Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
KEMAJUAN ilmu kedokteran telah membuat banyak penyakit menular sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Namun meningkatnya kembali kasus campak menjadi pengingat bahwa ancaman lama belum sepenuhnya hilang. Ketika cakupan imunisasi menurun atau terlewat, penyakit yang seharusnya dapat dicegah justru kembali muncul dan mengancam kesehatan anak.
Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di dunia dalam jumlah laporan kasus campak dalam enam bulan terakhir, dengan lebih dari 10.700 kasus yang dilaporkan. Fakta ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak, meskipun penyakit ini sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Situasi tersebut juga tercermin dari kondisi di dalam negeri. Hingga minggu ke-7 tahun 2026 tercatat lebih dari 8.000 kasus suspek campak di Indonesia, dengan ratusan kasus telah terkonfirmasi serta beberapa kematian dilaporkan. Pada periode yang sama, sedikitnya 21 kejadian luar biasa suspek campak dan 13 kejadian luar biasa campak terkonfirmasi terjadi di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular. Virus ini menyebar melalui percikan droplet ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Virus campak bahkan dapat bertahan di udara atau pada permukaan benda selama beberapa jam. Artinya, seseorang yang belum memiliki kekebalan dapat tertular hanya dengan berada di ruangan yang sama dengan penderita, meskipun tanpa kontak langsung. Karena tingkat penularannya yang sangat tinggi, satu orang penderita campak dapat menularkan virus kepada sebagian besar orang yang tidak memiliki perlindungan imunisasi.
Pada sebagian kasus, campak memang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun penyakit ini tidak boleh dianggap ringan. Infeksi campak dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), diare berat, radang telinga, hingga radang otak (ensefalitis). Komplikasi tersebut dapat menyebabkan dampak jangka panjang bahkan kematian, terutama pada anak-anak.
Balita merupakan kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi berat akibat campak. Pada usia ini, sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan sehingga belum mampu melawan infeksi virus secara optimal. Ketika terinfeksi campak, daya tahan tubuh anak dapat menurun drastis dan membuka peluang terjadinya komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, atau radang otak. Risiko ini menjadi lebih tinggi pada anak dengan status gizi yang kurang atau yang terlambat mendapatkan penanganan medis.
Selain gangguan layanan kesehatan, keterlambatan atau terlewatnya imunisasi pada anak juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pada sebagian kasus, imunisasi tertunda karena kondisi anak yang sedang kurang sehat saat jadwal vaksinasi. Di sisi lain, kesibukan orang tua atau lupa terhadap jadwal imunisasi juga dapat menyebabkan anak tidak mendapatkan vaksin sesuai waktu yang dianjurkan. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah terbatasnya pengetahuan sebagian masyarakat mengenai manfaat dan keamanan imunisasi, serta adanya kesalahpahaman mengenai efek samping vaksin yang masih beredar di masyarakat. Situasi pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu juga turut memengaruhi keputusan sebagian orang tua untuk menunda membawa anak ke fasilitas kesehatan karena kekhawatiran terhadap risiko penularan penyakit.
Dalam kondisi seperti ini, upaya untuk mengejar ketertinggalan imunisasi menjadi sangat penting. Anak yang melewatkan jadwal vaksinasi masih dapat menerima imunisasi susulan sesuai dengan rekomendasi tenaga kesehatan. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan guna mendapatkan jadwal imunisasi yang tepat. Di sisi lain, pemerintah dan tenaga kesehatan juga memiliki peran penting dalam meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi, terutama di daerah dengan akses informasi kesehatan yang masih terbatas.
Imunisasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah campak. Vaksin campak mampu memberikan perlindungan tinggi terhadap infeksi serta membantu membentuk kekebalan kelompok di masyarakat. Dalam epidemiologi dikenal konsep kekebalan kelompok atau herd immunity, yaitu kondisi ketika sebagian besar populasi memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit sehingga penularan virus menjadi sangat terbatas. Untuk penyakit yang sangat menular seperti campak, cakupan imunisasi yang tinggi menjadi sangat penting agar virus tidak mudah menyebar di masyarakat. Ketika semakin banyak anak tidak mendapatkan imunisasi, perlindungan kolektif tersebut dapat melemah. Akibatnya, wabah campak dapat kembali muncul dan berisiko menyerang kelompok yang paling rentan, seperti bayi, balita, maupun anak dengan kondisi kesehatan tertentu yang tidak dapat menerima vaksin.
Dampak program imunisasi campak juga telah terbukti secara global. Berbagai laporan menunjukkan bahwa vaksinasi campak berkontribusi menurunkan sekitar 75 persen angka kejadian campak dan mengurangi hingga 79 persen kematian akibat penyakit tersebut. Bahkan selama dua dekade terakhir, diperkirakan sekitar 20,3 juta kematian dapat dicegah berkat program imunisasi campak di berbagai negara.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam melindungi anak dari berbagai penyakit menular. Program imunisasi telah terbukti mampu menekan angka kesakitan dan kematian pada anak di berbagai negara selama beberapa dekade terakhir. Oleh karena itu, memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal merupakan langkah sederhana namun sangat penting untuk menjaga kesehatan mereka sekaligus melindungi masyarakat secara lebih luas. Ketika semakin banyak anak mendapatkan imunisasi, penyebaran penyakit menular dapat ditekan sehingga risiko terjadinya wabah juga dapat diminimalkan.
Campak seharusnya tidak lagi menjadi penyebab kesakitan dan kematian pada anak di era kedokteran modern. Vaksin yang aman dan efektif telah tersedia selama puluhan tahun dan telah digunakan secara luas di berbagai negara. Namun perlindungan tersebut hanya dapat terwujud apabila setiap anak mendapatkan imunisasi secara lengkap dan tepat waktu. Ketika imunisasi terlewat, penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dapat kembali menyebar dan mengancam kesehatan bahkan nyawa anak. Karena itu, menjaga cakupan imunisasi tetap tinggi bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat, terutama para orang tua, untuk memastikan setiap anak memperoleh haknya tumbuh sehat dan terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. [T]
Penulis: Erika Suciari
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...