Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor itu ternyata bukan makhluk gaib, melainkan manusia yang sengaja membungkus dirinya menyerupai pocong. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi acap kali berkaitan dengan tindak kriminal seperti begal, pencurian, atau upaya mengalihkan perhatian warga.
Fenomena ini cukup meresahkan. Video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan adanya oknum yang berpura-pura menjadi pocong di jalan sepi hingga lingkungan perumahan. Entah dilakukan oleh satu komplotan yang terorganisasi, oknum berbeda yang meniru modus yang sama, atau sekadar terinspirasi dari kasus yang sudah viral, dampaknya tetap sama, membuat masyarakat waswas.
Kini di era media sosial, sebuah ide yang dianggap ‘berhasil’ akan sangat cepat menyebar. Ketika ada oknum menggunakan kostum pocong untuk menakuti calon korban dan kisahnya viral, tidak menutup kemungkinan pelaku lain akan meniru cara tersebut. Akibatnya, muncul kesan bahwa pocong-pocong palsu itu bermunculan di banyak kota secara bersamaan. Bahkan, belakangan muncul kabar dan isu bahwa modus serupa sudah terjadi di Bali, meski akhirnya dikatakan bahwa isu itu hanya hoaks.
Yang menarik, fenomena ini memperlihatkan bagaimana rasa takut dapat dimanfaatkan sebagai senjata. Banyak orang lebih takut pada sesuatu yang tidak diketahui daripada ancaman nyata. Ketika melihat pocong berdiri di tempat gelap, sebagian orang mungkin langsung panik, lari, atau kehilangan konsentrasi. Dalam kondisi seperti itulah pelaku dapat menjalankan aksinya. Dengan kata lain, yang sebenarnya dimanfaatkan bukanlah keberadaan pocong, melainkan ketakutan masyarakat terhadap cerita tentang pocong.
Lalu bagaimana sebaiknya menyikapi fenomena ini?
Pertama, masyarakat perlu membedakan antara kewaspadaan dan kepanikan. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan langsung menyimpulkan bahwa itu makhluk gaib. Gunakan akal sehat dan amati situasinya dengan tenang. Banyak kasus akhirnya terungkap justru menunjukkan bahwa sosok yang dianggap hantu ternyata hanyalah manusia biasa.
Kedua, keamanan lingkungan perlu diperkuat. Pos ronda, patroli warga, penerangan jalan, dan komunikasi antartetangga masih menjadi cara yang efektif untuk mencegah tindak kriminal. Pelaku yang mengandalkan unsur kejutan dan ketakutan biasanya enggan beraksi di lingkungan yang aktif.
Ketiga, masyarakat perlu lebih bijak dalam menyebarkan informasi. Tidak semua video atau pesan berantai yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Sebelum membagikan informasi tentang kemunculan pocong jadi-jadian, sebaiknya periksa terlebih dahulu sumber dan kebenarannya. Penyebaran kabar yang belum jelas justru dapat menimbulkan kepanikan, seperti kasus yang terjadi di Bali baru-baru ini.
Pada akhirnya, ancaman terbesar dalam kasus ini bukanlah pocong itu sendiri, melainkan kejahatan yang bersembunyi di balik kostum pocong. Oleh karena itu, respons terbaik bukanlah ketakutan berlebihan, melainkan kewaspadaan rasional. Jika masyarakat tetap tenang, saling menjaga, dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas, maka modus semacam ini akan kehilangan daya gunanya.
Intinya, awas ada pocong! [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...