Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Pameran Seni Rupa di Bentara Budaya Bali kali ini mengetengahkan karya-karya terpilih perupa Hari Budiono dalam bingkai tajuk “Memedi Sawah”.
Memedi Sawah atau orang-orangan sawah atau di Bali disebut Lelakut, dapat diartikan sebagai simbol teror kepada lingkungan. Merujuk pada fungsinya, yaitu menakut-nakuti hewan dan hama di sawah. Menurut Hari Budiono, sawah adalah perumpamaan dari suatu ekosistem yang harus dijaga dari gangguan. Tetapi pada kenyataannya acap kali terlihat bahwa sang penjaga inilah yang sekarang menjadi pengganggu dalam suatu lingkungan.
Tertaut pameran ini, budayawan Sindhunata mengungkapkan bahwa memedi sawah itu jadi tidak menakutkan lagi, mereka telah tertawa dengan tawa manusia Indonesia, mulai dari presiden sampai rakyat biasa. Memang, ketakutan sosial hanya bisa dikalahkan dengan tertawa bersama-sama. Ketakutan itu memecah belah, sedangkan tertawa itu menyatukan.
Eksibisi menampilkan 8 lukisan dan 1 karya instalasi bertajuk “Jangan Takut Memedi Sawah“, terdiri dari 100 orang-orangan sawah yang memegang lukisan wajah tokoh yang sedang tertawa dan syair lagu Ibu Pertiwi. Ini dimaknai sebagai perlawanan terhadap teror yang dilakukan oleh para memedi sawah. Adapun lukisan yang dipamerkan banyak mengambil tema kritik sosial terhadap situasi yang berkembang di masyarakat.
Eksibisi menampilkan 8 lukisan dan 1 karya instalasi bertajuk “Jangan Takut Memedi Sawah“, terdiri dari 100 orang-orangan sawah yang memegang lukisan wajah tokoh yang sedang tertawa dan syair lagu Ibu Pertiwi. Ini dimaknai sebagai perlawanan terhadap teror yang dilakukan oleh para “memedi sawah”.
Pameran kali ini mengedepankan tema kritik sosial terhadap situasi yang berkembang di masyarakat. Pembukaan dimaknai Pembacaan Puisi oleh dramawan Abu Bakar, pertunjukan tari “Lelakut” oleh Komunitas Bumi Bajra dengan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani.
Selain di Bentara Budaya Bali, pameran ini diselenggarakan pula di Bentara Budaya Jakarta (14-23 Februari 2019), Bentara Budaya Solo (14-20 Maret 2019) dan Bentara Budaya Yogyakarta (23-30 Maret 2019).
HARI BUDIONO adalah kurator di Bentara Budaya. Ia lulus Sekolah Tinggi Seni Rupa “ASRI“ Yogyakarta tahun 1985. Ketika tahun 1982 Jakob Oetama mendirikan Bentara Budaya di Yogyakarta, bersama Sindhunata, GM Sudarta, JB Kristanto, Hajar Satoto, dan Ardus M Sawega, dia menjadi pelaksana angkatan pertama.
Pernah menjadi Wartawan Majalah Bergambar Jakarta-Jakarta (tahun 1986 – 1989 dan 1993 – 1994), serta menjadi Redaktur Foto Harian Bernas Yogyakarta (tahun 1990 – 1993). Menulis feature dan liputan budaya untuk media Tabloid Citra, Majalah Intisari, The Jakarta Post, dan Harian Kompas. [*/T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...