17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra di belakang rumahnya, tepatnya di bawah pohon mangga yang dikelilingi rumput setinggi lutut. Orang kampung sudah banyak yang tahu Pak Ik bisa mengobati orang yang terkena bisa binatang. Ia melakukannya dengan caranya yang tradisional.
“Sakit, sakit…tolong-tolong,” teriak Cakeh keras-keras memegangi kakinya yang memerah bekas patokan ular itu.
Bu Lisa menangis mengelus-elus kaki putrinya bermaksud mengusir rasa sakit itu. Ia tahu tak akan berhasil usahanya yang sia-sia, tapi ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, selain menunggu Pak Ik yang sudah dijemput oleh salah seorang warga ke kebun karetnya.
Perjalanan dari rumah ke kebun Pak Ik sekitar 20 menit kalau tidak musim hujan. Orang itu membawa motornya kencang tak mempedulikan jalan yang becek. Motornya dibalut lumpur.
“Pak Ik, si Cakeh anaknya Bu Lisa digigit ular kobra. Sekarang dia di rumah bapak minta obat.” Orang itu baru saja datang.
Pak Ik terus sibuk memotong rumput-rumput tinggi yang ada di bawah pohon karet, seperti ia tak mengheriaukan orang yang baru datang itu. “Kau berangkat saja duluan, sebentar lagi saya menyusul.” Ia masih sibuk memotong rumput-rumput itu.
“Bareng sama aku aja Pak, biar cepat.” Orang itu belum mematikasn motornya sankin mau buru-buru. Ia takut bisa ular yang menempel pada kaki Cakeh terus menjalar sampai ke sekujur tubuhnya sehingga susah untuk diobati. Dan ia tidak berani untuk memaksa. Akhirnya ia pulang lebih dulu sendirian. “Pak Ik mana?” tanya Bu Lisa dengan wajah cemas.
“Katanya menyusul.”
“Kok tidak bareng,” nada Bu Lisa geram. Orang yang menjemput mengalah, mengerti kenapa ia marah, dan tak seharusnya dilawan.
“Bapak tidak mau bareng saya, disuruhnya saya duluan.”
Ibu itu seperti tak sabar. Ia mondar-mandir tak jelas. Kegelisahan bertambah-tambah di wajahnya. Sementara Cakeh semakin kuat teriakannya. “Tolong..., tolong…, sakit…, kakiku sakit, Bu….”
* * *
Pak Ik berjalan lambat lewat jalan kecil itu. Setiba di rumah ia menemukan banyak orang. Cakeh terus meradang kesakitan. Pak Ik seperti tak acuh, tersenyum pun ia tidak. Ia meletak tas kecilnya berisi peralatan kebun, lalu ia bergegas ke kamar mandi.
“Kenapa bapak itu tidak langsung memberikan obatnya?” tanya salah seorang warga pada Bu Lisa yang gelisah tak berdaya. Ia hanya menunggu pertolongan.
“Kau tenang saja Pak Ik memang begitu. Tingkahnya memang aneh. Kau harus percaya dia pasti memberikan pengobatan yang terbaik,” balas salah seorang yang dari tadi sudah duduk tenang di situ.
“Mungkin dia ke kamar mandi sambil mengobati Cakeh,” ucap orang itu yang sudah percaya kepada Pak Ik. Bu Lisa belum tenang. Putrinya semakin keras teriakannya.
“Bagaimana bisa, buktinya Cakeh masih kesakitan.”
Susana tegang. Pak Ik keluar dari kamar mandi, ngelap badannya yang basah dengan handuk buruk, berganti pakaian, mengambil tanah merah dalam tas kecilnya yang dibawa dari kebun. Ia duduk di dekat Cakeh, menempelkan tanah itu pada bagian kaki yang terkena patokan ular.
Cakeh yang merintih kesakitan dan masih teriak-teriak langsung diam. Ia memanggil-manggil ibunya. “Ibu kaki Cakeh dingin, dingin sekali Ibu. Sakitnya sudah hilang.”
Cakeh disuruh Pak Ik duduk.
Ia duduk dan berdiri menggoyang-goyangkan kakinya. Ia merasa sudah sembuh. Bu Lisa tertawa senang. Setelah itu terjadilah obrolan panjang dalam rumah itu, cerita mereka melebar ke mana-mana, samapai mereka tertawa terbahak-bahak. Begitulah Pak Ik, pengobatannya lambat tapi mujarab. Sudah ribuan orang yang datang ke rumahnya minta obat. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...