Sebanyak enam lomba lintas generasi memikat perhatian pengunjung dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII, Sabtu (21/2/2026). Ragam wimbakara (lomba) yang digelar serentak sejak pukul 09.00 hingga 17.00 Wita itu bahkan membuat pengunjung kebingungan menentukan pilihan, karena seluruhnya tampil menarik dan sarat nilai edukatif.
“Bulan Bahasa Bali hari ini melaksanakan berbagai wimbakara dengan melibatkan peserta perwakilan dari kabupaten dan kota se-Bali,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, di sela-sela kegiatan.
Adapun enam lomba yang digelar bersamaan yakni Lomba Pidarta Kalangan Ratna Kanda, Ngwacén (membaca) Lontar Kalangan Angsoka, Lomba Dharma Wiwada (Debat) Kalangan Ayodya, Lomba Masatua Krama Istri Pamilet PAKIS Bali, Lomba Nyurat Aksara Bali tingkat SD di Ruang Saraséhan, serta Festival Mengetik Aksara Bali dengan keyboard di lantai bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali.
Menurut Alit Suryana, lomba Ngwacén lontar menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan membaca warisan leluhur. Lontar yang dibaca merupakan koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, bukan milik peserta. Mereka dituntut cermat dalam pemenggalan kata, ketepatan membaca aksara Bali, hingga ketuntasan waktu.
Sementara itu, Lomba Dharma Wiwada diikuti siswa SMA/SMK yang diuji kemampuannya membaca situasi kekinian berbasis sumber-sumber sastra. Ajang ini menjadi ruang pembelajaran argumentasi, mempertahankan pendapat dengan dasar sastra, sekaligus menemukan titik temu dari perbedaan pandangan.
“Perbedaan pendapat itu wajar. Dari perdebatan justru lahir pemahaman yang lebih baik dan menemukan kebenaran sesuai konteks zaman,” tegasnya.
Di areal pameran, siswa SMP antusias mengikuti lomba nyurat lontar. Pelestarian aksara dan warisan lontar dinilai penting ditanamkan sejak dini, mengingat Bali memiliki kekayaan manuskrip yang harus dijaga keberlanjutannya.
Tak kalah menarik, Lomba Darmawacana yang diikuti prajuru adat menjadi ajang melatih kemampuan memberikan wejangan dan pencerahan kepada masyarakat desa adat. Peran prajuru dinilai strategis dalam menyejukkan warga di tengah tantangan kemajuan teknologi dan dinamika sosial.
Di Gedung Ksirarnawa, lomba Masatua yang melibatkan ibu-ibu anggota PAKIS Bali turut menyemarakkan suasana. Tradisi bertutur yang dahulu lekat sebelum anak-anak tidur, kini dihidupkan kembali melalui lomba. Di balik satua tersimpan nilai etika, tata susila, dan pembentukan karakter generasi muda.
Untuk Lomba Nyurat Aksara Bali tingkat SD, peserta dinilai berdasarkan kekuwug (bentuk aksara), pasang aksara (ejaan), kerapian, kebersihan, serta ketuntasan waktu. Salah satu juri, I Wayan Gede Wisnu, menyebut kemampuan anak-anak dalam nyurat aksara terus meningkat setiap tahun, didukung pembelajaran di sekolah maupun peran penyuluh bahasa Bali di desa.
Sementara Festival Mengetik Aksara Bali dengan keyboard menjadi inovasi kreatif panitia. Selain memperkenalkan penulisan aksara Bali berbasis teknologi, festival ini juga diramaikan pembagian doorprize dan kupon kuliner bagi peserta yang mampu menjawab pertanyaan seputar bahasa dan sastra Bali.
“Inilah cara membangun semangat generasi muda, bahwa melestarikan aksara Bali bisa sejalan dengan perkembangan teknologi,” pungkas Alit Suryana. [T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...