Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra di belakang rumahnya, tepatnya di bawah pohon mangga yang dikelilingi rumput setinggi lutut. Orang kampung sudah banyak yang tahu Pak Ik bisa mengobati orang yang terkena bisa binatang. Ia melakukannya dengan caranya yang tradisional.
“Sakit, sakit…tolong-tolong,” teriak Cakeh keras-keras memegangi kakinya yang memerah bekas patokan ular itu.
Bu Lisa menangis mengelus-elus kaki putrinya bermaksud mengusir rasa sakit itu. Ia tahu tak akan berhasil usahanya yang sia-sia, tapi ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, selain menunggu Pak Ik yang sudah dijemput oleh salah seorang warga ke kebun karetnya.
Perjalanan dari rumah ke kebun Pak Ik sekitar 20 menit kalau tidak musim hujan. Orang itu membawa motornya kencang tak mempedulikan jalan yang becek. Motornya dibalut lumpur.
“Pak Ik, si Cakeh anaknya Bu Lisa digigit ular kobra. Sekarang dia di rumah bapak minta obat.” Orang itu baru saja datang.
Pak Ik terus sibuk memotong rumput-rumput tinggi yang ada di bawah pohon karet, seperti ia tak mengheriaukan orang yang baru datang itu. “Kau berangkat saja duluan, sebentar lagi saya menyusul.” Ia masih sibuk memotong rumput-rumput itu.
“Bareng sama aku aja Pak, biar cepat.” Orang itu belum mematikasn motornya sankin mau buru-buru. Ia takut bisa ular yang menempel pada kaki Cakeh terus menjalar sampai ke sekujur tubuhnya sehingga susah untuk diobati. Dan ia tidak berani untuk memaksa. Akhirnya ia pulang lebih dulu sendirian. “Pak Ik mana?” tanya Bu Lisa dengan wajah cemas.
“Katanya menyusul.”
“Kok tidak bareng,” nada Bu Lisa geram. Orang yang menjemput mengalah, mengerti kenapa ia marah, dan tak seharusnya dilawan.
“Bapak tidak mau bareng saya, disuruhnya saya duluan.”
Ibu itu seperti tak sabar. Ia mondar-mandir tak jelas. Kegelisahan bertambah-tambah di wajahnya. Sementara Cakeh semakin kuat teriakannya. “Tolong..., tolong…, sakit…, kakiku sakit, Bu….”
* * *
Pak Ik berjalan lambat lewat jalan kecil itu. Setiba di rumah ia menemukan banyak orang. Cakeh terus meradang kesakitan. Pak Ik seperti tak acuh, tersenyum pun ia tidak. Ia meletak tas kecilnya berisi peralatan kebun, lalu ia bergegas ke kamar mandi.
“Kenapa bapak itu tidak langsung memberikan obatnya?” tanya salah seorang warga pada Bu Lisa yang gelisah tak berdaya. Ia hanya menunggu pertolongan.
“Kau tenang saja Pak Ik memang begitu. Tingkahnya memang aneh. Kau harus percaya dia pasti memberikan pengobatan yang terbaik,” balas salah seorang yang dari tadi sudah duduk tenang di situ.
“Mungkin dia ke kamar mandi sambil mengobati Cakeh,” ucap orang itu yang sudah percaya kepada Pak Ik. Bu Lisa belum tenang. Putrinya semakin keras teriakannya.
“Bagaimana bisa, buktinya Cakeh masih kesakitan.”
Susana tegang. Pak Ik keluar dari kamar mandi, ngelap badannya yang basah dengan handuk buruk, berganti pakaian, mengambil tanah merah dalam tas kecilnya yang dibawa dari kebun. Ia duduk di dekat Cakeh, menempelkan tanah itu pada bagian kaki yang terkena patokan ular.
Cakeh yang merintih kesakitan dan masih teriak-teriak langsung diam. Ia memanggil-manggil ibunya. “Ibu kaki Cakeh dingin, dingin sekali Ibu. Sakitnya sudah hilang.”
Cakeh disuruh Pak Ik duduk.
Ia duduk dan berdiri menggoyang-goyangkan kakinya. Ia merasa sudah sembuh. Bu Lisa tertawa senang. Setelah itu terjadilah obrolan panjang dalam rumah itu, cerita mereka melebar ke mana-mana, samapai mereka tertawa terbahak-bahak. Begitulah Pak Ik, pengobatannya lambat tapi mujarab. Sudah ribuan orang yang datang ke rumahnya minta obat. [T]
Penulis: Depri Ajopan
Editor: Made Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...