Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Kalau ambil data dari Kompas, negara maju rata-rata 14 persen penduduknya merupakan entrepreneur sedangkan Indonesia masih di angka 3,1 persen. Kalau Bali gimana? Belum dapat angka resminya. Mungkin kecil banget?
Bagaimana meningkatkan jumlah entrepreneur? Atau, simpelnya, bagaimana cara menjadi entrepreneur agar jumlah entrepreneur bertambah? Menunggu langkah pemerintah dulu, ah, kayaknya terlampau bermimpi.
Tapi, bolehlah bermimpi. Ya, mimpi jadi entrepreneur.
Mimpi yang paling dekat adalah membuat mimpi. Gak susah kok bermimpi. Duduk. merenung. Lantas berimaginasi punya usaha yang sukses. Mudah bukan? Hahaha...
Ya, memang begitu. Mesti punya mimpi dahulu. Apa sajalah mimpinya, boleh saja, asalkan mimpi punya bisnis. Bisnisnya apa saja boleh. Biar gak terlalu susah, mimpinya punya bisnis yang dekat-dekat saja dengan diri kita. Mimpi punya bisnis yang sesuai dengan hobi, kesenangan, dan yang menyenangkan diri sendiri dulu.
Setelah punya mimpi, tulis mimpi di secarik kertas, simpan di dompet. Atau ganti foto pacar di dinding kamar dengan kata-kata mutiara mimpi kita. Atau disimpan dalam pikiran. Nah, setelah itu pikirkan setiap hari. Imaginasikan seolah-olah nyata, rasakan dan hirup sehingga terasa nikmat mimpi itu, serasa menghirup aroma kopi.
Jika telah bisa merasakan nikmatinya mimpi itu, lalu apa yang dipikirkan lagi? Pertanyaan-pertanyaan jadi pikiran. Pasti muncul pertanyaan ini: di mana cari modal, di mana buka usaha, konsumennya siapa? Kalau rugi gimana? Ribet ya.
Sederhana saja solusinya. Lakukan saja sesuai kata hatimu. Gak mesti ditentukan start dari mana. melangkah saja. Yakin, kalau sudah dapat melangkah sekali saja, nanti akan ketemu awalan yang bagus. Jadi, melangkah dulu, biar ketemu awalan.
Jadi, memulai bisnis itu sederhana: bermimpilah. Lakukan kemudian. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...