MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan hanyalah satu pertanyaan: siapa yang akan membuka?
Di media sosial, orang-orang sibuk membahas ketidakhadiran Presiden Prabowo Subianto. Pembukaan akhirnya dilakukan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Lalu berbagai tafsir bermunculan.
Sebagian mengaitkannya dengan dinamika politik antara pusat dan daerah. Sebagian lain melihatnya sebagai tanda berkurangnya perhatian pemerintah pusat. Ada pula yang menilainya sebagai kemunduran simbolik bagi Pesta Kesenian Bali (PKB). Padahal sebelum semua tafsir itu lahir, ada pertanyaan yang lebih sederhana: memangnya kenapa kalau dibuka gubernur?
Pertanyaan itu muncul ketika Made Sutama dan Ketut Arsa duduk di sebuah warung kopi dekat lapangan Renon, tempat pawai pembukaan akan berlangsung.
“Kamu lihat berita?” tanya Sutama.
“Yang mana?”
“Presiden tidak datang.”
Arsa mengangguk. “Lalu?”
“Lalu PKB dibuka gubernur.”
“Ya memang seharusnya begitu,” sahut Arsa, agak ketus.
Sutama terdiam.
Jawaban itu terdengar terlalu sederhana untuk sebuah persoalan yang tengah ramai dibicarakan. Namun justru itulah yang menarik.
Sudah beberapa kali penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali berlangsung tanpa kehadiran presiden. Dalam sejarahnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tercatat sebagai kepala negara yang paling konsisten memberi perhatian pada pembukaan PKB, tak pernah absen. Presiden Soeharto juga beberapa kali hadir, meski tidak selalu. Karena itu, sebagian masyarakat terbiasa menganggap kehadiran presiden sebagai bagian penting dari perhelatan tersebut.
Lama-kelamaan muncul kesan seolah-olah nilai PKB ikut ditentukan oleh siapa yang membukanya. Semakin tinggi jabatan pembuka, semakin tinggi pula gengsinya.
Cara berpikir seperti itu sebenarnya tidak hanya terjadi pada PKB. Dalam banyak acara, masyarakat Indonesia sering memberi perhatian lebih besar kepada kursi tamu kehormatan daripada isi acaranya sendiri. Kita kerap lebih sibuk menghitung pejabat yang hadir dibanding memperhatikan apa yang dirayakan.
Akibatnya, substansi kerap tenggelam di balik seremoni. Padahal, Pesta Kesenian Bali tidak lahir untuk memuliakan pejabat, melainkan sebagai ruang ekspresi kebudayaan Bali. PKB adalah panggung bagi para penari yang berlatih berbulan-bulan, para penabuh yang menghabiskan malam-malam panjang menyempurnakan tabuh, serta para perupa, penyair, dalang, perajin, dan pelaku seni lainnya untuk menampilkan karya terbaik mereka. Mereka tetap berkarya dan tampil, siapa pun yang berdiri di podium pembukaan.
Pembukaan PKB 2019│Foto: Sekretariat Negara Republik Indonesia
Menariknya, orang kerap lupa bahwa pembuka pertama Pesta Kesenian Bali bukanlah presiden, melainkan Ida Bagus Mantra, gubernur yang menggagas kelahirannya. Saat itu, tak ada perdebatan tentang siapa yang membuka. Perhatian masyarakat tertuju pada hal yang lebih penting, menyediakan ruang agar kesenian Bali dapat tumbuh, berkembang, dan dirayakan. Namun, lebih dari empat dekade kemudian, fokus itu sesekali bergeser. Kita lebih sering membicarakan siapa yang hadir di panggung kehormatan daripada mengingat alasan PKB dilahirkan sejak awal.
“Itu namanya Pesta Kesenian Bali,” kata Arsa.
“Maksudnya?”
“Ya pesta kesenian masyarakat Bali.”
“Bukan pesta politik?”
“Haha, jelas bukan.”
Ribuan seniman mempersiapkan karya. Puluhan agenda budaya disusun selama berbulan-bulan. Tetapi perhatian publik justru tersedot kepada satu orang yang tidak hadir. Seolah-olah yang paling penting dari pesta kesenian adalah tamu kehormatannya.
Tentu tidak ada yang salah jika masyarakat berharap presiden hadir. Kehadiran kepala negara adalah bentuk penghormatan yang patut diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa kebudayaan mendapat perhatian di tingkat nasional.
Tetapi mengubah ketidakhadiran presiden menjadi ukuran utama keberhasilan PKB juga terasa berlebihan. Karena pada akhirnya, nilai sebuah perayaan budaya tidak terletak pada siapa yang membuka. Namun terletak pada apakah kebudayaan yang dirayakan itu tetap hidup atau tidak.
Menjelang sore, lintasan pawai mulai dipenuhi peserta. Gamelan bertalu, kostum-kostum warna-warni bergerak mengikuti irama, sementara penonton terus berdatangan. Pesta kesenian pun dibuka secara resmi. Sutama memandang keramaian itu dari kejauhan.
“Lalu menurutmu, memang tidak masalah dibuka gubernur?” tanya Sutama.
“Kalau namanya Pesta Kesenian Bali, ya dibuka Gubernur Bali juga tidak ada yang aneh.”
Sebab, yang membesarkan PKB bukanlah sosok yang berdiri di podium pembukaan, melainkan masyarakat Bali yang selama puluhan tahun menjaga api kesenian tetap menyala.[T]
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra secara resmi mengambil sumpah/janji serta menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Formasi Tahun 2024 di lingkung...
DALAM suasana yang akrab, pandangan orang-orang masih tertuju ke depan, tepatnya pada dua remaja yang berupaya menjaga suasana hati audiens agar tetap antusias. Tiba-tiba terdenga...
JARI-jari mereka bergerak cepat di atas layar gawai dan laptop. Di beberapa ruang kelas SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), ratusan pasang mata fokus membaca, memahami,...
ANAK-anak ini tampak tenang dan santai. Mereka duduk manis di atas karpet di teras Museum Taman Budaya, Art Center Provinsi Bali. Meja lipat tegak di depannya, dilengkapi berbagai...
Om Swastyastu,
Atas nama Pemerintah Kabupaten Buleleng dan pribadi, kami I Nyoman Sutjidra, Bupati Buleleng, bersama Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, menghaturkan Selamat...
PEMENTASAN Peed Aya serangkaian dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu ada yang baru, dan pastinya menarik. Arak-arakan barisan yang berjalan teratur mempersembahkan ka...
MENERJEMAHKAN tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke dalam seni pertunjukan kerap menjadi tantangan bagi para seniman. Pertama, tema-tema PKB dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuna agar mem...
SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”, yang kerap mengudara di penghujung hari, ada tubu...
MASA tinggal terlama wisatawan mancanegara (wisman) di Indonesia didominasi oleh wisatawan asal negara-negara Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Eropa betah tinggal di Ind...
TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.
"Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara...