Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah tulisan, tetapi harus menjelaskan tulisan tersebut dihadapan dewan juri, seperti dosen penguji di kampus. Siap ataupun tidak siap, peserta lomba harus mampu menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan juri secara tegas dan lugas. Jika ragu-ragu, maka siap-siaplah menerima pertanyaan lagi. Karena itu, jangan pernah ragu dalam mempertahankan karya tulisan itu.
“Kami sebagai dewan juri mencoba mengecek, apakah benar yang mereka tulis itu memang dibuatnya sendiri? Apakah yang diekspresikan di sini cocok atau tidak? Kalau tulisannya bagus, namun tiba-tiba tampil dengan Bahasa Bali yang kacau, maka kita bisa menilai ini masih ada intervensi dari pihak lain,” kata Dewan Juri, Prof. Dr. Putu Sutama. MS. Guru yang juga guru besar Program Studi Bahasa Bali Universitas Udayana disela-sela penilaian Opini Berbahasa Bali, Selasa 17 Pebruari 2026.

Ruang Serasehan di Taman Budaya, Provinsi Bali yang menjadi lokasi lomba tersebut memang tidak banyak orang. Selain dewan juri dan beberapa panitia, tempat duduk itu penuh dengan anak-anak muda yang mengenakan busana adat. Wajah mereka seakan dipaksakan tampil ceria, karena mungkin sedang tegang menyiapkan diri untuk mampu menjawab pertanyaan juri. Ketika nomer undinya disebut, peserta itu pun ke depan lengkap dengan materi, lalu menjelaskan karya tulisnya yang juga muncul dalam layar yang memang disiapkan sebelumnya.
Salah satu peserta yang mencoba mengutip salah satu geguritan untuk menguatkan tulisannya, mengundang berbagai pertanyaan. Peserta itu tidak hanya menjeleskan maksud dan makna dari geguritan itu, tetapi juga harus mempratekan. Artinya, peserta itu diuji kemampuannya matembang. “Tanya jawab ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi ini menjadi pelajaran buat mereka. Peserta yang nyontek geguritan, ternyata mereka tidak tahu pupuhnya, termasuk tidak tahu teksnya. Itu kan kasihan,” paparnya.
Karena itu, lanjut Prof. Putu Sutama tulisnnya mesti diuji, jangan sampai generasi ke depan ingin mempertahankan budaya, tetapi mereka hanya mencopot-copot teks saja, tanpa mengerti arti dan maknanya. Untuk menulis opini ini sebenarnya harus melakukan riset. Artinya, sebelum menyampaikan opini, penulis bisa melakukan observasi secara obyektif.
“Misal ketika mengangkat tema pelestarian Bahasa, lalu banyak yang membuat judul Bahasa Bali Sudah Hampir Mati. Itu bukan penalaran generasi muda yang cerdas. Hampir matinya bagaimana, lalu pengamatannya dimana. Mestinya, ketelitian teks, logika dan rasionalnya harus jelas. Di sinilah yang biasanya menjadi kekurangan bagi penulis generasi sekarang,” ungkapnya.

Dalam lomba ini, dewan juri hanya memetakan rasional generasi muda dari aspek bahasa. Ada salah satu peserta yang mengatakan bahasa Bali sudah mati. Ini mesti jelas. Dimananya dilihat mati. Sebab, di desa-desa Bahasa Bali masih dipakai dalam percakapan sehari-hari. “Itu pernyataan yang konyol. Mereka mesti menyampaikan melalui survew dan tidak omong kosong,” imbuhnya.
Walau demikian, Prof. Putu Sutama tetap mengapresiasi terhadap peserta yang mampu menyajikan karya tulisnya dengan waktu yang tepat. Pesertanya lumayan banyak. Ada 45 peserta yang mendaftar, namun yang akhirnya menyetor tulisan itu sekitar 32 peserta. Setelah penilaian pada babak penyisihan, tim juri kemudian merengking menjadi 10 besar yang diberikan kesempatan tanmpil memaparkan karyanya di depan dewan juri.
Tujuannya untuk mengevaluasi apakah teks yang mereka tulis itu dibuatnya sendiri atau di buatkan oleh orang lain. Sebab, sering kali lomba, seperti ditingkat SMP dan SMA itu masih dibuatkan orang lain, lalu peserta itu seperti orang “ngigelang tapel” saja. “Maka, kami sebagai juri mencoba ngecek, apakah benar yan mereka tulis dibuat sendiri, lalu diekpresiakan disini cocok tidak. Karena itu untuk melengkapi penilaian, maka kami coba menggali dengan pola pikir mereka apakah sudah tuntas apa belum,” sebutnya.

Prof. Putu Sutama mengatakan, banyak tulisan peserta yang belum tuntas. Beberapa peserta ada memanfaatkan Artificial Intelligence (AI), yang modern teknologi atau belum berdasarkan gagasan yang murni. Hal itu tampak dalam teks, dari judul, opening, body dan closing-nya yang tidak runut. “Banyak yang judulnya berbunga-bunga, tetapi datanya masih lemah dan terkesan nyontek. Walau demikian, mereka sudah mau menulis dan mau tampil saja, kita sudah senang,” ucapnya mengapresiasi. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...