Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Kalau ambil data dari Kompas, negara maju rata-rata 14 persen penduduknya merupakan entrepreneur sedangkan Indonesia masih di angka 3,1 persen. Kalau Bali gimana? Belum dapat angka resminya. Mungkin kecil banget?
Bagaimana meningkatkan jumlah entrepreneur? Atau, simpelnya, bagaimana cara menjadi entrepreneur agar jumlah entrepreneur bertambah? Menunggu langkah pemerintah dulu, ah, kayaknya terlampau bermimpi.
Tapi, bolehlah bermimpi. Ya, mimpi jadi entrepreneur.
Mimpi yang paling dekat adalah membuat mimpi. Gak susah kok bermimpi. Duduk. merenung. Lantas berimaginasi punya usaha yang sukses. Mudah bukan? Hahaha...
Ya, memang begitu. Mesti punya mimpi dahulu. Apa sajalah mimpinya, boleh saja, asalkan mimpi punya bisnis. Bisnisnya apa saja boleh. Biar gak terlalu susah, mimpinya punya bisnis yang dekat-dekat saja dengan diri kita. Mimpi punya bisnis yang sesuai dengan hobi, kesenangan, dan yang menyenangkan diri sendiri dulu.
Setelah punya mimpi, tulis mimpi di secarik kertas, simpan di dompet. Atau ganti foto pacar di dinding kamar dengan kata-kata mutiara mimpi kita. Atau disimpan dalam pikiran. Nah, setelah itu pikirkan setiap hari. Imaginasikan seolah-olah nyata, rasakan dan hirup sehingga terasa nikmat mimpi itu, serasa menghirup aroma kopi.
Jika telah bisa merasakan nikmatinya mimpi itu, lalu apa yang dipikirkan lagi? Pertanyaan-pertanyaan jadi pikiran. Pasti muncul pertanyaan ini: di mana cari modal, di mana buka usaha, konsumennya siapa? Kalau rugi gimana? Ribet ya.
Sederhana saja solusinya. Lakukan saja sesuai kata hatimu. Gak mesti ditentukan start dari mana. melangkah saja. Yakin, kalau sudah dapat melangkah sekali saja, nanti akan ketemu awalan yang bagus. Jadi, melangkah dulu, biar ketemu awalan.
Jadi, memulai bisnis itu sederhana: bermimpilah. Lakukan kemudian. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...