Wayan Jengki Sunarta# Teluk Benoa, Malam Mabuk di Ubud
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali (BBB) VIII Tahun 2026 tinggal dua minggu lagi. Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, memastikan seluruh persiapan festival budaya tahunan ini berjalan optimal dan semakin berkualitas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Hal tersebut disampaikannya saat memimpin Rapat Pleno di Ruang Widya Sabha, Gedung Unit 2 Lantai 3, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Selasa (20/1/2026). Menurutnya, tujuh kali pengalaman penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali menjadi modal penting untuk memperbaiki setiap kekurangan yang pernah ada.
“Kita sudah tujuh kali melaksanakan Bulan Bahasa Bali. Dari pengalaman itu, pelaksanaan ke-8 ini harus jauh lebih baik. Jangan mengulangi kekurangan yang pernah dirasakan masyarakat,” tegas Dewa Made Indra.
Sekda menekankan bahwa masyarakat adalah “pengguna utama” kegiatan ini, sehingga kenyamanan, kebersihan, dan ketertiban wajib menjadi prioritas. Ia meminta panitia menyiapkan lokasi utama di Gedung Ksirarnawa dengan serius, mulai dari perbaikan kursi, kebersihan ruangan dan toilet, hingga pengecekan listrik dan atap bangunan, mengingat pelaksanaan berlangsung di musim hujan.
Selain itu, pengelolaan sampah juga menjadi perhatian khusus. Pedagang diminta bertanggung jawab atas sampah dagangannya, sementara peserta dan pengunjung diimbau membawa tumbler guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Petugas kebersihan pun harus aktif berkeliling menjaga kebersihan area acara.
Dalam hal informasi kegiatan, Sekda mengingatkan panitia agar tidak hanya mengandalkan pemasangan baliho, tetapi juga aktif menyebarkan jadwal dan materi acara melalui media sosial agar mudah diakses generasi muda. Pengaturan lalu lintas dan parkir juga harus disiapkan sejak awal dengan koordinasi bersama Dinas Perhubungan dan kepolisian agar tidak menimbulkan kemacetan maupun keluhan masyarakat.
Ia juga menegaskan pentingnya ketepatan waktu penampilan peserta dan pengisi acara. Koordinasi harus dilakukan lebih awal agar tidak terjadi keterlambatan. Dari sisi etika, seluruh peserta diingatkan mengenakan busana yang sopan, rapi, serta mencerminkan nilai estetika dan etika budaya Bali. Terkait jaringan internet, Sekda meminta Diskominfos Bali berkoordinasi sejak dini dengan pihak terkait agar tidak terjadi kendala teknis saat pelaksanaan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, melaporkan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 mengusung tema “Atma Kerthi, Udiana Purnaning Jiwa”, yang bermakna Bulan Bahasa Bali sebagai altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sebagai taman pembangun jiwa yang mahasempurna.
Bulan Bahasa Bali VIII akan berlangsung selama sebulan penuh, dari 1 hingga 28 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan implementasi Perda Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang pelindungan dan penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
Tahun ini, maskot yang diangkat adalah kupu-kupu, yang melambangkan transformasi siklus kehidupan. Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali VIII dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat desa, kelurahan, dan desa adat se-Bali, tingkat kabupaten/kota, lembaga pendidikan, hingga tingkat provinsi yang dipusatkan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali.
Rangkaian kegiatan meliputi Utsawa (festival), Wimbakara (lomba), Sasolahan (panggung apresiasi sastra), Widyatula (seminar), Kriyaloka (workshop), Rekaaksara (pameran), Malajah Sambilang Maplalianan (ruang belajar ramah anak), Paguneman Pangawi Bali (diskusi sastra), Raksa Pustaka (konservasi lontar), hingga Bali Kerthi Nugraha Mahottama.
Pada pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII, akan digelar festival penulisan Aksara Bali pada berbagai media, seperti batu, tembaga, lontar, kertas, kanvas, hingga transformasi ke media kreatif dan digital. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole
TELUK BENOA -kepada investor serakah- jika suatu saat aku mati aku tak perlu kuburan bakar mayatku dan tebar abuku di laut tempat aku bisa bercanda dengan ikan-ikan...
SAMPAI saat ini, sampai saat menulis esai ini, saya masih membuat cerita pendek atau cerita panjang yang dimulai dengan judul. Mungkin belum berubah, karena agak berlebihan jika sa...
APA yang kalian pikirkan setelah mendengar kata perempuan? Lemah? Cengeng? Orang yang membuat lelaki selalu merasa susah? Penakut? Manja? Atau kalian punya pikiran lain tentang per...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) tentu berkesan bagi semua mahasiswa yang mengikutinya. Bagi mahasiswa dari kampus pendidikan Hindu, seperti Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), tentu juga...
BAPAK Nyoman Serengen (almarhum), seorang guru meditasi dan pendiri Perguruan Tenaga Dalam Bambu Kuning, suatu hari bertutur bahwa YOGA dan UGA berakar dari akar kata yang sama. Ke...
PADA 18 Agustus 2016, saya berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh Mutiara Harapan Islamic School, Tangerang. Seminar ini terasa istimewa bagi saya karena bertepatan den...
BELAKANGAN ada sebuah fenomena baru muncul di Buleleng. Yaitu, munculnya berbagai festival di berbagai tempat. Seperti wabah, seperti virus menular, festival terus muncul sambung-m...
KETIKA dramawan Putu Satria Kusuma dengan penuh semangat melakukan transformasi atau alihwahana novel “Sukreni Gadis Bali” ke dalam bentuk drama gong, saya termasuk orang yang sang...
HALO MAHASISA! Sudahkah wisuda tahun ini? Kalau belum, dengan segala rasa iba dan duka yang teramat sangat dari lubuk hati yang paling dalam, saya sarankan tak usah melanjutkan mem...
PERAWAKANNYA tinggi besar dan tentu saja tampak luar ia 100% bule. Namun siapa sangka ketika mulai bercakap tata bahasa alus singgih-nya jauh lebih baik dari saya sendiri yang lahi...