata. Jangan dulu menutup hidung, dan mulut, nanti tidak bisa bernafas.
.
CANGAK YANG LAIN:
.
Oh iya. Hampir saya lupa. Saat saya ketik tulisan ini, di luar sedang hujan. Ibu sedang menyapu. Saya tahu itu, bahkan saat saya tidak melihatnya. Saya diberitahu oleh indera yang lain, suara sapunya sampai ketelinga saya. Bapak mungkin sedang di Pura karena besok Purnama. Besok adalah hari dimana bulan bersinar penuh menurut perhitungan wariga. Bulan Purnama Kadasa adalah bulan indah yang saya nanti-nanti.
Pernah sekali waktu saya perhatikan, pendar bulan
saat Purnama Kadasa berbeda dengan yang lain. Di sekeliling rembulan, terlihat
cahaya lain seperti cahaya berlapis-lapis. Mungkin itu yang disebut makalangan
oleh nenek saya dahulu.
Di antara segala bentuk keindahan yang ditawarkan
bulan purnama. Pikiran menghianati situasi. Ia jauh-jauh pergi ke New Zealand.
Tapi karena ia sangat cepat, jarak menjadi tidak berarti. New Zealand adalah
nama tempat yang dari dulu saya dengar penuh kedamaian, tapi di tempat itu pula
banyak orang meninggal karena kedamaian itu dikhianati. Entah apa sebabnya. Ada
yang bilang karena agama.
Tapi agama adalah akhlak yang bagai perahu untuk menyeberangi
lautan tidak hanya dengan pandangan. Setidaknya itu yang dikatakan Syekh
Fattaah dalam Gubahan Pecinta (A Travel Guide). Agama adalah Sang Hyang, yang
berarti sangat mulia dan dihormati. Setidaknya begitu menurut penuturan
teks-teks lontar sehingga ia disebut Sang Hyang Agama. Lalu apa sebabnya? Saya
tidak mau berasumsi, atau berspekulasi. Katakanlah saya pengecut, bahkan untuk
sekadar spekulasi.
Belum lagi habis pikiran itu menjelajahi bagian
dunia lain, saya hanya bisa melihat berita-berita tentang banjir dan gempa yang
melanda. Konon situasi itu, bisa disiasati dengan suatu cara. Jika ada gempa,
berlindung pada tanah lapang. Jika ada badai dan petir menyambar, berlindung
pada gua. Jika ada banjir, berlindung pada tanah yang tinggi. Jika semua itu
datang bersamaan kemana harusnya berlindung? Atau jika segala bencana itu
merasuk hingga ke dalam alam pikiran kemana mestinya berlindung?
Terlalu banyak hal-hal yang terjadi di luaran sana.
Dan belum ditemukan suatu solusi yang bisa melindungi banyak orang. Ada banyak
masalah besar yang belum terselesaikan. Seperti telaga ini, yang kian hari
makin mengering. Saya sungguh ingin bertanya pada para bijaksana, haruskah kita
tinggalkan telaga ini? Ataukah kita akan menetap disini? Dimanakah telaga baru
yang menawarkan kedamaian bagi semua penghuninya?
Dimanakah mestinya dicari segala keheningan? Kita
memang mencari hening itu kemana-mana. Tapi di atas semua itu, kita hanya ingin
mencari dan menanti sesuatu yang sederhana tapi sulit ditemukan. KEBAHAGIAAN. [T]