PEMERINTAH Provinsi Bali mewajibkan penggunaan Bahasa Bali setiap hari Kamis. Kebijakan itu sempat membuat sebagian Organisasi Perangkat Daerah (OPD) takut menggelar rapat pada hari Kamis karena merasa belum percaya diri menggunakan Bahasa Bali dengan tata krama yang tepat.
Untuk itulah, pada Bulan Bahasa Bali 2026 ini diadakan Kriyaloka (Workshop) “Mababaosan Basa Bali” di Lantai Bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (25/2/2026). Tujuan, antara lain, agar pejabat dan pegawai pada OPD tak takut lagi rapat di hari Kamis karena sudah percaya diri menggunakan bahasa Bali.
Kegiatan itu diikuti 80 peserta yang terdiri dari perwakilan OPD dan penyiar. Kegiatan itu menghadirkan narawakya Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum dan dimoderatori Dr. Ni Wayan Sariani, S.Pd., M.Hum. Selama sekitar empat jam, peserta dibekali teknik berbicara Bahasa Bali yang baik dan benar, sekaligus berdiskusi mengenai kendala yang kerap dihadapi saat menggunakan bahasa daerah tersebut di ruang publik.
Materi yang diberikan tidak sebatas teori. Peserta langsung mempraktikkan cara membuka dan menutup rapat, menyambut tamu dalam upacara adat dan keagamaan, hingga berbicara di rumah, banjar, maupun kantor dengan memperhatikan anggah-ungguhing basa.
“Workshop ini penting supaya mereka tidak takut mabasa Bali, termasuk saat memimpin rapat. Kami berikan strategi agar lebih percaya diri,” ujar Gde Nala Antara.
Ia menjelaskan, tidak semua penggunaan Bahasa Bali harus dalam bentuk halus (kruna mider). Penggunaan basa andap atau bahasa sehari-hari tetap dapat diterapkan sesuai konteks. Anggah-ungguhing basa, menurutnya, lebih ditekankan saat memimpin rapat resmi, matur ke griya, berbicara dengan sulinggih, atau tampil di depan umum.
Gde Nala juga menyinggung adanya sejumlah kosakata yang tidak memiliki padanan bentuk halus, seperti “gulem”, “tembok”, atau “nyongkok”, yang kerap menimbulkan keraguan saat digunakan di forum resmi. Ketakutan itulah yang coba direduksi melalui pemahaman kontekstual.
“Kalau pun salah, itu wajar. Dari kesalahan kita belajar menuju yang benar. Kuncinya jangan takut salah,” tegasnya.
Dalam sesi praktik, peserta diberi kesempatan mencoba langsung membuka dan menutup rapat, menyambut tamu, hingga menyampaikan sambutan pada upacara ngaben, otonan, maupun pernikahan. Meski masih ada yang ragu tampil, sebagian peserta mulai berani mencoba, walau belum sempurna.
Lebih jauh, Gde Nala menekankan bahwa penguatan Bahasa Bali harus dimulai dari keluarga, lalu diperluas ke lingkungan banjar, sekaa teruna, dan komunitas lainnya. Bahkan saat kegiatan kreatif seperti pembuatan ogoh-ogoh, suasana kebahasaan Bali perlu dibangun, tanpa harus selalu menggunakan bahasa halus.
“Basa Bali memiliki empat rasa bahasa: kasar, andap, madya, dan halus. Semua ada tempatnya,” jelasnya.
Melalui workshop ini, ia berharap OPD tak lagi ragu menggelar rapat pada hari Kamis. Dengan pemahaman strategi dan praktik yang telah diberikan, penggunaan Bahasa Bali di ruang-ruang formal diharapkan semakin mantap dan membumi. [T]
CINTA, ah, erat kaitannya dengan “kangen”. Kalau cinta dan kangen sudah bertemu maka banyak cerita terpatri dalam ingatan seorang penjalin cinta. Cinta dan kangen jadi punya hubung...
MENILIK perkembangannya, bahasa Using Banyuwangi mengalami periode yang sangat mengkhawatirkan, yaitu apa yang disebut sebagai “Bunuh Diri Bahasa”. Pakar bahasa Jean Aitchison (200...
SAYUP-SAYUP terdengar lirik lagu. Gadis di depan saya tampak bernyanyi menirukan chant meski lirih yang datang dari tribun utara. Mereka berdiri di sektor tribun timur Stadion Kapt...
ANTROPOLOG kebangsaan Amerika Serikat, Clifford Geertz dalam bukunya Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi di Indonesia mengupas tentang proses pertanian di Pulau Jawa yang...
SELALU terngiang ucapan Joni Ariadinata ketika meminta cerpen-cerpen saya untuk diterbitkan sebagai buku antologi pribadi. Buku? Wah, apakah sudah saatnya?Itu tahun 2002. Namun, be...
IBU saya pernah memberikan sebuah nasihat bijak saat dulu saya berkata bahwa nanti, sesudah melahirkan, saya ingin kembali bekerja sebagai pramugari."Kalau seorang ibu bekerja, men...
DALAM sebuah wawancara dengan wartawan, Putu Agus Suradnyana, calon bupati incumbent dalam Pilkada Buleleng 2017 berucap, ”Pura-pura terzolimi itu lagu lama (untuk menarik simpati...
WAJAH-WAJAH itu menatap dengan pandangan kosong. Tergantung di dinding begitu saja. sekilas wajah itu menyerupai pria. Terkadang menyerupai wanita. Bisa juga diterjemahkan sebagai...
PERNAH ikut OSIS? Pernah ikut HMJ, SENAT,BEM? Enakkah? Serukah? Untungkah? Rugikah? Hanya kalian yang pernah ikut organisasi siswa atau kemahasiswaan yang tahu jawaban pastinya.
M...
SAYA tak pernah menanyakan nama aslinya, namun orang di desa saya di Tabanan, Bali, menyebutnya Men Suka. Ibu dari anak pertama yang bernama Wayan Suka. Ia janda sejak tahun 1965...