Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
"Father" karya Peter, Sue, and Marc, sebuah lagu pop yang mampu menggugah emosi terdalam kita. Meski telah berusia puluhan tahun, dirilis pada 1976, lagu "Father" tetap relevan hingga saat ini karena ia menyentuh salah satu kerinduan paling mendasar manusia: keinginan untuk merasa terhubung dengan akar masa lalunya yang hilang. Dan lagu ini seakan berfungsi sebagai 'jembatan visual' bagi seorang anak untuk mengonstruksi identitas orang tua yang tidak pernah ia temui.
Peter, Sue and Marc adalah grup musik Swiss dari Bern, terdiri dari Peter Reber (vokal, piano, gitar), Sue Schell (vokal), dan Marc Dietrich (vokal, gitar). Trio ini terbentuk pada tahun 1968.
Karier mereka dengan cepat berkembang setelah meraih ketenaran internasional dari Kontes Lagu Eurovision 1971. Kesuksesan itu meluncurkan karier panjang mereka di era 1970-an, menghasilkan beberapa lagu hit seperti "Cindy" dan "Birds of Paradise," yang dikemas dalam sejumlah album sukses.
Trio Peter, Sue and Marc memiliki keunikan tersendiri karena mereka merekam dan menampilkan lagu dalam empat bahasa berbeda (Inggris, Prancis, Jerman, Italia) yang membantu mereka meraih popularitas internasional, terutama di negara-negara Eropa yang beragam bahasa, selain fasih membawakan genre pop dan schlager, yakni jenis musik populer Jerman.
Mereka dikenal karena kemampuannya dalam menciptakan harmoni vokal yang indah, manis dan kaya penghayatan. Kekuatan inilah yang mereka tuangkan dengan sempurna dalam lagu "Father", mengubah sebuah lagu pop menjadi renungan personal yang menyentuh.
Parfume, roses, apple pie / Make me sad I don't know why / May be it's when they're around / I feel she'd never die / Never die?
Dalam lagu "Father", suara dan penghayatan mereka mampu memberi energi yang hidup pada lagu yang menyiratkan pertanyaan eksistensial dan pilu tentang kebahagiaan, kematian maupun kerinduan seorang anak yang ingin mengenal wajah ibunya yang belum pernah dilihatnya. Wajah yang ingin dilihatnya melalui gambaran dan kenangan ayahnya: "Oh Father, tell me. Was she pretty? In all my children's dream. She looks like a queen".
Dan lirik "Parfume, roses, apple pie", aroma-aroma yang biasanya identik dengan sosok ibu dan rumah itu, memperkuat kesan "ketiadaan", di mana sang anak tidak punya ingatan visual, tapi ia merasakan "kehadiran" ibunya lewat aroma yang tak sengaja ia temui di sekitarnya
Getaran lagu ini kuat bukan hanya karena nostalgianya tapi juga karena liriknya yang peka. Lagu ini mampu menggambarkan bahwa seringkali seorang anak baru benar-benar memahami kedalaman kasih sayang ayahnya ketika ia mulai menyadari bahwa di balik ketangguhan sang ayah, terdapat luka kehilangan yang dipikul sendirian demi menjaga senyum anaknya tetap tumbuh.
Mendengarkan "Father" membuktikan bahwa kekuatan lagu pop era 70-an terletak pada kemampuannya mengemas kompleksitas perasaan dalam struktur yang mudah diakses. Melodi yang kuat dan frasa yang mudah diingat ("earworm") bukan sekadar alat komersial, melainkan jembatan yang efektif untuk menyampaikan renungan mendalam tentang nostalgia dan kerinduan, sebagaimana dilakukan lagu ini.
Dan akhirnya, “Father” berdiri sebagai nyanyian kecil tentang kehilangan yang tak pernah benar-benar selesai. Ia tidak berteriak, tidak pula meratap berlebihan, melainkan berjalan perlahan di antara kenangan, membiarkan cinta dan duka saling menyapa dengan tenang. Dalam lagu ini, masa lalu tidak hadir sebagai luka, melainkan sebagai cahaya lembut yang membimbing, menjadi 'jembatan visual' yang bukan lagi sekadar untuk membayangkan wajah sang ibu, tapi untuk merasakan arti kehadiran, meski melalui ketiadaan.
Di sanalah kekuatan sejati “Father” berdiam: ia mengingatkan kita bahwa musik mampu menjaga sesuatu tetap hidup, bahkan ketika wajah telah hilang dan waktu terus bergerak maju. Sebuah lagu sederhana, namun dengan gema yang panjang, seperti kasih seorang ayah, yang sering tak diucapkan, tetapi selalu ada. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...