Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah tulisan, tetapi harus menjelaskan tulisan tersebut dihadapan dewan juri, seperti dosen penguji di kampus. Siap ataupun tidak siap, peserta lomba harus mampu menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan juri secara tegas dan lugas. Jika ragu-ragu, maka siap-siaplah menerima pertanyaan lagi. Karena itu, jangan pernah ragu dalam mempertahankan karya tulisan itu.
“Kami sebagai dewan juri mencoba mengecek, apakah benar yang mereka tulis itu memang dibuatnya sendiri? Apakah yang diekspresikan di sini cocok atau tidak? Kalau tulisannya bagus, namun tiba-tiba tampil dengan Bahasa Bali yang kacau, maka kita bisa menilai ini masih ada intervensi dari pihak lain,” kata Dewan Juri, Prof. Dr. Putu Sutama. MS. Guru yang juga guru besar Program Studi Bahasa Bali Universitas Udayana disela-sela penilaian Opini Berbahasa Bali, Selasa 17 Pebruari 2026.

Ruang Serasehan di Taman Budaya, Provinsi Bali yang menjadi lokasi lomba tersebut memang tidak banyak orang. Selain dewan juri dan beberapa panitia, tempat duduk itu penuh dengan anak-anak muda yang mengenakan busana adat. Wajah mereka seakan dipaksakan tampil ceria, karena mungkin sedang tegang menyiapkan diri untuk mampu menjawab pertanyaan juri. Ketika nomer undinya disebut, peserta itu pun ke depan lengkap dengan materi, lalu menjelaskan karya tulisnya yang juga muncul dalam layar yang memang disiapkan sebelumnya.
Salah satu peserta yang mencoba mengutip salah satu geguritan untuk menguatkan tulisannya, mengundang berbagai pertanyaan. Peserta itu tidak hanya menjeleskan maksud dan makna dari geguritan itu, tetapi juga harus mempratekan. Artinya, peserta itu diuji kemampuannya matembang. “Tanya jawab ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi ini menjadi pelajaran buat mereka. Peserta yang nyontek geguritan, ternyata mereka tidak tahu pupuhnya, termasuk tidak tahu teksnya. Itu kan kasihan,” paparnya.
Karena itu, lanjut Prof. Putu Sutama tulisnnya mesti diuji, jangan sampai generasi ke depan ingin mempertahankan budaya, tetapi mereka hanya mencopot-copot teks saja, tanpa mengerti arti dan maknanya. Untuk menulis opini ini sebenarnya harus melakukan riset. Artinya, sebelum menyampaikan opini, penulis bisa melakukan observasi secara obyektif.
“Misal ketika mengangkat tema pelestarian Bahasa, lalu banyak yang membuat judul Bahasa Bali Sudah Hampir Mati. Itu bukan penalaran generasi muda yang cerdas. Hampir matinya bagaimana, lalu pengamatannya dimana. Mestinya, ketelitian teks, logika dan rasionalnya harus jelas. Di sinilah yang biasanya menjadi kekurangan bagi penulis generasi sekarang,” ungkapnya.

Dalam lomba ini, dewan juri hanya memetakan rasional generasi muda dari aspek bahasa. Ada salah satu peserta yang mengatakan bahasa Bali sudah mati. Ini mesti jelas. Dimananya dilihat mati. Sebab, di desa-desa Bahasa Bali masih dipakai dalam percakapan sehari-hari. “Itu pernyataan yang konyol. Mereka mesti menyampaikan melalui survew dan tidak omong kosong,” imbuhnya.
Walau demikian, Prof. Putu Sutama tetap mengapresiasi terhadap peserta yang mampu menyajikan karya tulisnya dengan waktu yang tepat. Pesertanya lumayan banyak. Ada 45 peserta yang mendaftar, namun yang akhirnya menyetor tulisan itu sekitar 32 peserta. Setelah penilaian pada babak penyisihan, tim juri kemudian merengking menjadi 10 besar yang diberikan kesempatan tanmpil memaparkan karyanya di depan dewan juri.
Tujuannya untuk mengevaluasi apakah teks yang mereka tulis itu dibuatnya sendiri atau di buatkan oleh orang lain. Sebab, sering kali lomba, seperti ditingkat SMP dan SMA itu masih dibuatkan orang lain, lalu peserta itu seperti orang “ngigelang tapel” saja. “Maka, kami sebagai juri mencoba ngecek, apakah benar yan mereka tulis dibuat sendiri, lalu diekpresiakan disini cocok tidak. Karena itu untuk melengkapi penilaian, maka kami coba menggali dengan pola pikir mereka apakah sudah tuntas apa belum,” sebutnya.

Prof. Putu Sutama mengatakan, banyak tulisan peserta yang belum tuntas. Beberapa peserta ada memanfaatkan Artificial Intelligence (AI), yang modern teknologi atau belum berdasarkan gagasan yang murni. Hal itu tampak dalam teks, dari judul, opening, body dan closing-nya yang tidak runut. “Banyak yang judulnya berbunga-bunga, tetapi datanya masih lemah dan terkesan nyontek. Walau demikian, mereka sudah mau menulis dan mau tampil saja, kita sudah senang,” ucapnya mengapresiasi. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
SAMPAI saat ini, sampai saat menulis esai ini, saya masih membuat cerita pendek atau cerita panjang yang dimulai dengan judul. Mungkin belum berubah, karena agak berlebihan jika sa...
APA yang kalian pikirkan setelah mendengar kata perempuan? Lemah? Cengeng? Orang yang membuat lelaki selalu merasa susah? Penakut? Manja? Atau kalian punya pikiran lain tentang per...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) tentu berkesan bagi semua mahasiswa yang mengikutinya. Bagi mahasiswa dari kampus pendidikan Hindu, seperti Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), tentu juga...
BAPAK Nyoman Serengen (almarhum), seorang guru meditasi dan pendiri Perguruan Tenaga Dalam Bambu Kuning, suatu hari bertutur bahwa YOGA dan UGA berakar dari akar kata yang sama. Ke...
PADA 18 Agustus 2016, saya berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh Mutiara Harapan Islamic School, Tangerang. Seminar ini terasa istimewa bagi saya karena bertepatan den...
BELAKANGAN ada sebuah fenomena baru muncul di Buleleng. Yaitu, munculnya berbagai festival di berbagai tempat. Seperti wabah, seperti virus menular, festival terus muncul sambung-m...
KETIKA dramawan Putu Satria Kusuma dengan penuh semangat melakukan transformasi atau alihwahana novel “Sukreni Gadis Bali” ke dalam bentuk drama gong, saya termasuk orang yang sang...
HALO MAHASISA! Sudahkah wisuda tahun ini? Kalau belum, dengan segala rasa iba dan duka yang teramat sangat dari lubuk hati yang paling dalam, saya sarankan tak usah melanjutkan mem...
PERAWAKANNYA tinggi besar dan tentu saja tampak luar ia 100% bule. Namun siapa sangka ketika mulai bercakap tata bahasa alus singgih-nya jauh lebih baik dari saya sendiri yang lahi...