Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Sebanyak enam lomba lintas generasi memikat perhatian pengunjung dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII, Sabtu (21/2/2026). Ragam wimbakara (lomba) yang digelar serentak sejak pukul 09.00 hingga 17.00 Wita itu bahkan membuat pengunjung kebingungan menentukan pilihan, karena seluruhnya tampil menarik dan sarat nilai edukatif.
“Bulan Bahasa Bali hari ini melaksanakan berbagai wimbakara dengan melibatkan peserta perwakilan dari kabupaten dan kota se-Bali,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, di sela-sela kegiatan.
Adapun enam lomba yang digelar bersamaan yakni Lomba Pidarta Kalangan Ratna Kanda, Ngwacén (membaca) Lontar Kalangan Angsoka, Lomba Dharma Wiwada (Debat) Kalangan Ayodya, Lomba Masatua Krama Istri Pamilet PAKIS Bali, Lomba Nyurat Aksara Bali tingkat SD di Ruang Saraséhan, serta Festival Mengetik Aksara Bali dengan keyboard di lantai bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali.


Menurut Alit Suryana, lomba Ngwacén lontar menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan membaca warisan leluhur. Lontar yang dibaca merupakan koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, bukan milik peserta. Mereka dituntut cermat dalam pemenggalan kata, ketepatan membaca aksara Bali, hingga ketuntasan waktu.
Sementara itu, Lomba Dharma Wiwada diikuti siswa SMA/SMK yang diuji kemampuannya membaca situasi kekinian berbasis sumber-sumber sastra. Ajang ini menjadi ruang pembelajaran argumentasi, mempertahankan pendapat dengan dasar sastra, sekaligus menemukan titik temu dari perbedaan pandangan.
“Perbedaan pendapat itu wajar. Dari perdebatan justru lahir pemahaman yang lebih baik dan menemukan kebenaran sesuai konteks zaman,” tegasnya.
Di areal pameran, siswa SMP antusias mengikuti lomba nyurat lontar. Pelestarian aksara dan warisan lontar dinilai penting ditanamkan sejak dini, mengingat Bali memiliki kekayaan manuskrip yang harus dijaga keberlanjutannya.


Tak kalah menarik, Lomba Darmawacana yang diikuti prajuru adat menjadi ajang melatih kemampuan memberikan wejangan dan pencerahan kepada masyarakat desa adat. Peran prajuru dinilai strategis dalam menyejukkan warga di tengah tantangan kemajuan teknologi dan dinamika sosial.
Di Gedung Ksirarnawa, lomba Masatua yang melibatkan ibu-ibu anggota PAKIS Bali turut menyemarakkan suasana. Tradisi bertutur yang dahulu lekat sebelum anak-anak tidur, kini dihidupkan kembali melalui lomba. Di balik satua tersimpan nilai etika, tata susila, dan pembentukan karakter generasi muda.
Untuk Lomba Nyurat Aksara Bali tingkat SD, peserta dinilai berdasarkan kekuwug (bentuk aksara), pasang aksara (ejaan), kerapian, kebersihan, serta ketuntasan waktu. Salah satu juri, I Wayan Gede Wisnu, menyebut kemampuan anak-anak dalam nyurat aksara terus meningkat setiap tahun, didukung pembelajaran di sekolah maupun peran penyuluh bahasa Bali di desa.
Sementara Festival Mengetik Aksara Bali dengan keyboard menjadi inovasi kreatif panitia. Selain memperkenalkan penulisan aksara Bali berbasis teknologi, festival ini juga diramaikan pembagian doorprize dan kupon kuliner bagi peserta yang mampu menjawab pertanyaan seputar bahasa dan sastra Bali.
“Inilah cara membangun semangat generasi muda, bahwa melestarikan aksara Bali bisa sejalan dengan perkembangan teknologi,” pungkas Alit Suryana. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...