Puisi-puisi I Wayan Sumahardika# Elegi Koper Tua

Wayan Sumahardika
by Wayan Sumahardika — Maret 16, 2019 in Puisi

Tatkala.co

.

ELEGI KOPER TUA 

Mungkin inilah saat mengemasi hati masing-masing.

Memasukkannya dalam koper lusuh yang lapar.

Hanya bisa mengunyah sepi sendiri. Sementara 

sudah terlalu sesak kamar yang kita tinggali.

Kamar sempit di antara kesal terjepit. Pikiran 

melompat ke luar jendela. Percakapan tersesat.

Ditambah para Tuhan yang keramat. Tengah sengit 

berdebat. Menjadikan cinta kita kian berjarak.

Semua telah terlipat rapi dalam kotak persegi.

Laba-laba tua kehilangan sarang. Tak mampu lagi 

buat menyulam benang sendiri. Hanya bisa pasrah.

Larut perlahan bersama apak koper. Memudarkan 

diri. Mengekalkan perpisahan hati. 

.

EPILOG 

Inikah rasanya, berada di rahim bumi 

Kembali menjadi benih yang tak pasti 

Lahir disambut cium bibir matahari 

Atau membiarkan diri gugur 

          terkikis bisu tanah 

Jika sekarang waktunya memilih, 

Akan kupilih hidup bagi anakku 

Sebab telah kesekian kali 

diri lahir kembali 

Namun tak pernah sanggup 

         menanggalkan cemberut 

pada bibir anak sendiri 

Apalah yang beda dari kematian saat ini 

Sedang rumah tinggal berada 

        di antara palung dan tebing gunung 

Hari-hari adalah menanggalkan ketakutan 

Buat hidup sampai esok pagi 

Nak, 

Jika nanti, namaku ada dalam pencarian 

Jangan biarkan orang-orang itu 

Menggali tanah kita.

Relakan saja tubuh ini terkubur 

Menjadi pupuk buat bekal hidupmu kelak 

Lupakan saja aku, 

Seperti kau melupakan tangis kemarin 

Saat menginginkan mainan baru 

.

ASAL WAKTU 

Seperti mekar bunga 

yang berserah pada cuaca entah 

Ia pun tetap menghitung 

         angka-angka mati ditiap detiknya 

Namun selalu saja, ada yang terlupa 

Saat matahari melangkah igau 

Membentur ubun pohonan 

Seketika segala terkesiap 

          Mengejar pepat kereta waktu 

Begitu cepatnya! Jam-jam berdetak gagu 

Angka-angka yang bisu mulai terbata

Dan perhitungan pun kembali pada detik pertama 

.

SATIRE III : MELANKOLIA

Belum genap sehari kita berpisah 

Waktu sudah terasa begitu purba 

Kenangan kita adalah karat-karat besi 

yang meredam panas matahari 

–hingga jadi tua dan linglung-

           membuat macet jalanan kota.

Masihkah ada cinta di antaranya?

Ah, mengapa hati mesti bertanya 

Sedang pikiran terus melaju 

          menjelma roda yang selip 

menggiring mobil ringsek ke taman 

membentur tembok-tembok kusam.

Larilah denting jam yang pincang! 

Bawa renta matahari menuju kubur laut 

tempat meniriskan duka-duka ombak 

Sambutlah tawa nelayan 

Memanggul ikan-ikan yang kelak 

lahir dari rahim tempayan 

.

*Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 1 Maret 2015

Tag: Puisi
Avatar

Wayan Sumahardika

Related Posts
Fiksi

Pesugihan Menelan Korban

BY Chusmeru April 02, 2026

BEBERAPA bulan setelah pemutusan hubungan kerja (PHK), nasib Sugiyatno tak menentu. Uang pesangon dari perusahaannya perlahan habis buat biaya hidup sehari-hari bersama istri dan...

Read More