Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor itu ternyata bukan makhluk gaib, melainkan manusia yang sengaja membungkus dirinya menyerupai pocong. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi acap kali berkaitan dengan tindak kriminal seperti begal, pencurian, atau upaya mengalihkan perhatian warga.
Fenomena ini cukup meresahkan. Video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan adanya oknum yang berpura-pura menjadi pocong di jalan sepi hingga lingkungan perumahan. Entah dilakukan oleh satu komplotan yang terorganisasi, oknum berbeda yang meniru modus yang sama, atau sekadar terinspirasi dari kasus yang sudah viral, dampaknya tetap sama, membuat masyarakat waswas.
Kini di era media sosial, sebuah ide yang dianggap ‘berhasil’ akan sangat cepat menyebar. Ketika ada oknum menggunakan kostum pocong untuk menakuti calon korban dan kisahnya viral, tidak menutup kemungkinan pelaku lain akan meniru cara tersebut. Akibatnya, muncul kesan bahwa pocong-pocong palsu itu bermunculan di banyak kota secara bersamaan. Bahkan, belakangan muncul kabar dan isu bahwa modus serupa sudah terjadi di Bali, meski akhirnya dikatakan bahwa isu itu hanya hoaks.
Yang menarik, fenomena ini memperlihatkan bagaimana rasa takut dapat dimanfaatkan sebagai senjata. Banyak orang lebih takut pada sesuatu yang tidak diketahui daripada ancaman nyata. Ketika melihat pocong berdiri di tempat gelap, sebagian orang mungkin langsung panik, lari, atau kehilangan konsentrasi. Dalam kondisi seperti itulah pelaku dapat menjalankan aksinya. Dengan kata lain, yang sebenarnya dimanfaatkan bukanlah keberadaan pocong, melainkan ketakutan masyarakat terhadap cerita tentang pocong.
Lalu bagaimana sebaiknya menyikapi fenomena ini?
Pertama, masyarakat perlu membedakan antara kewaspadaan dan kepanikan. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan langsung menyimpulkan bahwa itu makhluk gaib. Gunakan akal sehat dan amati situasinya dengan tenang. Banyak kasus akhirnya terungkap justru menunjukkan bahwa sosok yang dianggap hantu ternyata hanyalah manusia biasa.
Kedua, keamanan lingkungan perlu diperkuat. Pos ronda, patroli warga, penerangan jalan, dan komunikasi antartetangga masih menjadi cara yang efektif untuk mencegah tindak kriminal. Pelaku yang mengandalkan unsur kejutan dan ketakutan biasanya enggan beraksi di lingkungan yang aktif.
Ketiga, masyarakat perlu lebih bijak dalam menyebarkan informasi. Tidak semua video atau pesan berantai yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Sebelum membagikan informasi tentang kemunculan pocong jadi-jadian, sebaiknya periksa terlebih dahulu sumber dan kebenarannya. Penyebaran kabar yang belum jelas justru dapat menimbulkan kepanikan, seperti kasus yang terjadi di Bali baru-baru ini.
Pada akhirnya, ancaman terbesar dalam kasus ini bukanlah pocong itu sendiri, melainkan kejahatan yang bersembunyi di balik kostum pocong. Oleh karena itu, respons terbaik bukanlah ketakutan berlebihan, melainkan kewaspadaan rasional. Jika masyarakat tetap tenang, saling menjaga, dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas, maka modus semacam ini akan kehilangan daya gunanya.
Intinya, awas ada pocong! [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...