MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai menghangat oleh derap langkah ribuan manusia. Saya berdiri di tengah kerumunan itu, mengenakan pakaian adat putih yang senada dengan lautan manusia lainnya. Hari ini bukan sekadar berjalan kaki; hari ini adalah tentang ngiring mengawal kesucian menuju samudera.
Perayaan Purnama Kedasa kali ini terasa begitu magis. Sebagai warga sekaligus mahasiswa sastra, saya melihat ritual Melasti Desa Adat Buleleng bukan hanya sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebuah puisi visual yang bergerak. Sebanyak 89 sarad (simbol persembahan dan kekuatan tuhan) diarak dengan gagah, membelah jalanan Buleleng menuju bibir pantai.
Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng | Foto: Putu Eka
Di sebelah saya, Bli Gede Putra, seorang pemuda yang bahunya tampak memerah karena memikul pratima (benda suci), sesekali menyeka keringat dengan ujung udengnya. Meski peluh mengucur deras, tak ada guratan kesal di wajahnya.
"Lelah itu pasti, tapi ada rasa lega yang sulit dijelaskan saat kita sudah sampai di tepi laut. Ini cara kami mencuci diri, bukan cuma benda-benda suci ini yang dibersihkan, tapi pikiran kita juga," ujar Bli Gede sambil tersenyum tipis di sela-sela istirahat sejenak.
Suara gamelan balaganjur yang bertalu-talu seolah menjadi bahan bakar bagi ribuan pasang kaki. Iramanya yang dinamis seakan mengusir rasa kantuk dan penat, mengubah perjalanan panjang menuju Segara menjadi sebuah pawai spiritual yang penuh gairah.
Sesampainya di Pura Segara, pemandangan berubah menjadi lebih syahdu. Debur ombak Pantai Utara Bali seolah menyambut kedatangan rombongan. Di bawah sinar matahari yang mulai terik, ribuan krama (warga) duduk bersila di atas pasir. Wangi dupa menyeruak, beradu dengan aroma garam dari laut.
Prosesi ritual ini bertujuan untuk memohon tirta amerta (air suci kehidupan) dan menghanyutkan segala kotoran spiritual (leteh) ke tengah samudera. Dalam pandangan kami, laut adalah muara terakhir sekaligus sumber awal kehidupan yang tak terbatas.
"Tahun ini sangat ramai, mungkin karena semua orang rindu dengan suasana kebersamaan yang penuh seperti ini," bisik Ni Luh Terena, seorang mahasiswi yang juga ikut dalam rombongan pembawa banten. "Melihat 89 sarad berjajar di pinggir laut itu... ada rasa bangga menjadi bagian dari tradisi ini.”
Bagi saya pribadi, mengikuti Melasti kali ini memberikan perspektif baru. Di balik kemegahan visualnya, ada kerja sama yang luar biasa antar-banjar di Desa Adat Buleleng. Tradisi ini adalah "lem" yang merekatkan kami di tengah gempuran modernisasi yang kian kencang.
Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng | Foto: Putu Eka
Saat matahari mulai condong ke barat dan ritual usai, kami kembali dengan perasaan yang lebih ringan. Benda-benda pusaka telah dibasuh, doa-doa telah dilangitkan, dan jiwa-jiwa kami setidaknya untuk saat ini terasa setenang permukaan laut setelah badai.
Melasti di Buleleng bukan hanya soal memindahkan benda suci ke tepi pantai. Ia adalah perjalanan pulang menuju fitrah manusia: bersih, rendah hati, dan selaras dengan alam semesta. [T]
Reporter/Penulis: Putu Gangga Pradipta Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...