Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PEMIKIRAN abstrak, imajinasi, dan sebuah perbincangan singkat bisa menghasilkan ribuan ide. Rangkaian Hari Raya Nyepi identik dengan buah pemikiran pemuda dengan mengolaborasikan semua ide dalam wujud ogoh-ogoh.
Ini kisah dari karya ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna Yowana Dharma Sentana Banjar Yangapi, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli.
Pada tahun baru Caka 1948 ini I Kadek Adi Puspa Wiguna mendapatkan imajinasi yang abstrak pada saat berbincang dengan anggota Yowana Dharma Sentana. Imajinasi itu hendak direalisasikan dalam bentuk ogoh-ogoh dengan nama "Nyi Rimbit".
Nyi Rimbit merupakan seorang wanita yang difitnah memiliki ilmu pengeleakan di sebuah desa yang disebut Desa Kalikedasa. Fitnah itu datang dari calon murid, Winari, yang ditolaknya pada saat ingin belajar ilmu pengeleakan dengan tujuan untuk membalas dendam.
Penolakan itu dilakukan karena Nyi Rimbit belajar pengeleakan untuk memperdalam sastra dan menyeimbangkan alam semesta. Karena penolakan itu, Nyi Rimbit difitnah dan dibakar. Namun karena kesaktiannya, Nyi Rimbit bisa hidup kembali dan membinasakan semua orang yang memiliki niat jahat terhadap desanya.
***

Kisah Nyi Rimbit itulah yang dijadikan sumber inspirasi dan imajinasi oleh Kadek Adi. Dan ketika imajinasi itu hendak diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh terjadi sejumlah keanehan.
Dari awal sejak pembuatan ogoh-ogoh ini, Kadek Adi selaku undagi (kreator) ogoh-ogoh Nyi Rimbit ini sudah mengalami mimpi yang aneh setiap hendak memejamkan matanya. Tak hanya itu, pada saat pawai yang diadakan tanggal 15 Maret 2025 pada YACA Festival, Kadek Adi hanya mampu menonton sebentar karena ia merasakan hawa yang berbeda menyelimuti dirinya.
"Raga tumben sajan percaya kene-kene Nok, karena rage sebelumne sing taen percaya hal-hal mistis," ujar Kadek Adi. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Kadek Adi mengatakan ia sebelumnya tidak percaya dengan hal mistis namun pada ogoh-ogoh ini hal yang dirasakan berbeda. Seakan ada nyawa di dalam ogoh-ogoh ini.
Hal itupun terjawab pada saat geladi bersih sebelum pawai yang dilaksanakan di Jaba Pura Dalem Agung Yangapi, bertepatan dengan kajeng kliwon dan tumpek wayang. Banyak orang mengatakan, melakukan geladi pada saat hari kajeng kliwon dan tumpek wayang itu adalah sebuah kesalahan. Namun pada saat itu, dalam pemikiran Komang Sapta Diana sebagai penggarap tabuh dan Ni Putu Melani Putri sebagai penggarap fragment tari, Ida yang berstana di Pura Dalem tidak mungkin menyakiti ataupun memberikan hal negatif kepada panjak-nya (pemujanya), melainkan Ida akan memberikan taksu terhadap panjak-nya(Pemujanya).
Tepat pukul 21.25 geladi hampir berakhir namun ada gerakan tidak biasa dari pemeran utama fragment tari yang memerankan Nyi Rimbit yaitu Ni Kadek Vita Sari. Vita melakukan gerakan yang unik, dan penata gerak merasa aneh karena mereka tidak mengajarkan gerakan itu kepada Vita.
Ternyata selepas menari Vita mengalami kesurupan. Semua panik namun dari alam bawa sadar Vita berkata "Sampun becik, Taksune sampun tedun". Jika diterjemahkan, semua hal terkait ogoh-ogoh, tabuh, tari memiliki taksu masing-masing dan dikatakan sangat bagus dan metaksu.
Singkat cerita Jero Mangku Dalem, Prajapati, dan Ulu Setra datang untuk menyadarkan Vita dan semua orang tenang. Setelah melaksanakan geladi di desa, mereka bergegas untuk mengikuti geladi di lapangan tempat pawai berlangsung yaitu Lapangan Desa Adat Metra.
Penulis iseng bertanya, mengapa Vita bisa kerauhan? Apa yang Vita lihat?

"Mare to cang ningalin tiga sosok, pertama cewek di duur punyan bingine, kedua cewek pakaian putih, miiik san di Ulun Setra, dan nak tueee ngabe tungked persis care ne di ogoh-ogohe." Terjemahan dalam bahasa Indonesia, Vita mengatakan melihat tiga sosok dalam geladi di Pura Dalem, yang pertama wanita berputar di pohon beringin, wanita dengan pakaian putih yang memiliki bau sangat harum, dan nenek tua yang sangat mirip dengan tokoh yang dibuat ogoh-ogoh. Mereka bertiga ingin sekaligus masuk ke raga Vita namun Vita tidak bisa menerima karena energinya terlalu kuat sehingga yang masuk ke tubuh Vita adalah sosok nenek yang mirip sekali dengan sosok ogoh-ogoh yang dibuat.
***
Tibalah waktu pentas di Lapangan Desa Adat Metra, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Yowana Dharma Sentana Banjar Yangapi, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli mendapatkan undi 3 dalam pawai. Pada saat masuk ke lapangan hawa yang berbeda sangat kuat, bulu kuduk dan mata penonton tertuju pada ogoh-ogoh, tabuh, dan tarian yang dipersembahkan oleh Yowana Dharma Sentana.
Pada saat pawai terdapat 5 orang yang kesurupan dan dapat ditangani oleh pemangku yang sangat sigap dalam menyadarkan mereka yang kesurupan.
Pada akhirnya, karena banyak kejadian dan sosok yang dijadikan ogoh-ogoh itu adalah sosok yang ada di Pura Dalem. Maka keputusan akhir yang didapat ogoh-ogoh tersebut harus dipralina (dibakar) setelah semua prosesinya selesai.

Sebuah imajinasi yang awalnya hanya untuk memuaskan hasrat seni dan melestarikan budaya ternyata memiliki cerita nyata serta sosok nyata yang tidak diketahui sebelumnya.
Pada tahun ini Yowana Dharma Sentana Desa Adat Yangapi, membuat karya yang spektakuler dengan taksu yang membuat semua orang merinding dan mengagumi karya ini. Karya ini dapat disebut sebagai masterpiece-nya Yowana Dharma Sentana. [T]
Penulis: I Gede Wirawan Adipranata
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...