Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Saya tanya, “Nak ngudiang Pak ?"
Sekedar basa basi mengingat kekurangpahaman saya tentang pertanian, Bapak kemudian menjawab singkat “mekukung biin mani ”. Mekukung, istilah dari dari Byukukung.
Apa itu Byukukung? Byukukung merupakan salah satu acara sistem ritual dari budaya agraris di Bali, ini dilaksanakan ketika tanaman padi hendak hamil, atau sedang hamil muda.
Byukukung dilakukan di sawah-sawah, atau tepatnya pada cakangan, pintu air atau lebih mirip disebut lubang air yang menjadi tempat (hulu) masuknya air di tiap petak-petak sawah garapannya.
Saya tertarik menuangkannya dalam sebuah tulisan mengingat masyarakat pertanian sudah terpinggirkan ditengah derasnya arus pembangunan, sehingga generasi mendatang mungkin hanya mendengar nama byukukung dari cerita generasi terdahulu yang pernah mengalaminya. Termasuk saya sendiri yang tidak tertarik menjadi petani namun, tidak pernah terpikirkan menjual sawah karena tidak pernah membeli.
Ritual Byukukung memiliki berbagai macam keunikan yang telah saya amati di Subak Sukabayu, Banjar Gagah, Desa Tegallalang, Gianyar. Keunikan tersebut tentunya akan berbeda dengan ritual byukukung di lokasi lain, mengingat adanya konsep desa kala patra.
Keunikan itu berupa penggunaan penjor, ketupat berbagai jenis, penggunaan cili, dan utik dari pelepah kelapa. Waktu pelaksanaan juga berbeda pada tiap-tiap subak sesuai dengan masa hamil padi Pelaku utama dari byukukung adalah petani pemilik atau penggarap sawah masing-masing.
Dari pengamatan, byukukung dalam pelaksanaannya dapat di bagi menjadi 2 tahap, yaitu (1) tahap persiapan, dan (2) tahap pelaksanaan.
Pada tahap persiapan dilakukan dengan mempersiapkan sesajen yang akan dipergunakan pada saat Byukukung. Bambu kecil melengkung, daun enau, tamas, ceper, tatakan segehan, janur, berbagai jenis buah, berbagai jajan, salah satu yang terisi adalah jaje dadalan belek dan satuh, beras, basan buat (campuran kayu manis, biji wijen, dan buah pala), kunyit, kapas, ngaad dan utik.
Bambu kecil melengkung dipergunakan untuk penjor byukukung, dihias dengan daun enau. Penjor Byukukung hanya dihias dengan daun enau tanpa berisi pala gantung, pala bungkah seperti layaknya penjor pada saat hari Raya Galungan. Kepe, tamas, ceper, taledan dan tatakan segehan dibuat dari dari daun kelapa yang sudah tua (selepan) dibentuk sedemikian rupa sebagai wadah dari suatu banten yang akan dibuat.
Janur diproses menjadi berbagai macam jejahitan seperti cenigan, cili lanang istri, canang, canang meraka, sampian byukukung, dan yang paling unik adalah berbagai jenis ketupat seperti ketupat nasi, ketupat sirikan, ketupat dampulan, ketupan sai, ketupat lepet, ketupat utu, ketupat kibul bebek, ketupat taluh, ketupat kukur sidayu, ketupat balang, ketupat udang, ketupat yuyu, dan ketupat pagan.
Pelepah kelapa yang sudah tua akan diproses menjadi utik, yaitu obor yang dibuat dari pelepah kelapa kering. Carang dadap dibuat untuk tegen-tegenan diisi dengan ketupat nasi, pala gantung, pala bungkah, dan jaje dadalan kering. Lidi 3 biji akan dililit dengan benang tridatu merah, hitam, putih, dan juga dililit dengan tanaman merambat bernama kesimbukan.
Setelah semua sarana siap, maka banten untuk ritual Byukukung akan disusun. Banten yang dibuat antara lain, dapetan tumpeng 5, gebogan, sorohan, cenik, banten lingian, sesayut. Mempersiapkan ulam banten yang disebut isin srawah yaitu kepiting, udang, ikan nyalian, belalang, dan capung.
