Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Di Altar Sucimu, Tuhan
Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku jalan terang, tuhandi gelap hati ini...
.
Mungkin inilah saat mengemasi hati masing-masing.
Memasukkannya dalam koper lusuh yang lapar.
Hanya bisa mengunyah sepi sendiri. Sementara
sudah terlalu sesak kamar yang kita tinggali.
Kamar sempit di antara kesal terjepit. Pikiran
melompat ke luar jendela. Percakapan tersesat.
Ditambah para Tuhan yang keramat. Tengah sengit
berdebat. Menjadikan cinta kita kian berjarak.
Semua telah terlipat rapi dalam kotak persegi.
Laba-laba tua kehilangan sarang. Tak mampu lagi
buat menyulam benang sendiri. Hanya bisa pasrah.
Larut perlahan bersama apak koper. Memudarkan
diri. Mengekalkan perpisahan hati.
.
Inikah rasanya, berada di rahim bumi
Kembali menjadi benih yang tak pasti
Lahir disambut cium bibir matahari
Atau membiarkan diri gugur
terkikis bisu tanah
Jika sekarang waktunya memilih,
Akan kupilih hidup bagi anakku
Sebab telah kesekian kali
diri lahir kembali
Namun tak pernah sanggup
menanggalkan cemberut
pada bibir anak sendiri
Apalah yang beda dari kematian saat ini
Sedang rumah tinggal berada
di antara palung dan tebing gunung
Hari-hari adalah menanggalkan ketakutan
Buat hidup sampai esok pagi
Nak,
Jika nanti, namaku ada dalam pencarian
Jangan biarkan orang-orang itu
Menggali tanah kita.
Relakan saja tubuh ini terkubur
Menjadi pupuk buat bekal hidupmu kelak
Lupakan saja aku,
Seperti kau melupakan tangis kemarin
Saat menginginkan mainan baru
.
Seperti mekar bunga
yang berserah pada cuaca entah
Ia pun tetap menghitung
angka-angka mati ditiap detiknya
Namun selalu saja, ada yang terlupa
Saat matahari melangkah igau
Membentur ubun pohonan
Seketika segala terkesiap
Mengejar pepat kereta waktu
Begitu cepatnya! Jam-jam berdetak gagu
Angka-angka yang bisu mulai terbata
Dan perhitungan pun kembali pada detik pertama
.
Belum genap sehari kita berpisah
Waktu sudah terasa begitu purba
Kenangan kita adalah karat-karat besi
yang meredam panas matahari
–hingga jadi tua dan linglung-
membuat macet jalanan kota.
Masihkah ada cinta di antaranya?
Ah, mengapa hati mesti bertanya
Sedang pikiran terus melaju
menjelma roda yang selip
menggiring mobil ringsek ke taman
membentur tembok-tembok kusam.
Larilah denting jam yang pincang!
Bawa renta matahari menuju kubur laut
tempat meniriskan duka-duka ombak
Sambutlah tawa nelayan
Memanggul ikan-ikan yang kelak
lahir dari rahim tempayan
.
*Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 1 Maret 2015
Beri Aku Tuhan beri aku bersimpuh, tuhandi kaki padma sucimu beri aku bersujud, tuhanjiwa raga terselimuti jelaga kehidupan beri aku jalan terang, tuhandi gelap hati ini...
Yayasan Mudra Swari Saraswati dengan bangga kembali menghadirkan Ubud Artisan Market (UAM), curated market yang merayakan kreativitas, komunitas, dan kerajinan tangan lokal berkua...
Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya. Dari akta yang “dibantu”, fakta ya...
PERAYAAN Easter atau Paskah sering kali dipahami secara eksklusif sebagai peristiwa keagamaan dalam tradisi Kristen. Ia dikaitkan dengan kebangkitan Yesus Kristus setelah penyalib...
KONFLIK antara Amerika Serikat dan Iran memang sedang memanas. Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terasa jauh, macam konflik geopolitik yang hanya relevan bagi para analis...
MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai menghangat oleh derap langkah ribuan m...
MENTAL pengemis bahkan tak berhubungan dengan kemiskinan. Itulah kenapa di Indonesia, mental ini lebih banyak diderita bukan oleh orang-orang yang miskin. Dari level terbawah hing...
Perang Teluk Peristiwa penting dalam babak sejarah duniaGeopolitik modern yang tersirat krisis internasionalKonflik regional yang penuh ambisi dan amarahNegara kawasan bergegas...
SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga cabai, tiba-tiba mendadak pu...
Dua Sayap Kesadaran Dalam perjalanan panjang peradaban manusia, seringkali seni dan sains diposisikan sebagai dua kutub yang berbeda. Sains dianggap dingin, objektif, rasional....