SETELAH keberhasilan album ke-10 ‘Bali Metangi’ pada 2022, Lolot Band kembali menegaskan eksistensinya lewat rilisan terbaru mereka, ‘Tajir Melintir’. Album ke-11 ini akan di-launching dalam gelaran BALIROCKSHOW, Sabtu, 4 April 2026, di Gedung I Ketut Maria, Tabanan. Bukan sekadar peluncuran album, acara tersebut juga sekaligus menjadi perayaan ulang tahun ke-12 semeton BALIROCKERS, komunitas penggemar yang telah tumbuh bersama band ini selama lebih dari dua dekade.
Digawangi oleh Made Bawa (vokal, gitar), Lanang alias Mr. Botax (bass, vokal), Donnie Lesmana (gitar), dan Hendra Dwiartha (drum), Lolot Band tetap konsisten dengan identitas mereka. Dalam album ini, mereka menghadirkan enam lagu pilihan: ‘Meserah Pasrah’, ‘Silih-Silih Kambing’, ‘Jujur’, ‘Dewi Supraba’, ‘Tajir Melintir’, dan ‘Cerita Kita’. Tema yang diangkat masih berpijak pada hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari isu sosial, cinta, hingga persahabatan.
Namun, ada satu pembeda yang cukup mencolok. Untuk pertama kalinya dalam album ini, Lolot Band menyertakan lagu berbahasa Indonesia, ‘Cerita Kita’, yang dinyanyikan oleh Mr. Botax. Kehadiran lagu ini memberi warna baru, sekaligus membuka kemungkinan audiens yang lebih luas tanpa meninggalkan akar yang sudah mereka bangun.
Konferensi pers Album ‘Tajir Melintir’ Lolot Band│Foto: tatkala.co/Dede
Di balik pemilihan judul album, tersimpan pesan yang ingin disampaikan secara tegas oleh band ini. Made Bawa menjelaskan bahwa ‘Tajir Melintir’ bukan sekadar frasa yang terdengar ringan, tetapi mengandung motivasi yang dalam. Ia mengatakan bahwa lagu tersebut dimaksudkan sebagai sugesti menuju kesuksesan, sekaligus pengingat agar tidak menilai seseorang dari penampilan luarnya. Ia menekankan bahwa meremehkan orang lain adalah kesalahan yang sering terjadi dalam kehidupan sosial.
Lebih jauh, Made Bawa juga menyampaikan pesan yang terasa personal sekaligus universal. “Siapa pun yang sedang berada di titik terendah tidak boleh menyerah, karena selalu ada kemungkinan untuk mencapai puncak kesuksesan,” tuturnya, seraya menyapa dan memotivasi para penggemar yang hadir dalam konferensi pers pada Rabu, 1 April 2026.
Pilihan lagu ‘Silih-Silih Kambing’ sebagai video klip pertama juga bukan tanpa alasan. Menurut Made Bawa, lagu ini memiliki tema yang nyentrik namun menyentil realitas sosial. Dengan balutan musik energik khas Lolot Band, lagu ini mengangkat fenomena pinjam-meminjam yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa pesan utama lagu tersebut adalah pentingnya menghargai bantuan orang lain, sekecil apa pun bentuknya, serta menjaga tanggung jawab sebagai bagian dari etika sosial.
Dalam penjelasannya, ia juga menyinggung bahwa konflik sering muncul dari hal-hal sederhana seperti ini. Jika tidak disikapi dengan bijak, hubungan pertemanan bisa rusak hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi dan tanggung jawab.
Konferensi pers Album ‘Tajir Melintir’ Lolot Band│Foto: tatkala.co/Dede
Dari sisi produksi, Lolot Band mengambil pendekatan yang lebih ringkas. Mr. Botax mengungkapkan bahwa keputusan menghadirkan enam lagu dalam album ini bukan tanpa pertimbangan. Ia menjelaskan bahwa pada album-album sebelumnya, mereka memproduksi banyak lagu, namun tidak semuanya bisa dibawakan saat tampil di panggung. Karena itu, kali ini mereka memilih untuk lebih selektif, menghadirkan lagu-lagu yang benar-benar siap dibawakan di atas panggung.
Peluncuran album ini juga akan dikemas dalam suasana yang lebih intim melalui BALIROCKSHOW. Setelah sukses menggelar BALIROCKFEST pada 2019 dan 2022, Lolot Band kini memilih format yang lebih kecil, namun tetap menjaga esensi sebagai ruang perayaan bagi BALIROCKERS.
Menambah daya tarik acara, Lolot Band juga menyiapkan doorprize berupa tiga buah gitar yang telah ditandatangani oleh seluruh personel. Gitar tersebut akan diundi melalui tiket masuk, menjadi bentuk apresiasi langsung kepada para penggemar yang hadir.
Lolot Band foto bersama salah satu penggemar│Foto: tatkala.co/Dede
Selain merilis album di berbagai platform digital, Lolot Band juga tetap mempertahankan rilisan fisik. Album ‘Tajir Melintir’ juga tersedia dalam bentuk CD, tetapi dengan jumlah terbatas dan hanya dicetak dalam satu periode. Keputusan ini diambil sebagai upaya menjaga nilai koleksi bagi para penggemar, sekaligus mempertahankan tradisi yang mulai jarang dilakukan oleh banyak musisi.
“Tidak menutup kemungkinan, suatu saat album ini akan dicetak ulang, meski tetap dalam jumlah terbatas,” ujar Hendra Dwiartha, drummer Lolot. Baginya, rilisan fisik bukan sekadar media, melainkan bagian dari perjalanan yang bisa disimpan dan dikenang.
Melalui ‘Tajir Melintir’, Lolot Band tidak hanya merilis karya baru, tetapi juga mempertegas eksistensi mereka sebagai band berbahasa Bali yang konsisten selama lebih dari dua dekade. Dalam album ke-11 ini, mereka menyisipkan pesan sederhana namun relevan: tentang menghargai, bertahan, dan percaya bahwa setiap orang punya peluang untuk terus bangkit. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...