Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
SIWARATRI sejatinya adalah malam perenungan suci. Ia bukan sekadar penanda kalender ritual, melainkan momentum spiritual yang mengajak umat Hindu—terutama generasi muda dan kaum terpelajar—untuk kembali menata batin, mengendalikan diri, dan memperdalam keimanan. Namun dewasa ini, muncul kegelisahan bersama: jangan sampai pelaksanaan Siwaratri terjebak pada seremoni belaka, kehilangan makna, bahkan terkesan “campah”.
Dalam tradisi Hindu, Siwaratri dimaknai sebagai malam kesadaran. Kesadaran akan keterbatasan manusia, keberanian mengakui kekeliruan diri, serta tekad untuk menapaki jalan dharma secara lebih jujur dan bertanggung jawab. Laku utama Siwaratri—monabrata, upawasa, dan jagra—bukanlah ritual kosong, melainkan sarana pendisiplinan batin agar manusia mampu menundukkan hawa nafsu dan ego yang kerap menyesatkan.
Lebih jauh, Siwaratri merupakan momentum penting untuk menumbuhkan dan memperkuat sifat satwam dalam diri manusia. Dalam ajaran Hindu, satwam melambangkan kemurnian, kejernihan batin, kebijaksanaan, dan kecenderungan pada kebenaran. Melalui laku Siwaratri, umat Hindu didorong untuk meningkatkan sāttwika jñāna—pengetahuan yang lahir dari kesadaran murni, tidak dikaburkan oleh nafsu (rajas) maupun kemalasan batin (tamas). Inilah pengetahuan yang tidak hanya membuat manusia pandai, tetapi juga bijaksana dalam bersikap dan bertindak.
Di tengah kekhawatiran akan reduksi makna Siwaratri, patut diapresiasi bahwa banyak kelompok generasi muda, khususnya melalui wadah sekaa teruna, telah berinisiatif melaksanakan Siwaratri di berbagai tempat, terutama di pura-pura. Inisiatif ini menunjukkan bahwa benih śraddhā masih tumbuh subur di kalangan generasi muda. Kehadiran mereka di ruang-ruang suci pada malam Siwaratri merupakan modal spiritual dan sosial yang sangat berharga.
Justru di sinilah letak tanggung jawab bersama. Keterlibatan sekaa teruna dalam Siwaratri mesti diarahkan sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan śraddhā dan bhakti, memperdalam pemahaman filosofi Siwaratri, serta merajut perilaku baik yang berlandaskan sifat satwam. Siwaratri seharusnya tidak berhenti pada kehadiran fisik di pura, melainkan berlanjut pada transformasi batin yang tercermin dalam sikap hidup sehari-hari: jujur, rendah hati, santun, dan bertanggung jawab.
Generasi muda, terlebih kaum terpelajar, memikul tanggung jawab moral yang lebih besar. Dengan bekal ilmu dan nalar kritis, mereka diharapkan mampu menjadikan Siwaratri sebagai ruang refleksi eksistensial: sejauh mana ilmu yang dipelajari telah memperhalus budi pekerti dan memperkuat sāttwika jñāna. Ilmu pengetahuan sejatinya tidak berdiri berseberangan dengan iman; justru ilmu yang sejati akan bermuara pada kebijaksanaan dan kesadaran etis.
Momentum Siwaratri juga sangat relevan sebagai wahana pendidikan karakter. Bukan melalui simbolisme berlebihan atau keramaian semu, melainkan melalui pembiasaan sikap satwika: menahan diri dari ujaran kasar, menjauhi perilaku destruktif, serta menata pikiran agar senantiasa jernih dan berorientasi pada kebaikan. Dari sinilah perubahan perilaku yang autentik dapat tumbuh—perlahan, namun berakar kuat.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, kompetisi, dan ambisi, Siwaratri menghadirkan ruang hening yang menyejukkan. Ruang inilah yang memungkinkan umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk membersihkan lapisan-lapisan batin yang keruh dan menumbuhkan kembali cahaya satwam dalam dirinya.
Oleh karena itu, peran keluarga, lembaga pendidikan, desa adat, serta para sulinggih dan tokoh masyarakat menjadi sangat penting. Generasi muda tidak cukup hanya dihadirkan dalam pelaksanaan Siwaratri, tetapi perlu didampingi dan dituntun agar malam perenungan ini benar-benar menjadi sarana peningkatan iman, pemurnian kesadaran, dan penguatan sāttwika jñāna.
Siwaratri bukan panggung keramaian, melainkan ruang kesadaran. Bukan ajang eksistensi, melainkan jalan sunyi menuju kemurnian batin. Ketika generasi muda—melalui sekaa teruna dan komunitasnya—mampu memaknai Siwaratri secara utuh, maka dari malam suci itulah akan lahir insan-insan yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga bening hatinya, luhur perilakunya, dan kuat śraddhā-nya. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...