Sarana upacara di atas tidak akan lengkap tanpa adanya unsur tirta, air suci sebagai pemuput dari upacara. Tirta yang dipergunakan untuk ritual Byukukung nunas dari Pura Ulun Suwi, Pura Pucak Sari, Pura Bukit Sari, dan Pura Masceti. Semua sarana kemudian akan ditata dalam keben besar pada sehari sebelum Byukukung.
Tahap kedua dari ritual byukukung adalah pelaksanaan. Mengenai pelaksanaan di Subak Sukabayu berdasarkan perintah dari pekaseh dengan mempertimbangkan usia padi yang sudah akan hamil dan atau sudah hamil.
Beberapa hari sebelum pelaksanaannya, Saye atau juru arah dari Subak akan mendatangi masing-masing rumah dari anggota subak, pemilik sawah maupun penggarap sawah untuk memberitahu pelaksanaan Byukukung. Di sini yang melaksanakan Byukukung hanya pemilik sawah yang langsung menggarap sawahnya, dan atau penyakap sawah, sedangkan pemilik yang tidak langsung menggarap sawahnya tidak melaksanakan Byukukung.
Sehari sebelum Byukukung, anggota subak yang melaksanakan byukukung memasang penjor Byukukung di cakangan atau tempat masuknya air ke sawah masing-masing yang ditandai dengan sebuah tugu limas.
Byukukung di Subak Sukabayu dilaksanakan sebelum matahari terbit, dengan menjunjung banten dalam keben/sokasi besar sambil membawa utik, karena lokasi masing-masing sawah dari Subak Sukabayu sudah dapat dilalui sepeda motor namun utik sebagai obor tetap dibawa ke sawah.
Sampai di sawah, maka tanaman padi yang ditanam dekat tugu cakangan air yang disebut dengan istilah dewa akan dihias, dan digantungi dengan cili lanang istri, banten akan diturunkan satu persatu mulai dari keben.
(1) Menghaturkan bebersihan/pesucian di pelinggih tugu limas;
(2) Menghaturkan 1 banten ajuman, dan tipat sari ;
(3) banten lingian dan pengingsan ditaruh di cakangan air sawah, nasi takilan dan sorohan cenik ditaruh di pematang sawah dekat dengan cakangan;
(4) Menghaturkan banten Byukukung di depan tugu limas yang terdiri dari dapetan tumpeng 5, gebogan, dan berbagai jenis ketupat kecuali ketupat sari, ketupat balang, ketupat kukur sidayu;
(5) Menghaturkan banten di 4 penjuru pojok sawah yang berisi ajuman dan canang meraka;
(6) Tirta dari Pura Masceti, Pura Ulun Suwi, Pura Pucak Sari, Pura Bukit Sari kemudian diperciki pada masing-masing banten yang dihaturkan, dengan mantra sesontengan sesuai kemampuan sendiri dan belum melembaga yang intinya memohon keselamatan tanaman padi, dilanjutkan dengan persembahyangan, metabuh arak berem, dan semua banten di lungsur;
(7) Proses dilanjutkan dengan menghaturkan banten di tugu limas berupa ajuman, ketupat kukur sidayu, dan ketupat belalang ;
(8) Berjalan berkeliling sebanyak 3 kali di petak sawah yang berisi dewa padi dengan membawa tegen-tegenan dan cambuk dari lidi sambil mencambuki padi (seperti ritual metegen-tegenan dalam perkawinan di Bali)
(9) Banten ajuman, ketupat kukur sidayu, dan ketupat balang tidak diambil, dibiarkan sebagai banten pengoak yang bisa diambil oleh orang lain (saya masih ingat waktu kecil sering menjadi goak dengan mengambil lungsuran yang ada di tugu limas, suatu kenangan yang sangat menyenangkan bagi saya). Sedangkan ketupat udang, ketupat yuyu, dan ketupat pagan akan digantung pada tugu limas.
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...