Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
SIWARATRI sejatinya adalah malam perenungan suci. Ia bukan sekadar penanda kalender ritual, melainkan momentum spiritual yang mengajak umat Hindu—terutama generasi muda dan kaum terpelajar—untuk kembali menata batin, mengendalikan diri, dan memperdalam keimanan. Namun dewasa ini, muncul kegelisahan bersama: jangan sampai pelaksanaan Siwaratri terjebak pada seremoni belaka, kehilangan makna, bahkan terkesan “campah”.
Dalam tradisi Hindu, Siwaratri dimaknai sebagai malam kesadaran. Kesadaran akan keterbatasan manusia, keberanian mengakui kekeliruan diri, serta tekad untuk menapaki jalan dharma secara lebih jujur dan bertanggung jawab. Laku utama Siwaratri—monabrata, upawasa, dan jagra—bukanlah ritual kosong, melainkan sarana pendisiplinan batin agar manusia mampu menundukkan hawa nafsu dan ego yang kerap menyesatkan.
Lebih jauh, Siwaratri merupakan momentum penting untuk menumbuhkan dan memperkuat sifat satwam dalam diri manusia. Dalam ajaran Hindu, satwam melambangkan kemurnian, kejernihan batin, kebijaksanaan, dan kecenderungan pada kebenaran. Melalui laku Siwaratri, umat Hindu didorong untuk meningkatkan sāttwika jñāna—pengetahuan yang lahir dari kesadaran murni, tidak dikaburkan oleh nafsu (rajas) maupun kemalasan batin (tamas). Inilah pengetahuan yang tidak hanya membuat manusia pandai, tetapi juga bijaksana dalam bersikap dan bertindak.
Di tengah kekhawatiran akan reduksi makna Siwaratri, patut diapresiasi bahwa banyak kelompok generasi muda, khususnya melalui wadah sekaa teruna, telah berinisiatif melaksanakan Siwaratri di berbagai tempat, terutama di pura-pura. Inisiatif ini menunjukkan bahwa benih śraddhā masih tumbuh subur di kalangan generasi muda. Kehadiran mereka di ruang-ruang suci pada malam Siwaratri merupakan modal spiritual dan sosial yang sangat berharga.
Justru di sinilah letak tanggung jawab bersama. Keterlibatan sekaa teruna dalam Siwaratri mesti diarahkan sebagai kesempatan emas untuk meningkatkan śraddhā dan bhakti, memperdalam pemahaman filosofi Siwaratri, serta merajut perilaku baik yang berlandaskan sifat satwam. Siwaratri seharusnya tidak berhenti pada kehadiran fisik di pura, melainkan berlanjut pada transformasi batin yang tercermin dalam sikap hidup sehari-hari: jujur, rendah hati, santun, dan bertanggung jawab.
Generasi muda, terlebih kaum terpelajar, memikul tanggung jawab moral yang lebih besar. Dengan bekal ilmu dan nalar kritis, mereka diharapkan mampu menjadikan Siwaratri sebagai ruang refleksi eksistensial: sejauh mana ilmu yang dipelajari telah memperhalus budi pekerti dan memperkuat sāttwika jñāna. Ilmu pengetahuan sejatinya tidak berdiri berseberangan dengan iman; justru ilmu yang sejati akan bermuara pada kebijaksanaan dan kesadaran etis.
Momentum Siwaratri juga sangat relevan sebagai wahana pendidikan karakter. Bukan melalui simbolisme berlebihan atau keramaian semu, melainkan melalui pembiasaan sikap satwika: menahan diri dari ujaran kasar, menjauhi perilaku destruktif, serta menata pikiran agar senantiasa jernih dan berorientasi pada kebaikan. Dari sinilah perubahan perilaku yang autentik dapat tumbuh—perlahan, namun berakar kuat.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, kompetisi, dan ambisi, Siwaratri menghadirkan ruang hening yang menyejukkan. Ruang inilah yang memungkinkan umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk membersihkan lapisan-lapisan batin yang keruh dan menumbuhkan kembali cahaya satwam dalam dirinya.
Oleh karena itu, peran keluarga, lembaga pendidikan, desa adat, serta para sulinggih dan tokoh masyarakat menjadi sangat penting. Generasi muda tidak cukup hanya dihadirkan dalam pelaksanaan Siwaratri, tetapi perlu didampingi dan dituntun agar malam perenungan ini benar-benar menjadi sarana peningkatan iman, pemurnian kesadaran, dan penguatan sāttwika jñāna.
Siwaratri bukan panggung keramaian, melainkan ruang kesadaran. Bukan ajang eksistensi, melainkan jalan sunyi menuju kemurnian batin. Ketika generasi muda—melalui sekaa teruna dan komunitasnya—mampu memaknai Siwaratri secara utuh, maka dari malam suci itulah akan lahir insan-insan yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga bening hatinya, luhur perilakunya, dan kuat śraddhā-nya. [T]
Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...