Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari tempat. Dunia penerbitan tampak sibuk. Rak buku terus bertambah. Linimasa media sosial tidak pernah sepi dari kabar terbitnya buku. Kita seperti sedang berada di tengah musim panen.
Semua tampak menggembirakan. Tapi seperti banyak hal lain yang terlihat ramai, ada sesuatu yang pelan-pelan terasa ganjil.
Setiap buku yang terbit sekarang hampir selalu diikuti oleh satu hal yang sama. Selebrasi; foto sampul yang rapi, video singkat yang estetik. Kutipan-kutipan yang dipilih dengan hati-hati. Caption yang terdengar dalam, puitis, kadang sok akrab dengan kegelisahan.
Semua terlihat baik-baik saja. Tapi pertanyaannya sederhana, siapa yang benar-benar membaca buku itu sampai selesai? Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak sopan. Tapi justru di situlah letak masalahnya. Kita mulai menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita lebih nyaman berada di wilayah yang aman. Memberi selamat, memberi pujian, atau juga membagikan ulang.
Selebihnya, selesai. Buku tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu dibaca dengan serius. Ia cukup hadir, terlihat, dan mendapatkan respons. Di titik ini, buku kehilangan sesuatu yang paling mendasar. Ia tidak lagi menjadi ruang untuk berpikir, melainkan sekadar objek untuk dipamerkan.
Media sosial punya cara kerja yang sederhana. Ia menyukai yang cepat, menarik, dan mudah dicerna. Buku, yang seharusnya mengajak orang untuk berhenti sejenak dan masuk lebih dalam, dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme itu.
Akhirnya, yang ditampilkan bukan isi, melainkan kemasan. Yang dibicarakan bukan gagasan, melainkan tampilan. Dan kita menerimanya tanpa banyak bertanya.
Ada kecenderungan yang makin jelas. Buku dipuji sebelum dibaca, direkomendasikan sebelum dipahami. Bahkan kadang dirayakan sebelum benar-benar disentuh secara utuh.
Ini bukan lagi soal malas membaca. Ini soal kebiasaan baru yang perlahan kita anggap wajar. Kita ingin terlihat membaca, tanpa benar-benar membaca. Atau, ingin terrlibat dalam percakapan, tanpa benar-benar masuk ke dalamnya. Dan media sosial memberi ruang yang sangat luas untuk itu.
Tidak berhenti di situ, ada satu hal lain yang juga layak dipertanyakan. Kecenderungan menghadirkan nama besar di halaman awal buku. Kata pengantar dari penulis yang sudah dikenal. Nama yang bisa langsung memberi kesan bahwa buku ini penting. Sekilas, ini terlihat sebagai bentuk penghormatan.
Tapi dalam banyak kasus, ia lebih menyerupai strategi. Nama besar bekerja sebagai jaminan. Ia menggantikan proses pembacaan. Ia membuat orang percaya tanpa perlu memeriksa lebih jauh. Dan yang lebih problematis, kita jarang mempertanyakannya.
Seolah-olah, dengan adanya satu nama yang kita hormati, buku itu otomatis selesai dinilai. Padahal, buku tidak pernah selesai hanya karena ada satu orang yang memujinya.
Buku hidup dari pembacaan yang berulang, dari tafsir yang berbeda-beda, dari kritik yang kadang tidak nyaman. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi benda yang rapi, tapi kosong.
Penulis, dalam banyak hal, juga tidak sepenuhnya bebas dari situasi ini. Ada dorongan untuk terus hadir, terus terlihat atau aktif. Buku tidak cukup hanya ditulis, ia harus dipromosikan, dirawat, dan dijaga eksistensinya di media sosial.
Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi yang sering terjadi, energi habis di sana. Alih-alih membuka percakapan tentang isi buku, penulis justru sibuk merawat citra. Mengatur unggahan, menyusun kata-kata yang terdengar menarik. Tapi jarang benar-benar menjelaskan apa yang mereka tulis.
Buku hadir tanpa konteks. Pembaca dibiarkan menebak-nebak. Atau lebih buruk, tidak merasa perlu tahu. Padahal, sebuah buku selalu lahir dari sesuatu. Dari kegelisahan, pengalaman, atau pertanyaan yang tidak selesai. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi produk.
Dan kita memperlakukannya seperti produk. Dibeli, dipamerkan, lalu dilupakan. Kritik, dalam situasi seperti ini, menjadi sesuatu yang semakin jarang. Bukan karena tidak ada yang mampu, tapi karena tidak ada yang benar-benar ingin mengambil risiko.
Mengkritik buku teman bisa dianggap tidak etis. Memberi catatan bisa dianggap tidak mendukung. Lebih aman untuk diam, atau sekadar memuji. Kita menjadi terlalu ramah. Dan di saat yang sama, kehilangan kejujuran.
Padahal, tanpa kritik, tidak ada pertumbuhan. Tidak ada percakapan yang sungguh-sungguh. Tidak ada alasan bagi sebuah buku untuk dibaca lebih dari sekali. Semua berhenti di permukaan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua buku seperti itu. Tidak juga bahwa semua pembaca seperti itu. Masih ada yang membaca dengan serius, yang menulis dengan sungguh-sungguh. Juga, diskusi yang benar-benar hidup.
Tapi suara mereka sering tenggelam. Tertutup oleh riuhnya selebrasi. Oleh unggahan yang rapi, pujian yang berulang. Oleh kesan bahwa semuanya baik-baik saja. Di titik tertentu, mungkin kita perlu cukup jujur untuk menyebutnya apa adanya.
Bahwa sebagian dari apa yang kita lakukan hari ini tidak lebih dari “wawa-wewe” (baca: selebrasi). Ramai, tapi kosong. Atau, kalau mau lebih terus terang, masturbasi intelektual.
Kita merasa sedang berada dalam aktivitas yang serius, padahal yang kita lakukan hanyalah memuaskan diri sendiri. Tidak ada risiko, pertaruhan, dan kedalaman. Hanya ilusi.
Tentu saja, istilah ini bisa dianggap berlebihan. Bahkan mungkin ofensif. Tapi kadang, kita memang membutuhkan kata yang cukup keras untuk mengguncang kebiasaan yang sudah terlalu nyaman.
Karena kalau tidak, kita akan terus mengulang hal yang sama. Buku terbit, dirayakan, dan dipamerkan. Lalu hilang begitu saja. Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak selebrasi, tapi lebih banyak percakapan yang jujur.
Diskusi yang benar-benar membuka ruang. Pertanyaan yang tidak selalu nyaman. Pembacaan yang tidak terburu-buru. Hal-hal seperti itu mungkin tidak menarik untuk diunggah. Tidak selalu menghasilkan respons. Tapi di situlah buku menemukan hidupnya. Bukan di foto, di caption, tapi di kepala pembacanya. Dan kalau itu tidak terjadi, mungkin kita memang perlu bertanya ulang; apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...