Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
SIWARATRI sejatinya adalah malam perenungan suci. Ia bukan sekadar penanda kalender ritual, melainkan momentum spiritual yang mengajak umat Hindu—terutama generasi muda dan kaum terpelajar—untuk kembali menata batin, mengendalikan diri, dan memperdalam keimanan. Namun dewasa ini, muncul kegelisahan bersama: jangan sampai pelaksanaan Siwaratri terjebak pada seremoni belaka, kehilangan makna, bahkan terkesan “campah”.
Dalam tradisi Hindu, Siwaratri dimaknai sebagai malam kesadaran. Kesadaran akan keterbatasan manusia, keberanian mengakui kekeliruan diri, serta tekad untuk menapaki jalan dharma secara lebih jujur dan bertanggung jawab. Laku utama Siwaratri—monabrata, upawasa, dan jagra—bukanlah ritual kosong, melainkan sarana pendisiplinan batin agar manusia mampu menundukkan hawa nafsu dan ego yang kerap menyesatkan.
Lebih jauh, Siwaratri merupakan momentum penting untuk menumbuhkan dan memperkuat sifat satwam dalam diri manusia. Dalam ajaran Hindu, satwam melambangkan kemurnian, kejernihan batin, kebijaksanaan, dan kecenderungan pada kebenaran. Melalui laku Siwaratri, umat Hindu didorong untuk meningkatkan sāttwika jñāna—pengetahuan yang lahir dari kesadaran murni, tidak dikaburkan oleh nafsu (rajas) maupun kemalasan batin (tamas). Inilah pengetahuan yang tidak hanya membuat manusia pandai, tetapi juga bijaksana dalam bersikap dan bertindak.
Di tengah kekhawatiran akan reduksi makna Siwaratri, patut diapresiasi bahwa banyak kelompok generasi muda, khususnya melalui wadah sekaa teruna, telah berinisiatif melaksanakan Siwaratri di berbagai tempat, terutama di pura-pura. Inisiatif ini menunjukkan bahwa benih śraddhā masih tumbuh subur di kalangan generasi muda. Kehadiran mereka di ruang-ruang suci pada malam Siwaratri merupakan modal spiritual dan sosial yang sangat berharga.
Justru di sinilah letak tanggung jawab bersama. Keterlibatan sekaa teruna dalam Siwaratri mesti diarahkan sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan śraddhā dan bhakti, memperdalam pemahaman filosofi Siwaratri, serta merajut perilaku baik yang berlandaskan sifat satwam. Siwaratri seharusnya tidak berhenti pada kehadiran fisik di pura, melainkan berlanjut pada transformasi batin yang tercermin dalam sikap hidup sehari-hari: jujur, rendah hati, santun, dan bertanggung jawab.
Generasi muda, terlebih kaum terpelajar, memikul tanggung jawab moral yang lebih besar. Dengan bekal ilmu dan nalar kritis, mereka diharapkan mampu menjadikan Siwaratri sebagai ruang refleksi eksistensial: sejauh mana ilmu yang dipelajari telah memperhalus budi pekerti dan memperkuat sāttwika jñāna. Ilmu pengetahuan sejatinya tidak berdiri berseberangan dengan iman; justru ilmu yang sejati akan bermuara pada kebijaksanaan dan kesadaran etis.
Momentum Siwaratri juga sangat relevan sebagai wahana pendidikan karakter. Bukan melalui simbolisme berlebihan atau keramaian semu, melainkan melalui pembiasaan sikap satwika: menahan diri dari ujaran kasar, menjauhi perilaku destruktif, serta menata pikiran agar senantiasa jernih dan berorientasi pada kebaikan. Dari sinilah perubahan perilaku yang autentik dapat tumbuh—perlahan, namun berakar kuat.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, kompetisi, dan ambisi, Siwaratri menghadirkan ruang hening yang menyejukkan. Ruang inilah yang memungkinkan umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk membersihkan lapisan-lapisan batin yang keruh dan menumbuhkan kembali cahaya satwam dalam dirinya.
Oleh karena itu, peran keluarga, lembaga pendidikan, desa adat, serta para sulinggih dan tokoh masyarakat menjadi sangat penting. Generasi muda tidak cukup hanya dihadirkan dalam pelaksanaan Siwaratri, tetapi perlu didampingi dan dituntun agar malam perenungan ini benar-benar menjadi sarana peningkatan iman, pemurnian kesadaran, dan penguatan sāttwika jñāna.
Siwaratri bukan panggung keramaian, melainkan ruang kesadaran. Bukan ajang eksistensi, melainkan jalan sunyi menuju kemurnian batin. Ketika generasi muda—melalui sekaa teruna dan komunitasnya—mampu memaknai Siwaratri secara utuh, maka dari malam suci itulah akan lahir insan-insan yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga bening hatinya, luhur perilakunya, dan kuat śraddhā-nya. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...