Jika Film Horor Indonesia Seperti “Bokep” – Bukan Salah Setan!
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
Baris pertama,
entah sudah kutulis untukmu
tentang singgah pertemuan
dan dekap hangat mata rayumu
lekat rindu seakan menjadi teman
Baris kedua,
Pertama kali senyum teduh menyapa
menyibak angin-angin panas diriku
dan sesekali kulihat gurat tipis di pipimu
Baris ketiga,
Entah akan menjadi apa kekal redup hati ini
meyakinkan teguh semu rapuh ragumu
yang selalu setia pada tanya
lantas menjalar saban hari
maka, akankah ia
menjadi serbuk rayu kasih
atau
menjadi genangan-genangan suram?
Denpasar, Juli 2023
Pada akhirnya kita, tak lagi saling menyapa
Sunyi merambat perlahan,
menyelimuti ruang di antara napas dan ingatan,
ingin tak lagi tersisa, namun bayangmu tetap menjejak
Kenangan-kenangan itu masih berpendar,
lekat pada setiap sudut kota ini
Pada bangku taman, pada jejak kaki di pasir pantai,
pada hujan yang dulu jatuh bersamaan dengan tawa
Malam pun datang,
bayangan menari di antara cahaya lampu redup
Aku mencoba melupa, tapi setiap hembusan angin
masih membawa bisik namamu yang tak kupanggil
Denpasar, Oktober 2025
Untuk yang terakhir,
ijinkan aku, sekali saja,
menyalakan lilin kecil
di tengah sunyi kasih dan bahagiamu
Pada dingin malam,
hujan pun datang perlahan,
menyulam rintik menjadi lagu
yang menari di pelupuk mata kita
Maka setelahnya,
biarlah aku menjadi bayang
yang menepi di belakang cahaya
seperti embun di kelopak doa yang tak sempat menguap
Waktu mengalir tanpa jejak
membawamu ke pusara lain,
tempat tangan hangat menjemputmu,
sementara aku, hanya menitip restu di pundakmu
Denpasar, 14 November 2025
.
Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole
APA yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata “horor”? Hmm, hantu atau setan? Ya, bisa jadi. Kepanikan, ketakutan, atau terror? Ya, bisa jadi. Secangkir Kopi Vietnam? H...
MEMBACA buku sejarah adalah membaca penafsiran-penafsiran. Membaca buku sejarah adalah membaca kejadian masa lampau yang hanya mungkin ditilik kembali dengan membangun serpihan-ser...
Cerpen: I Putu Agus Phebi Rosadi DI ruang tamu, tiga orang interogator telah duduk di depanku. Matanya tajam. Seperti ingin mencengkram leherku. “Tuan-tuan. Jangan memandang seper...
DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerp...
POLEMIK drama gong tampaknya terus berlanjut, dan tentu saja akan bagus jika polemik itu terus berlanjut sampai seni pertunjukan itu benar-benar lahir kembali dan hidup. Jika ada “...
TIDAK ada yang bisa membantah jika saya penggemar sejati film-film Warkop DKI – Dono, Kasino, Indro. Jauh-jauh dari Bali Barat saya melesat ke Denpasar ketika film Warkop DKI Rebor...
ANAKMU bukanlah anakmu, mereka adalah anak zaman. Tak ada hak bagi orangtua untuk mengungkung jiwa mereka, kendatipun rumah disiapkan buat raga mereka. Paling tidak, itulah pendapa...
SEBUAH ruang, satu tempat, sebuah wilayah, bagi manusia Bali, bisa diartikan sebuah arsitektur yang unik dan otentik. Dalam ruang itu orang Bali melakukan aktivitas, bergumul sehar...
SETIAP orang pasti pernah merasakan takut, tidak peduli tua atau muda. Rasa takut adalah salah satu emosi dasar sama seperti bahagia, sedih, marah dan sejenisnya. Menurut Kamus Bes...
LELAKI ABSTRAK Pada hamparan kanvasmu balon-balon meletus menjadi wara-warni pelangi gugusan mega awan pudar langit terhimpit mendung ditimpa matahari siluet senja halim...