Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Komunitas Tepi Barat di Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Berbagai kegiatan ditampilkan guna menaik perhatian masyarakat dan menikmati kesenian dari sisi yang berbeda. Jujur saja, saya sendiri berfikir berulang kali untuk hadir ke tempat ini dan memilih menikmayi kopi sambil baca buku di Denpasar, toh rilis dan foto akan datang sendiri, namun itu semua saya buang jauh dan memaksa diri untuk "liburan" ke Pejeng.
Tidak susah mencari tempat acara sebab dekat dengan objek wisata Goa Gajah Museum Gedong Arca dan Tirta Empul. Okay saya ditemani 3 rekan jurnalis dua wanita perkasa dan lelaki tampan mirip ridho roma.
Pada dasarnya, dilihat dari tempatnya saja, event itu sudah sangat “menjual”. Suasananya yang asri, jauh dari asap kendaraan dan tentunya jauh dari kebisingan kota. Pemandangan di tempat ini sangat teramat indah, hamparan sawah dan sunset di atas persawahan pun sangat memanjakan pengunjung untuk berpikir jernih. Mungkin di sini juga bisa terlihat sunrise di sisi timur.
Ada tiga panggung termasuk satu panggung utama yang digunakan pementasan secara bergantian, juga untuk kegiatan workshop, yakni Panggung Uma (outdoor) dan Panggung Kubu (indoor). Saya lupa nama panggung yang lagi satu.
Festival berlatar belakang sawah ini seharusnya didukung penuh oleh pemerintah dan semua pihak, jangan dibiarkan begitu saja sebab mereka ini perlu support penuh karena misi yang mereka jalankan tidak saja hiburan tapi edukasi.
[caption id="attachment_8305" align="aligncenter" width="549"]
Pojok Baca di Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Bagaimana dalam sebuah festival tidak banyak melibatkan plastik, perokok yang kesannya biasa arogan dalam membuang sampah difasilitasi dengan penyediaan asbak portable yang bisa dibawa kemana-mana. Begitupun dengan tempat minuman dan makanannya, ada yang menggunakan bahan sekali pakai, ada juga yang bisa digunakan berulangkali.
Jadi saya sendiri memastikan festival ini bebas dari sampah plastik, tong sampahnya pun telah di sediakan berdasarkan jenis sampahnya. Yang menjadi favorit dalam festival ini adalah workshop vocal yang diisi oleh oenyanyi senior Trie Utami, Workshop menggambar oleh komunita Tepi Barat dan juga Workshop Jurnalisme.
Jadi kesimpulannya adalah festival ini tidak hanya menghibur orang dewasa namun bagaimana mereka ini menyelipkan edukasi serta melibatkan anak-anak dalam menumbuhkan minat bakat mereka.
[caption id="attachment_8306" align="aligncenter" width="552"]
Sanggar Ceraken di Panggung Uma Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Beberapa line up tampil menarik di atas panggung di antaranya Gamelan Ceraken, Genggong Kutus, Nuswantoro Trio, Lagu dan Lenong Betawi, Trie Utami dengan lantunan lagu-lagu pertamanya, dan garapan yang paling terakhir di mana berbagai artis berkolaborasi di dalamnya untuk mengenang Almarhum Chrisye dalam Tribute to Chrisye.
Dan tak banyak sepertinya yang tahu jika festival ini juga dihadiri oleh Haji Lulung untuk menyaksikan langsung pentas Lenong Betawi.
Dan. Meski diselenggarakan berbarengan dengan festival musik terbesar se Asia Tenggara, Festival Tepi Sawah tampaknya berada di kelas atas sebab pengunjung yang datang sebagian besar datang dari wisatawan manca negara. Mereka bisa ngorte (ngobrol), mebalih (menonton) dan melajah (belajar) dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan.
Kira-kira begitu, (T)
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...