Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Pameran Seni Rupa di Bentara Budaya Bali kali ini mengetengahkan karya-karya terpilih perupa Hari Budiono dalam bingkai tajuk “Memedi Sawah”.
Memedi Sawah atau orang-orangan sawah atau di Bali disebut Lelakut, dapat diartikan sebagai simbol teror kepada lingkungan. Merujuk pada fungsinya, yaitu menakut-nakuti hewan dan hama di sawah. Menurut Hari Budiono, sawah adalah perumpamaan dari suatu ekosistem yang harus dijaga dari gangguan. Tetapi pada kenyataannya acap kali terlihat bahwa sang penjaga inilah yang sekarang menjadi pengganggu dalam suatu lingkungan.
Tertaut pameran ini, budayawan Sindhunata mengungkapkan bahwa memedi sawah itu jadi tidak menakutkan lagi, mereka telah tertawa dengan tawa manusia Indonesia, mulai dari presiden sampai rakyat biasa. Memang, ketakutan sosial hanya bisa dikalahkan dengan tertawa bersama-sama. Ketakutan itu memecah belah, sedangkan tertawa itu menyatukan.
Eksibisi menampilkan 8 lukisan dan 1 karya instalasi bertajuk “Jangan Takut Memedi Sawah“, terdiri dari 100 orang-orangan sawah yang memegang lukisan wajah tokoh yang sedang tertawa dan syair lagu Ibu Pertiwi. Ini dimaknai sebagai perlawanan terhadap teror yang dilakukan oleh para memedi sawah. Adapun lukisan yang dipamerkan banyak mengambil tema kritik sosial terhadap situasi yang berkembang di masyarakat.
Eksibisi menampilkan 8 lukisan dan 1 karya instalasi bertajuk “Jangan Takut Memedi Sawah“, terdiri dari 100 orang-orangan sawah yang memegang lukisan wajah tokoh yang sedang tertawa dan syair lagu Ibu Pertiwi. Ini dimaknai sebagai perlawanan terhadap teror yang dilakukan oleh para “memedi sawah”.
Pameran kali ini mengedepankan tema kritik sosial terhadap situasi yang berkembang di masyarakat. Pembukaan dimaknai Pembacaan Puisi oleh dramawan Abu Bakar, pertunjukan tari “Lelakut” oleh Komunitas Bumi Bajra dengan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani.
Selain di Bentara Budaya Bali, pameran ini diselenggarakan pula di Bentara Budaya Jakarta (14-23 Februari 2019), Bentara Budaya Solo (14-20 Maret 2019) dan Bentara Budaya Yogyakarta (23-30 Maret 2019).
HARI BUDIONO adalah kurator di Bentara Budaya. Ia lulus Sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI“ Yogyakarta tahun 1985. Ketika tahun 1982 Jakob Oetama mendirikan Bentara Budaya di Yogyakarta, bersama Sindhunata, GM Sudarta, JB Kristanto, Hajar Satoto, dan Ardus M Sawega, dia menjadi pelaksana angkatan pertama.
Pernah menjadi Wartawan Majalah Bergambar Jakarta-Jakarta (tahun 1986 – 1989 dan 1993 – 1994), serta menjadi Redaktur Foto Harian Bernas Yogyakarta (tahun 1990 – 1993). Menulis feature dan liputan budaya untuk media Tabloid Citra, Majalah Intisari, The Jakarta Post, dan Harian Kompas. [*/T]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...