Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Sebanyak enam lomba lintas generasi memikat perhatian pengunjung dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII, Sabtu (21/2/2026). Ragam wimbakara (lomba) yang digelar serentak sejak pukul 09.00 hingga 17.00 Wita itu bahkan membuat pengunjung kebingungan menentukan pilihan, karena seluruhnya tampil menarik dan sarat nilai edukatif.
“Bulan Bahasa Bali hari ini melaksanakan berbagai wimbakara dengan melibatkan peserta perwakilan dari kabupaten dan kota se-Bali,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, di sela-sela kegiatan.
Adapun enam lomba yang digelar bersamaan yakni Lomba Pidarta Kalangan Ratna Kanda, Ngwacén (membaca) Lontar Kalangan Angsoka, Lomba Dharma Wiwada (Debat) Kalangan Ayodya, Lomba Masatua Krama Istri Pamilet PAKIS Bali, Lomba Nyurat Aksara Bali tingkat SD di Ruang Saraséhan, serta Festival Mengetik Aksara Bali dengan keyboard di lantai bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali.


Menurut Alit Suryana, lomba Ngwacén lontar menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan membaca warisan leluhur. Lontar yang dibaca merupakan koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, bukan milik peserta. Mereka dituntut cermat dalam pemenggalan kata, ketepatan membaca aksara Bali, hingga ketuntasan waktu.
Sementara itu, Lomba Dharma Wiwada diikuti siswa SMA/SMK yang diuji kemampuannya membaca situasi kekinian berbasis sumber-sumber sastra. Ajang ini menjadi ruang pembelajaran argumentasi, mempertahankan pendapat dengan dasar sastra, sekaligus menemukan titik temu dari perbedaan pandangan.
“Perbedaan pendapat itu wajar. Dari perdebatan justru lahir pemahaman yang lebih baik dan menemukan kebenaran sesuai konteks zaman,” tegasnya.
Di areal pameran, siswa SMP antusias mengikuti lomba nyurat lontar. Pelestarian aksara dan warisan lontar dinilai penting ditanamkan sejak dini, mengingat Bali memiliki kekayaan manuskrip yang harus dijaga keberlanjutannya.


Tak kalah menarik, Lomba Darmawacana yang diikuti prajuru adat menjadi ajang melatih kemampuan memberikan wejangan dan pencerahan kepada masyarakat desa adat. Peran prajuru dinilai strategis dalam menyejukkan warga di tengah tantangan kemajuan teknologi dan dinamika sosial.
Di Gedung Ksirarnawa, lomba Masatua yang melibatkan ibu-ibu anggota PAKIS Bali turut menyemarakkan suasana. Tradisi bertutur yang dahulu lekat sebelum anak-anak tidur, kini dihidupkan kembali melalui lomba. Di balik satua tersimpan nilai etika, tata susila, dan pembentukan karakter generasi muda.
Untuk Lomba Nyurat Aksara Bali tingkat SD, peserta dinilai berdasarkan kekuwug (bentuk aksara), pasang aksara (ejaan), kerapian, kebersihan, serta ketuntasan waktu. Salah satu juri, I Wayan Gede Wisnu, menyebut kemampuan anak-anak dalam nyurat aksara terus meningkat setiap tahun, didukung pembelajaran di sekolah maupun peran penyuluh bahasa Bali di desa.
Sementara Festival Mengetik Aksara Bali dengan keyboard menjadi inovasi kreatif panitia. Selain memperkenalkan penulisan aksara Bali berbasis teknologi, festival ini juga diramaikan pembagian doorprize dan kupon kuliner bagi peserta yang mampu menjawab pertanyaan seputar bahasa dan sastra Bali.
“Inilah cara membangun semangat generasi muda, bahwa melestarikan aksara Bali bisa sejalan dengan perkembangan teknologi,” pungkas Alit Suryana. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...