Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Komunitas Tepi Barat di Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Berbagai kegiatan ditampilkan guna menaik perhatian masyarakat dan menikmati kesenian dari sisi yang berbeda. Jujur saja, saya sendiri berfikir berulang kali untuk hadir ke tempat ini dan memilih menikmayi kopi sambil baca buku di Denpasar, toh rilis dan foto akan datang sendiri, namun itu semua saya buang jauh dan memaksa diri untuk "liburan" ke Pejeng.
Tidak susah mencari tempat acara sebab dekat dengan objek wisata Goa Gajah Museum Gedong Arca dan Tirta Empul. Okay saya ditemani 3 rekan jurnalis dua wanita perkasa dan lelaki tampan mirip ridho roma.
Pada dasarnya, dilihat dari tempatnya saja, event itu sudah sangat “menjual”. Suasananya yang asri, jauh dari asap kendaraan dan tentunya jauh dari kebisingan kota. Pemandangan di tempat ini sangat teramat indah, hamparan sawah dan sunset di atas persawahan pun sangat memanjakan pengunjung untuk berpikir jernih. Mungkin di sini juga bisa terlihat sunrise di sisi timur.
Ada tiga panggung termasuk satu panggung utama yang digunakan pementasan secara bergantian, juga untuk kegiatan workshop, yakni Panggung Uma (outdoor) dan Panggung Kubu (indoor). Saya lupa nama panggung yang lagi satu.
Festival berlatar belakang sawah ini seharusnya didukung penuh oleh pemerintah dan semua pihak, jangan dibiarkan begitu saja sebab mereka ini perlu support penuh karena misi yang mereka jalankan tidak saja hiburan tapi edukasi.
[caption id="attachment_8305" align="aligncenter" width="549"]
Pojok Baca di Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Bagaimana dalam sebuah festival tidak banyak melibatkan plastik, perokok yang kesannya biasa arogan dalam membuang sampah difasilitasi dengan penyediaan asbak portable yang bisa dibawa kemana-mana. Begitupun dengan tempat minuman dan makanannya, ada yang menggunakan bahan sekali pakai, ada juga yang bisa digunakan berulangkali.
Jadi saya sendiri memastikan festival ini bebas dari sampah plastik, tong sampahnya pun telah di sediakan berdasarkan jenis sampahnya. Yang menjadi favorit dalam festival ini adalah workshop vocal yang diisi oleh oenyanyi senior Trie Utami, Workshop menggambar oleh komunita Tepi Barat dan juga Workshop Jurnalisme.
Jadi kesimpulannya adalah festival ini tidak hanya menghibur orang dewasa namun bagaimana mereka ini menyelipkan edukasi serta melibatkan anak-anak dalam menumbuhkan minat bakat mereka.
[caption id="attachment_8306" align="aligncenter" width="552"]
Sanggar Ceraken di Panggung Uma Festival Tepi Sawah 2018[/caption]
Beberapa line up tampil menarik di atas panggung di antaranya Gamelan Ceraken, Genggong Kutus, Nuswantoro Trio, Lagu dan Lenong Betawi, Trie Utami dengan lantunan lagu-lagu pertamanya, dan garapan yang paling terakhir di mana berbagai artis berkolaborasi di dalamnya untuk mengenang Almarhum Chrisye dalam Tribute to Chrisye.
Dan tak banyak sepertinya yang tahu jika festival ini juga dihadiri oleh Haji Lulung untuk menyaksikan langsung pentas Lenong Betawi.
Dan. Meski diselenggarakan berbarengan dengan festival musik terbesar se Asia Tenggara, Festival Tepi Sawah tampaknya berada di kelas atas sebab pengunjung yang datang sebagian besar datang dari wisatawan manca negara. Mereka bisa ngorte (ngobrol), mebalih (menonton) dan melajah (belajar) dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan.
Kira-kira begitu, (T)
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...