Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
PEMERINTAH Provinsi Bali mewajibkan penggunaan Bahasa Bali setiap hari Kamis. Kebijakan itu sempat membuat sebagian Organisasi Perangkat Daerah (OPD) takut menggelar rapat pada hari Kamis karena merasa belum percaya diri menggunakan Bahasa Bali dengan tata krama yang tepat.
Untuk itulah, pada Bulan Bahasa Bali 2026 ini diadakan Kriyaloka (Workshop) “Mababaosan Basa Bali” di Lantai Bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (25/2/2026). Tujuan, antara lain, agar pejabat dan pegawai pada OPD tak takut lagi rapat di hari Kamis karena sudah percaya diri menggunakan bahasa Bali.
Kegiatan itu diikuti 80 peserta yang terdiri dari perwakilan OPD dan penyiar. Kegiatan itu menghadirkan narawakya Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum dan dimoderatori Dr. Ni Wayan Sariani, S.Pd., M.Hum. Selama sekitar empat jam, peserta dibekali teknik berbicara Bahasa Bali yang baik dan benar, sekaligus berdiskusi mengenai kendala yang kerap dihadapi saat menggunakan bahasa daerah tersebut di ruang publik.

Materi yang diberikan tidak sebatas teori. Peserta langsung mempraktikkan cara membuka dan menutup rapat, menyambut tamu dalam upacara adat dan keagamaan, hingga berbicara di rumah, banjar, maupun kantor dengan memperhatikan anggah-ungguhing basa.
“Workshop ini penting supaya mereka tidak takut mabasa Bali, termasuk saat memimpin rapat. Kami berikan strategi agar lebih percaya diri,” ujar Gde Nala Antara.
Ia menjelaskan, tidak semua penggunaan Bahasa Bali harus dalam bentuk halus (kruna mider). Penggunaan basa andap atau bahasa sehari-hari tetap dapat diterapkan sesuai konteks. Anggah-ungguhing basa, menurutnya, lebih ditekankan saat memimpin rapat resmi, matur ke griya, berbicara dengan sulinggih, atau tampil di depan umum.
Gde Nala juga menyinggung adanya sejumlah kosakata yang tidak memiliki padanan bentuk halus, seperti “gulem”, “tembok”, atau “nyongkok”, yang kerap menimbulkan keraguan saat digunakan di forum resmi. Ketakutan itulah yang coba direduksi melalui pemahaman kontekstual.
“Kalau pun salah, itu wajar. Dari kesalahan kita belajar menuju yang benar. Kuncinya jangan takut salah,” tegasnya.
Dalam sesi praktik, peserta diberi kesempatan mencoba langsung membuka dan menutup rapat, menyambut tamu, hingga menyampaikan sambutan pada upacara ngaben, otonan, maupun pernikahan. Meski masih ada yang ragu tampil, sebagian peserta mulai berani mencoba, walau belum sempurna.
Lebih jauh, Gde Nala menekankan bahwa penguatan Bahasa Bali harus dimulai dari keluarga, lalu diperluas ke lingkungan banjar, sekaa teruna, dan komunitas lainnya. Bahkan saat kegiatan kreatif seperti pembuatan ogoh-ogoh, suasana kebahasaan Bali perlu dibangun, tanpa harus selalu menggunakan bahasa halus.
“Basa Bali memiliki empat rasa bahasa: kasar, andap, madya, dan halus. Semua ada tempatnya,” jelasnya.

Melalui workshop ini, ia berharap OPD tak lagi ragu menggelar rapat pada hari Kamis. Dengan pemahaman strategi dan praktik yang telah diberikan, penggunaan Bahasa Bali di ruang-ruang formal diharapkan semakin mantap dan membumi. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...