Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor itu ternyata bukan makhluk gaib, melainkan manusia yang sengaja membungkus dirinya menyerupai pocong. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi acap kali berkaitan dengan tindak kriminal seperti begal, pencurian, atau upaya mengalihkan perhatian warga.
Fenomena ini cukup meresahkan. Video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan adanya oknum yang berpura-pura menjadi pocong di jalan sepi hingga lingkungan perumahan. Entah dilakukan oleh satu komplotan yang terorganisasi, oknum berbeda yang meniru modus yang sama, atau sekadar terinspirasi dari kasus yang sudah viral, dampaknya tetap sama, membuat masyarakat waswas.
Kini di era media sosial, sebuah ide yang dianggap ‘berhasil’ akan sangat cepat menyebar. Ketika ada oknum menggunakan kostum pocong untuk menakuti calon korban dan kisahnya viral, tidak menutup kemungkinan pelaku lain akan meniru cara tersebut. Akibatnya, muncul kesan bahwa pocong-pocong palsu itu bermunculan di banyak kota secara bersamaan. Bahkan, belakangan muncul kabar dan isu bahwa modus serupa sudah terjadi di Bali, meski akhirnya dikatakan bahwa isu itu hanya hoaks.
Yang menarik, fenomena ini memperlihatkan bagaimana rasa takut dapat dimanfaatkan sebagai senjata. Banyak orang lebih takut pada sesuatu yang tidak diketahui daripada ancaman nyata. Ketika melihat pocong berdiri di tempat gelap, sebagian orang mungkin langsung panik, lari, atau kehilangan konsentrasi. Dalam kondisi seperti itulah pelaku dapat menjalankan aksinya. Dengan kata lain, yang sebenarnya dimanfaatkan bukanlah keberadaan pocong, melainkan ketakutan masyarakat terhadap cerita tentang pocong.
Lalu bagaimana sebaiknya menyikapi fenomena ini?
Pertama, masyarakat perlu membedakan antara kewaspadaan dan kepanikan. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan langsung menyimpulkan bahwa itu makhluk gaib. Gunakan akal sehat dan amati situasinya dengan tenang. Banyak kasus akhirnya terungkap justru menunjukkan bahwa sosok yang dianggap hantu ternyata hanyalah manusia biasa.
Kedua, keamanan lingkungan perlu diperkuat. Pos ronda, patroli warga, penerangan jalan, dan komunikasi antartetangga masih menjadi cara yang efektif untuk mencegah tindak kriminal. Pelaku yang mengandalkan unsur kejutan dan ketakutan biasanya enggan beraksi di lingkungan yang aktif.
Ketiga, masyarakat perlu lebih bijak dalam menyebarkan informasi. Tidak semua video atau pesan berantai yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Sebelum membagikan informasi tentang kemunculan pocong jadi-jadian, sebaiknya periksa terlebih dahulu sumber dan kebenarannya. Penyebaran kabar yang belum jelas justru dapat menimbulkan kepanikan, seperti kasus yang terjadi di Bali baru-baru ini.
Pada akhirnya, ancaman terbesar dalam kasus ini bukanlah pocong itu sendiri, melainkan kejahatan yang bersembunyi di balik kostum pocong. Oleh karena itu, respons terbaik bukanlah ketakutan berlebihan, melainkan kewaspadaan rasional. Jika masyarakat tetap tenang, saling menjaga, dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas, maka modus semacam ini akan kehilangan daya gunanya.
Intinya, awas ada pocong! [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...